Demi Kualitas, Bahan Kulit Didatangkan dari Toraja

Demi Kualitas, Bahan Kulit Didatangkan dari Toraja

  Jumat, 18 March 2016 10:36
PROSES PANJANG: Tak mudah bagi Marwanto mendapatkan kepercayaan dari para dalang kondang. hal itu didapat setelah proses panjang berliku dilaluinya.

Berita Terkait

Jalan kesuksesan Marwanto harus dilalui dengan nyantrik ke kakek, om, sampai Manteb Soedharsono. Dua karyanya kini tersimpan di museum di Amsterdam dan Santa Fe. TRI MUJOKO BAYUAJI, Sukoharjo

JARUM jam sudah menunjuk pukul 03.00 dini hari. Kelurahan Sonorejo terlelap dalam tidur. Hanya suara jangkrik yang terdengar di sana-sini. Di tengah kesenyapan itu, tiba-tiba sebuah mobil mendekat ke salah satu rumah yang dikelilingi sawah.

Tapi, Marwanto, sang empu rumah, tak kaget lagi. Dia menghentikan sejenak garapan cempurit-nya. Bergegas menyambut sang tamu: Enthus Susmono. ’’Sebelum jadi bupati, Ki Enthus malah lebih sering ke sini. Kadang-kadang Mas Bayu Aji juga. Mau lihat-lihat katanya,’’ ujar Marwanto.

Enthus yang dimaksud Marwanto memang dalang yang sejak Januari 2014 menjadi bupati Tegal, Enthus Susmono. Adapun Bayu Aji Pamungkas, dia adalah salah seorang dalang muda yang tengah naik daun. Bayu juga putra dalang tersohor Ki Anom Suroto.

Mereka hanyalah sebagian dalang yang rutin mampir ke rumah Marwanto yang masuk wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut. Kerap saat malam atau bahkan dini hari. Itu memperlihatkan kedekatan sekaligus tingginya kepercayaan mereka kepada seniman wayang kulit berusia 42 tahun tersebut.

Dalang berjuluk ’’Sabetan Maut’’ Ki Manteb Soedharsono, misalnya, biasa memesan wayang prodo (wayang kulit dengan lapisan emas, Red) klasik. Begitu pula Anom. Di luar mereka, para dalang muda seangkatan Bayu Aji seperti Cahyo Kuntadi dan Seno Nugroho juga menjadi pelanggan buah keterampilan Marwanto.

Rata-rata satu wayang prodo ukuran standar berharga Rp 1,75 juta. Wayang berukuran besar seperti Werkudoro dan Batara Kala bisa mencapai Rp 2,5 juta. ’’Pesanannya sekarang bisa mencapai satu set wayang. Kadang lengkap dengan gawangan kelir (kayu dan layar untuk wayang kulit, Red),’’ kata bapak tiga anak itu.

Satu set wayang lengkap bisa mencapai 250–300 tokoh. Adapun gawangan kelir ukuran standar 7–8 meter bisa mencapai Rp 70 juta dengan kualitas kayu jati. Ada pula dalang yang memesan gawangan kelir dengan panjang 14–16 meter. Jika ditotal, harga satu set wayang, belum termasuk gawangan kelir, mencapai Rp 400 juta.

Kepercayaan para dalang itu kepada Marwanto tentu tidak datang dengan tiba-tiba. Ada proses panjang nan berliku yang harus dilalui. Garis startnya adalah keterbatasan ekonomi orang tua. Keterbatasan itulah yang membuat Marwanto tak bisa melanjutkan sekolah setelah lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah, Sukoharjo, 1991.

’’Saya sendiri juga tidak minat sekolah karena prestasi saya biasa-biasa saja,’’ ujarnya, lantas tergelak.

Kebetulan, Marwanto memiliki kakek dan om yang dekat dengan dunia wayang. Sang kakek adalah seniman pembuat wayang. Omnya memiliki usaha membuat busana untuk wayang orang.

 

”Saya nyantrik mbah saya setahun, lalu ke paklik (om, Red) juga satu tahun,” ujarnya.

Sang kakek merasa bahwa kemampuan Marwanto bisa bertambah jika berguru kepada dalang yang sudah terkenal. Saat itu nama Ki Manteb Soedharsono sudah demikian kondang. Ke sanalah Marwanto kemudian berlabuh.

Di sana, Marwanto dititipkan selama tujuh tahun. Tapi, Manteb tidak mengajarinya secara khusus cara membuat wayang. ”Kebanyakan malah melihat wayang-wayang kuno koleksi Pak Manteb, lalu saya pelajari sendiri,” kata Marwanto.

Setelah dinilai memenuhi syarat, Marwanto memberanikan diri merintis usaha sendiri. Dari nol, tentu saja. Dia memilih melakukannya di kampung kelahirannya di Sonorejo.

Salah seorang klien pertama Marwanto adalah Manteb sendiri. Awalnya baru sebatas memperbaiki wayang yang rusak saat adu sabet di pentas.

Karena hasil pekerjaannya dinilai bagus, satu per satu dalang mulai tertarik. Promosinya hanya berlangsung secara getok tular. Dari mulut ke mulut. Murni berdasar kepuasan dalang.

Selain itu, Marwanto berkesempatan langsung bertemu para dalang setiap Selasa Legi. Di weton atau hari penanggalan Jawa itu, para dalang biasanya berkumpul di rumah Manteb. ”Di sana sekalian kenalan, sekalian dapat pesanan,” katanya.

Jalan pun terbuka kian lebar. Nama Marwanto semakin melambung. Usahanya terus membesar, hingga kini sudah memiliki 15 karyawan. Mereka terbagi dalam beberapa bagian pekerjaan.

Lima orang di antara mereka bertugas mewarnai detail setiap wayang. Mereka disebut pemulas atau tukang pulas. Di bagian lain, ada dua tenaga kerja yang melapis wayang kulit dengan lapisan emas.

Lapisan emas berbentuk lembaran itu dibeli Marwanto dari Jakarta. ”Ini yang namanya +++++++++genjreng prodo mas (emas, Red). Merek-nya Liong, belinya di Pasar Glodok,” kata Marwanto dengan logat Jawa yang khas Solo.

Satu kotak prodo mas yang berisi ratusan gerenjeng atau lembaran emas bisa mencapai harga Rp 8 juta. Sebab, kandungan lembaran itu memang 99 persen emas. Saat sudah jadi, wayang dengan kualitas lapisan emas itulah yang biasa disebut wayang prodo mas.

Masih ada delapan tenaga kerja lain yang dipekerjakan Marwanto. Namun, mereka tidak terlihat di sanggar yang dibangun dari hasil jerih payah membuat wayang itu. Kebanyakan di antara mereka adalah para tukang tatah atau pahat setiap detail wayang. Rata-rata, mereka bekerja di rumah masing-masing.

Marwanto menuturkan, setiap tahun jumlah karyawannya bertambah. Kebanyakan adalah teman-temannya sendiri saat kecil. Atau para remaja Desa Sonorejo yang tidak mampu melanjutkan lagi sekolahnya dan memilih bekerja.

”Paling tidak, setiap tahun itu nambah satu kawan (tenaga kerja, Red) saya,” kata Marwanto.

Proses membuat satu wayang, mulai merendam, membentang kulit, menjidar atau membentuk pola wayang, memahat wayang, sampai mewarna dan memasang cempurit, memakan waktu kurang lebih satu bulan. Dengan 15 karyawan, satu set wayang prodo mas bisa selesai dalam waktu satu tahun.

Menurut Marwanto, para dalang itu rutin memesan satu set wayang lengkap setiap tahun. Sebab, terkadang wayang yang sudah dipakai dibeli oleh kolektor. Atau jika mereka pentas di luar negeri, warga negara setempat kerap membeli seluruh koleksi wayang dan gawangan kelir. Harganya tentu lebih tinggi.

Itu, misalnya, pernah terjadi wayang planet dan wayang wong rai milik Enthus hasil karya Marwanto. Saat ini keduanya menjadi koleksi Tropenmuseum, Amsterdam, dan Museum of International Folk Art, Santa Fe, Amerika Serikat.

Itu terjadi setelah Enthus pentas di dua kota tersebut. ”Jadi, saya memang belum pernah ekspor. Tapi, wayang saya yang sudah sampai ke luar negeri, he he he,” ujar Marwanto.

Di luar para dalang, kolektor asal Jakarta juga acap memesan karya wayang Marwanto. Salah seorang pemesan rutin adalah Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal F.H. Bambang Soelistyo.

Saat ini saja Marwanto juga masih sibuk menyelesaikan pesanan jenderal TNI bintang empat itu. ”Dulu, Pak Bambang sudah pesan satu set, sekarang pesan lagi,” tutur Marwanto.

Salah satu cara yang ditempuh Marwanto untuk menjaga kepercayaan pelanggan adalah menjaga kualitas. Untuk bahan kulit, contohnya, dia memilih kulit kerbau yang didatangkan dari Toraja atau yang di kawasan sekitar Solo biasa disebut kerbau bule.

Kerbau bule memiliki kulit yang bersih dan terang sehingga cocok untuk dijadikan wayang kulit. ”Kulitnya saya dapat dari juragan (kerupuk, Red) rambak. Yang tebal jadi rambak, yang tipis biasanya dijual lagi,” kata Marwanto.

Begitu pula cempurit atau tongkat untuk memegang wayang. Dari tanduk kerbau bule. Sebab, saat diolah, bisa berwarna kuning kecokelatan. Tampak serasi dengan wayang prodo mas yang berwarna keemasan.

”Kalau cempurit standar itu disambung-sambung, tapi kalau yang mahal itu bisa dibentuk utuh,” terang Marwanto.

Dengan apa yang telah dicapainya sejauh ini, yang masih menjadi angan-angan Marwanto adalah mendirikan sekolah bagi mereka yang tak bisa melanjutkan pendidikan. Atau yang berminat untuk belajar teknik membuat wayang.

Memang beberapa kali ada mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo yang belajar cara membuat wayang darinya. Namun, pembelajarannya tidak konsisten karena mereka hanya hadir dalam waktu tertentu.

Sejatinya tahun lalu dia sudah berusaha merealisasikan apa yang menjadi angan-angan itu. Tapi, tidak berjalan sesuai rencana karena para murid yang masih terlalu kecil. Juga, ruang yang tidak representatif.

”Waktu dulu, muridnya anak-anak sini, masih kelas V SD. Masih belum fokus, nggak bisa dipaksa,” kata Marwanto.

Kini Marwanto berusaha lebih serius untuk membuka sekolah itu. Di samping rumahnya, dia telah membangun sebuah pendapa. Nanti ruangan tersebut diperuntukkan mereka yang tertarik nyantrik membuat wayang.

Di sekolah itu kelak, Marwanto juga siap untuk menerima murid dari berbagai kalangan. ”Termasuk mahasiswa asing, seperti dulu, juga ada yang dari ISI Solo,” ujarnya. (*)

Berita Terkait