Deklarasi Tujuh Protokol Dayak

Deklarasi Tujuh Protokol Dayak

  Jumat, 28 July 2017 10:00
DEKLARASI: Hasil deklarasi Kongres Dayak Internasional 1 saat penutupan kongres kemarin siang. HUMAS PEMPROV KALBAR

Berita Terkait

PONTIANAK - Kongres Dayak Internasional I resmi ditutup kemarin. Penutupan itu dilakukan langsung oleh Cornelis selaku Presiden Masyarakat Adat Dayak Nasional yang juga menjabat sebagai Gubernur Kalimantan Barat. 

Ada tujuh protokol dayak yang dilahirkan dalam kongres itu. Di antaranya asa’: makna dan dimensi dari agama, tujuan dan kebahagian hidup hakiki dari bangsa Dayak, dua: dimensi nilai-nilai kepercayaan dan norma-norma dalam kehidupan bangsa Dayak, talu: keterlibatan aktif bangsa Dayak dalam menciptakan kebersamaan, toleransi dan perdamaian dunia. 

Kemudian ampat: pentingnya bangsa Dayak dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme), lima: pentingnya bangsa Dayak mengembangkan budaya dan kebudayaan Dayak seluruh dunia, anam: komitmen bangsa Dayak dalam mendukung pemerintahan yang kuat dan berwibawa dan melindungi rakyatnya, tujuh: diaspora Dayak harus menjadi jembatan emas untuk membangun kekuatan. 

Kemudian dilakukan juga deklarasi dayak untuk dunia yang lebih baik. Ada tujuh point deklarasi itu, di antaranya jati diri dan pranata kehidupan dunia, membangun peradaban, hidup dalam keselarasan dan keserasian, kekayaan fisik dan non fisik, bumi yang terjaga, kesehatan manusia dan pengetahuan inovasi dan kewirausahaan. 

“Deklarasi ini sebagaimana yang sudah dibacakan tadi akan disampaikan kepada presiden RI melalui kementerian terkait. Kita suarakan dan kawal keberlangsungan hidup bangsa Dayak,” kata Cornelis selaku Presiden Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN).

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia ia berharap bangsa Dayak bisa mejadi pelopor dan memberikan kontribusi yang besar dalam menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. 

“Bangsa Dayak harus memberikan warna dalam pembangunan dan disegala bidang. Politik, hukum dan HAM, ekonomi, pendidikan dan lainnya,” pinta Cornelis. 

Karena itu ia meminta masyarakat adat dayak segera menyesuaikan diri dan menyikapi dengan cerdas, dinamika perubahan sosial dan politik di Indonesia. Sebab, lanjut dia, dinamika perubahan sosial dan politik yang berkembang disetiap negara, berpotensi ditumpangi isu-isu global yang mendunia. Sehingga dapat mempengaruhi budaya dan jati diri suatu bangsa. Bahkan dinamika tersebut dapat memicu dan memacu dis-integrasi bangsa. 

Lebih lanjut ia mengapresiasi dan berterima kasih ada dukungan semua pihka sehingga kongres ini terlaksana dengan lancar. “Terima kasih ada kehadiran dan dukungannya, sampai ketemu di Kongres Dayak Internasional kedua,” ujar dia. (mse)

Berita Terkait