Daya Saing Kalbar Peringkat 21

Daya Saing Kalbar Peringkat 21

  Rabu, 20 September 2017 10:00

Berita Terkait

PONTIANAK – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) bekerja sama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta Asia Competitiveness Institute (ACI) resmi merilis hasil survey tentang analisis daya saing provinsi di Indonesia. Survey yang dilakukan tersebut menempatkan Kalimantan Barat di posisi 21 dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia.

Posisi tersebut turun empat angka dari tahun sebelumnya, yakni diposisi 17, dengan skor pada tahun ini -0,308. Jika dibandingkan dengan provinsi lainnya di pulau Kalimantan, provinsi ini berada di posisi buntut. Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara adalah provinsi yang tertinggi di Kalimantan. Sedangkan DKI Jakarta meraih posisi pertama se-Indonesia.

Dari segi stabilitas ekonomi makro, Kalbar juga menjadi provinsi terendah jika dibandingkan dengan provinsi lain di Kalimantan. Provinsi ini berada di urutan ke 22, turun empat angka dari tahun sebelumnya urutan 18 dengan raihan skor – 0,433. Selain itu, dari segi kualitas hidup dan pembangunan infrastruktur juga mencatatkan  skor negatif, yaitu -1,1 dengan peringkat 29. Angka ini turun dari tahun sebelumnyayakni peringkat 27.

Peneliti dari ACI menyebut, skor negatif bukan berarti tidak mengalami perkembangan. Pada umumnya setiap provinsi mengalami kemajuan, hanya saja ada yang progresnya lamban, namun ada juga yang cepat. Dari dua segi tersebut, Kalbar menunjukkan tren pertumbuhan yang cukup lambat.

Kendati demikian, dari segi finansial, bisnis, dan tenaga kerja dinilai baik dengan menempatkan Kalbar di posisi ke 9 dengan skor 0,332. Begitu juga dari segi pemerintahan dan institusi publik Kalbar yang berada di atas rata-rata nasional, dengan raihan skor 0,178. Angka tersebut menempatkan provinsi ini berada di urutan 16. Namun posisi ini justru turun dari tahun sebelumnya yang menempatkan Kalbar di posisi 12. 

Berdasarakan survey yang telah dilakukan pada tahun 2016 serta mengumpulkan data statistik dari beberapa lembaga survey, didapatlah kesimpulan, diantaranya Kalbar masih perlu berbenah dari segi kualitas pendidikan melalui pendorongan angka partisipasi sekolah dan penambahan tenaga pengajar. Selain itu, infrastruktur fisik dan teknologi juga mesti tersedia dari segi kualitas dan kuantitas.

Ketua Apindo Kalbar, Andreas Acui Simanjaya menyebut selama beberapa tahun terakhir melakukan survey ini, namun hasilnya perkembangan Kalbar tidak menunjukkan lonjakan yang signifikan. Padahal dari hasil survey di tahun-tahun sebelumnya, dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam hal pengambil kebijakan ke depan. 

“Semestinya pemerintah jeli dan menggunakan hasil penelitian ini, karena survey yang dilakukan ini menghabiskan biaya, dan dibiayai oleh Singapore yang bekerjasama dengan Apindo,” jelasnya usai acara

Selain itu, hasil survey ini juga dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha sebagai referensi untuk mengambil keputusan yang jeli dan tepat. Tentunya hal itu dilakukan sebagai upaya untuk memajukan usaha. “Kita dari kalangan pengusaha bisa mengambil keputusan perusahaan dengan tepat,” katanya.

Namun, ia juga menyayangkan rilis survey baru diumumkan pada saat ini. Padahal survey ini adalah gambaran daya saing yang dilakukan pada tahun 2016. ia berharap untuk survey di tahun ini dapat dipublikasikan segera, agar data yang didapat masih baru. “Sayangnya hasil survey ini terlalu lama dipublikasikan, yang dipaparkan itu kan hasil survey yang dilakukan pada tahun 2016, kita jadi terlambat data yang lebih segar,” tutupnya. (sti)

Berita Terkait