Desa di Hulu Mandai Masih Terisolir

Desa di Hulu Mandai Masih Terisolir

  Rabu, 26 Oktober 2016 09:30

NANGA RAUN—Sejumlah desa di kecamatan Kalis Kabupaten Kapuas Hulu, terutama di perhuluan sungai Mandai masih terisolir. Di desa-desa tersebut sebagian masih mengandalkan penerangan dari pembangkit listrik tenaga disiel (PLTD) dari perusahaan. Jalan yang dilewati beberapa dusun di daerah itu melewati jalan yang dibangun perusahaan kayu dengan rambu-rambu lalulintas seadanya.

“Beberapa desa di perhulaun sungai mandai memang masih terisolir. Hanya, sejak ada perusahaan kayu masuk mobilisasi masyarakat sedikit lancar,” tutur Adong warga Kalis, kemarin. Dikatakannya jalan perusahaan yang mereka lewati sangat berbahaya, karena hanya ditumbun bebatuan seadanya. Sehingga rawan kecelakaan lalulintas, terutama bagi pelintas yang baru masuk daerah itu.

Adong mengatakan, ada beberapa desa dan dusun di perhuluan sungai mandai kecamatan Kalis yang tergolong terisolir. Yakni Desa Nanga Arong, Nanga Raun, Awing dan Rantau Bumbun. “Disana baru Rantau Bumbun yang ada PLTM,”jelasnya. Itu pun kata dia, PLTMH tersebut baru dibangun tahun ini, melalui dana desa (DD) dan swadaya masyarakat. Selebihnya masih mengandalkan genset dan PLTD. 

Dikatakannya, jalan perusahaan yang dilewati warga dari perhuluan sungai Mandai melintasi bukit yang tinggi dan panjang. Hanya beberapa tempat dipasang rambu-rambu lalulintas seadannya oleh perusahaan. “Memang ada plank rambu-rambu lalulintas yang dipasang dikayu dan dikasi semen,” ungkap dia. Ia beharapa, perusahaan kayu di daerah itu, meningkatkan pembangunan jalan tersebut.

Adong menyebutkan, kondisi ruas jalan perusahaan kayu dari Nanga Erak menuju Nanga Raun dan Rantau Bumbun memang tidak berlumpur. Akan tetapi rawan kecelakaan, selain sempit juga banyak tanjakan yang badan jalannya hanya ditimbun dengan batu. “Kalau sedikit saja terpeleset bisa patal, karena tanjakannya rata-rata tinggi dan panjang,” tutur pria yang berdomisili di Putussibau Utara ini.

Dikatakannya, beberapa desa di perhuluan sungai mandai, masyarakatkanya masih mengandalkan usaha menebang atau mensenso balok kayu belian. Balok-balok kayu yang mereka hasilkan dijual ke Putussibau. “Umumnya para penyenso disana sudah ada yang membina. Jadi mereka menjual pada bos masing-masing,”jelasnya.Harga jual balok belian daerah itu lebih murah dari harga di Putussibau.

Akan tetapi, kata dia lagi, jika jalan tersebut rusak dan sulit dilalui, tentu mempersulit masyarakat. Sementara manta pencaharian masyarakat di daerah tersebut rata-rata sebagai penyenso balok kayu belian. Sedangkan sebagian mereka bekerja sebagai penambang emas dan berladang. “Kasihan masyarakat kalau jalan perusahaan itu rusak atau tidak boleh dilalui oleh masyarakat,” kata dia.(aan)