Demi Dapur Tetap Mengepul, Nelayan Terpaksa Berkebun

Demi Dapur Tetap Mengepul, Nelayan Terpaksa Berkebun

  Sabtu, 20 Agustus 2016 10:28
TERPARKIR: Pada musim angin selatan yang saat ini tengah berlangsung menjadikan para nelayan di Kepulauan Karimata, mau tidak mau harus memarkirkan kapal motor milik mereka.

Berita Terkait

KEPULAUAN Karimata mayoritas penduduknya bergantung hidup dan berprofesi sebagai nelayan. Namun terkadang ketika melaut mereka akan mengalami kendala, di mana dalam setahun pasti terjadi. Di antaranya perubahan iklim yang membuat mereka terpaksa menyandarkan kapal motor milik mereka. Tingginya gelombang dan angin kencang membuat mereka enggan melaut.

Salah satu nelayan Desa Padang, Hermansyah, mengungkapkan jika dirinya sudah tiga bulan tidak melaut, lantaran kondisi cuaca tidak memungkinkan. Kejadian seperti, diakui dia, setiap tahun pasti terjadi.

“Kalau sudah seperti ini, kita sebangai nelayan kecil tidak dapat melaut. Karena ombak cukup tinggi. Sementara itu kapal motor yang kita punya di sini (Desa Padang, Red) kecil-kecil. Mau melaut pun takut-takut juga. Karena cukup bahaya kalu gelombang besar air laut masuk ke kapal,” terangnya, Selasa (16/8) di Desa Padang.

Pemuda yang telah melaut sejak kecil ini memilih tidak melaut dengan mencari kerjaan lain. Seperti berkebun atau bekerja dengan orang lain. Namun menurut dia, bagi orang yang lebih sering berkerja di laut dan terpaksa untuk berhenti sementara dan berkerja di daratan tidak merasa betah.

“Harus menunggu sampai cuaca kembali normal, kadang saya merasa bosan juga dengan berkerja didaratan. Karena kita bisanya kerja di laut ini kita harus kerja di darat. Namun apa mau dikata? Karena cukup berbahaya untuk sementara istirahat sebentar. Nanti juga akan kembali normal, dan diperkirakan dua sampai tiga bulan ke depan,” ungkapnya.

Sementara itu, jika pada musim barat dengan kondisi cuaca normal, dia bisa berpenghasilan mencapai Rp400 ribu. Penghasilan itu didapat dia dengan berjibaku sehari semalam di laut. Saat itu disebut dia sebagai musim cumi. “Sekarang ini, kalau nekat melaut tidak dapat jauh. Baru berangkat ombak kembali tinggi, angin pun kencang. Namun kalau saat cuaca bagus, dalam satu hari dapat lah 400 ribu satu hari. Bahkan dalam satu musim belasan juta bisa didapat,” katanya.

Terpisah, penampung ikan di Desa Padang, Deni, mengaku untuk saat ini para nelayan mengalami penurunan tangkapan ikan. Bahkan, diungkapkan dia, ada nelayan yang enggan untuk turun ke laut. Saat ini, diakui dia jika laut sedang dilanda musim angin selatan. Dengan kondisi angin kencang dan ombang tinggi, menurut dia, tentu membahayakan.

“Mana tidak melaut? Di sini kapal motor nelayan milik warga kecil-kecil. Jadi memang berbahaya kalau melaut dengan kodisi seperti ini. Sedangkan untuk kondisi normal akan kembali terjadi pada bulan 10 dan 11 (Oktober dan November). Sampai bulan enam (Juni) tahun depan. Nah, di situ pendapatan nelayan cukup tinggi,” ungkap pria yang sudah tujuh tahun di Kepulauan Karimata itu.

Pada musim selatan ini, diakui dia, biasanya ada juga nelayan yang nekat untuk melaut. Sebagai tuntutan hidup, mereka pun tidak bisa melaut dalam jarak jauh. “Alhamdulillah selama ini belum pernah ada kabar kecelakaan air yang menimpa nelayan kita di sini pada musim agin selatan seperti ini,” tutup bapak asal Jawa Barat tersebut. (*)

Berita Terkait