DBD Mulai Renggut Satu Nyawa

DBD Mulai Renggut Satu Nyawa

  Selasa, 10 April 2018 11:00
ILUSTASI

Berita Terkait

Bocah Sebelas Tahun jadi Korbannya

KETAPANG – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menelan korban jiwa. Ramadhani Al Irham Riadi meninggal dunia di perjalanan saat hendak dirujuk ke rumah sakit di Pontianak pada Sabtu (7/4) pagi. Selain Ramadhani, satu pasien harus dilarikan ke rumah sakit di Pontianak karena alat pemisah trombosit di RSUD dr Agoesdjam tidak berfungsi dengan baik.

Bocah yang baru berusia 11 tahun itu tak mampu melawan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini. Dia pun meninggal dunia di Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara, saat hendak dirujuk ke Pontianak. "Ini adalah pelajaran bagi semuanya, betapa berbahayanya penyakit DBD ini," kata ayah korban, Endang Supriadi, saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Sampit, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, kemarin (9/4).

Dia menceritakan, anaknya yang duduk di bangku kelas V di SDN 7 Delta Pawan tersebut sebelumnya mengeluh kurang enak badan saat pulang sekolah, Senin (2/4) sore. Supriadi pun membelikan paracetamol di apotek karena menganggap anaknya hanya demam biasa. Namun hingga keesokan harinya, demamnya tak kunjung sembuh. Dia pun memutuskan untuk membawa putra bungsunya itu ke dokter praktik, Selasa (3/4) malam.

Dokter memberikan surat rujukan kepadanya untuk mengecek darah ke RSUD dr Agoesdjam. Tiga hari diperiksa, diakui dia jika kondisi bocah malang tersebut belum juga membaik. Sehari sebelum dibawa ke rumah sakit, korban kembali mereka bawa ke salah satu dokter di praktik, namun kondisinya belum juga membaik. "Karena belum sembuh juga, akhirnya Jumat sore diperiksa darah di Agoesdjam," jelasnya.

Namun diceritakan dia, belum sempat hasil pemeriksaan darah dikeluarkan oleh pihak RSUD dr Agoesdjam, korban langsung dibawa ke RS Fatima di hari itu juga. Sekitar pukul 21.00 WIB, korban, menurut dia, langsung masuk ICU. Pada Sabtu (7/4) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB, korban, menurut dia, muntah darah. Pihak RS Fatima pun menyarankan kepadanya agar segera merujuk Almarhum ke rumah sakit di Pontianak setelah alat PH darah di rumah sakit di Ketapang ternyata tidak ada.

"Jam 02.00 pagi dikeluarkan surat rujukan ke Pontianak. Jam 04.00 pagi langsung saya bawa pakai mobil menuju ke Teluk Batang. Rencananya akan naik speedboat jam 09.00 pagi. Sampai di Melano, anak saya mengeluh sakit perutnya. Tapi kami terus lanjut, belum Teluk Batang anak saya sudah meninggal. Ini perjalanan terakhir saya dengan anak saya," ucap Supriadi dengan mata yang berkaca-kaca.

Meski hasil pemeriksaan darah belum sempat keluar dari rumah sakit, namun jika dilihat dari gejalanya, korban menurut dia dipastikan menderita DBD. "Dari sekian banyak, kenapa anak saya yang diambil? Tapi kami ikhlas sesuai dengan nama yang kami berikan kepadanya, Al Irham. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua dan tidak ada lagi anak yang meninggal akibat penyakit DBD," harapnya.

Sementara itu, salah satu anggota komunitas donor darah yang ada di Ketapang, Hartati Syamli, mengungkapkan selain korban yang meninggal dunia tersebut, ada satu anak lagi yang menderita DBD dan harus dirujuk ke Pontianak. "Kondisinya kritis, di gusinya sudah mengeluarkan darah. Beruntung anak itu masih tertolong," katanya.

Dia menjelaskan, anak itu berasal dari Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang. Anak tersebut, menurut dia, dirujuk ke rumah sakit di Pontianak karena alat untuk pemisah trombosit yang ada di RSUD dr Agoesdjam tidak berfungsi dengan baik. "Informasinya karena alatnya tidak bisa digunakan karena listriknya tidak stabil. Jadi diputuskan untuk dirujuk ke Pontianak. Telat sedikit saja bisa fatal," jelasnya.

Saat ini kondisi anak yang diketahui duduk di bangku kelas IV SD tersebut dipastikan dia sudah berangsur pulih. "Kita berharap kasus ini menjadi perhatian kita semua. Pihak terkait harus melakukan evaluasi, khususnya untuk alat di rumah sakit. Karena ini menyangkut nyawa orang. Jika hanya karena listriknya yang tidak stabil, maka harus segera diperbaiki," harapnya.

Sementara itu, pihak rumah sakit mengakui jika alat untuk memisah trombosit ini sempat error sebelumnya. Hal itu, diakui mereka dikarenakan genset di rumah sakit tidak stabil. "Tapi sekarang sudah bagus dan sudah bisa digunakan lagi. Tidak ada masalah," kata Herman Basuki, staf RSUD dr Agoesdjam.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang, Rustami, mengatakan, sepanjang Januari hingga Maret 2018, terdapat 150 kasus DBD Ketapang. Kasus DBD paling banyak, menurut dia, terdapat di Kecamatan Delta Pawan. "Dari kasus-kasus itu ada satu korban meninggal dunia dan satunya kritis dan sudah dirujuk ke rumah sakit di Pontianak," katanya.

Untuk pasien DBD yang dirujuk ke rumah sakit di Pontianak, diakui dia lantaran di RSUD dr Agoesdjam Ketapang alat pemisah trombosit sedang mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat digunakan untuk pasien. "Saya sudah tanyakan langsung ke penanggung jawab laboratorium RSUD Agoesdjam, memang alat pemisah trombosit rusak karena tegangan listrik yang suka turun naik," jelasnya.

"Harga alatnya mahal, bisa miliaran rupiah, tapi alat itu penting sekali bagi kita. Sebab kalau ada pasien kritis, kemudian alatnya tidak bisa digunakan, maka harus dirujuk ke Pontianak. Jarak Ketapang dengan Pontianak jauh dan berisiko bagi pasien DBD yang kritis," lanjutnya.

Dia berharap, pihak rumah sakit dapat sesegera mungkin memperbaiki alat pemisah trombosit, agar pasien-pasien DBD khususnya, tidak lagi harus dirujuk ke Pontianak. Dia juga berharap agar pihak sekolah dapat proaktif menjaga kebersihan lingkungan, tempat penampungan air dan juga kelas, sehingga meminimalisir adanya nyamuk demam berdarah.

"Gigitan nyamuk demam berdarah biasanya pada jam sekolah. Jadi pihak sekolah harus proaktif membersihkan kamar mandi, kelas, dan meminta para pelajarnya menggunakan lotion anti nyamuk. Begitu juga masyarakat untuk dapat bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan," pintanya. (afi)

Berita Terkait