Desa Sahan; Buah Menjaga Hutan Adat Pangajid, Dikunjungi Tiga Guru Besar, jadi Pusat Penelitian Tengkawang

Desa Sahan; Buah Menjaga Hutan Adat Pangajid, Dikunjungi Tiga Guru Besar, jadi Pusat Penelitian Tengkawang

  Jumat, 12 February 2016 08:03
GURU BESAR: Tiga guru besar saat berkunjung ke hutan adat Pangajid, Sabtu pekan lalu.ISTIMEWA

Hutan Adat Pangajid di Desa Sahan, Kecamatan Seluas, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat mampu menarik minat para peneliti untuk melihat dan melakukan penelitian. Bahkan Sabtu pekan lalu sempat dikunjungi tiga guru besar.   IDIL AQSA AKBARY, Bengkayang

KETIGA guru besar tersebut di antaranya, Rektor Universitas Tanjungpura Thamrin Usman, Dekan Fakultas Kehutanan Untan Gusti Hardiansyah dan yang spesial yakni guru besar dari Universitas Toulouse Francis yaitu Zephirin Mouloungul.Kunjungan ini bertujuan untuk melihat potensi desa dan hutan adat di Desa Sahan tersebut. Di hutan adat Pangajid dengan luas sekitar 200 hektare ini diketahui memiliki tumbuh-tumbuhan langka khas Kalbar seperti tengkawang, gaharu, meranti, nau, resak, berbagai jenis anggrek, dan lain-lain.

Rektor Universitas Tanjungpura Thamrin Usman mengatakan kunjungan ini merupakan awal dari kepedulian Untan kepada masyarakat yang telah berjuang mempertahankan kawasan hutan. “Masyarakat Dusun Malayang telah berjuang mempertahankan kawasan hutanya yang sangat potensi secara ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Menurutnya, sejak dahulu pohon tengkawang selalu ditebang oleh masyarakat. Maka mulai sekarang jangan sampai terjadi demikian, karena buah pohon tengkawang bisa dimanfaatkan menjadi berbagai jenis produk seperti kosmetik, obat-obatan, makanan, mentega dan lain-lain.

Dia menjelaskan, kedatangannya bersama peneliti senior dari salah satu universitas di Francis ini tidak lain untuk melihat potensi tengkawang di kawasan Desa Sahan. “Zephirin Moulogul telah membuat varian produk dari mentega tengkawang yang dibuat masyarakat Desa sahan menjadi komestik. Yang nantinya akan meningkatkan harga buah tengkawang, sehingga pohon-pohon tengkawang di Kalbar tidak ditebangi lagi,” kata Thamrin.

Sementara itu, Warga Desa Sahan Damianus Nadu yang sudah puluhan tahun menjaga hutan tersebut menuturkan, sangat bangga dengan kunjungan para guru besar baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Ini membuktikan bahwa kawasan hutan adat Pangajid mendapat perhatian dari berbagai pihak.

“Tidak sia-sia kami mempertahankan kawasan hutan adat Pangajid. Hutan adat pangajid telah memberi bermamfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Menurutnya, walau luasnya tidak seberapa tetapi kawasan hutan adat Pangajid mempunyai beranekaragam tumbuhan khas Kalbar. Diperkirakan ada sekitar 60 jenis pohon di kawasan hutan tersebut. “Pohon yang paling banyak di kawasan hutan Pangajid adalah pohon tengkawang dan meranti. Kami melarang keras masyarakat melakukan penebangan di kawasan hutan adat ini,” ujarnya.

Melihat kesuksesan masyarakat adat di Desa Sahan, Dekan Fakultas Kehutanan Untan Gusti Hardiansyah menambahkan bahwa pengetahuan-pengetahuan leluhur masyarakat Dayak di sana sudah sangat arif dalam menjaga kawasan hutannya.

“Ini terbukti dengan keberhasilan masyarakat adat menyelamatkan kawasan hutan. Semestinya pemerintah mencontoh dan melibatkan masyarakat dalam menyelamatkan kawasan hutan karena sudah terbukti keberhasilanya,” terangnya.Gusti juga mengatakan Fakultas Kehutanan Untan telah menanda tangani nota kesepahaman untuk membangun kerja sama dalam mengembangan potensi-potensi yang dimiliki oleh masyarakat adat. Termasuk memberi beasiswa kepada masyarakat adat pangajid untuk kuliah di Fakultas Kehutanan Untan.

Zephirin Mouloungul peneliti utama bidang Kimia dari Universitas Toulouse Francis tersebut juga menyambut baik. Dia mengungkapkan sangat luar biasa keberhasilan masyarakat dalam menyelamatkan kawasan hutan di sana. “Saya ucapkan selamat kepada masyarakat adat pangajid dalam menyelamatkan kawasan hutannya, kalian bukan hanya menyelamatakan desa kalian, kalian telah menyelamatkan dunia,” pujinya. 

Dia pun sangat tertarik dengan produk yang dihasilkan oleh masyarakat adat pangajid, yaitu mentega tengkawang. “Saya sebagai ahli kimia akan meneliti dan mengembangkan produk-produk dari buah tengkawang untuk kesejahteraan masyarakat dan akan menulis untuk diterbitkan khusus di majalah Francis,” ujarnya.

Selain itu, Direktur Lembaga Pengkajian dan Studi Arus Informasi Regional (LPS-AIR) Deman Huri juga menuturkan perjuangan masyarakat ada pangajid sangat panjang dalam mempertahankan kawasan hutan adatnya. Harapannya kawasan ini jangan sampain diubah menjadi kawasan perkebunan. “Hutan adat pangajid bisa menjadi pusat pengetahuan, sangat penting karena disana banyak sekali tumbuhan langka Kalbar yang masih ada,” kata Deman. (*)