Darurat Pencabulan Anak

Darurat Pencabulan Anak

  Selasa, 5 April 2016 09:43   2,544

Oleh: Dina dan Mi’rad 

Menurut istilah, kata pencabulan berasal dari kata “ cabul “ yang artinya kelakuan buruk. Adapun secara bahasa, pencabulan artinya segala perbuatan yang melanggar norma kesusilaan atau kesopanan, atau perbuatan keji yang dilakukan oleh seseorang. Pemerintahpun dinilai belum mampu dalam mengatasi  masalah tersebut. Hal di buktikan dengan semakin meningkatnya kasus pencabulan anak dari tahun ke tahun. Hal ini sungguh sangat memprihatinkan, mengingat kasus pencabulan anak yang makin sering terjadi. 

Yang lebih mirisnya lagi, para pelaku kejahatan tersebut rata – rata adalah orang - orang terdekat yang setiap hari sering bertemu dengan para korban. Misalnya, teman bermain, tetangga rumah, saudara yang masih ada hubungan darah, bahkan guru pun kadang tega melakukan perbuatan bejat tersebut. Mereka memanfaatkan  waktu luang, ketika kondisi sedang sepi atau disaat orang tua korban sedang lalai atau sedang sibuk dengan pekerjaannya. Rata – rata para korban yang masih anak -  anak di iming – imingi dengan mainan, uang, makanan kecil dan kemudian korban di ajak untuk pergi ke tempat yang sepi, kemudian di situlah baru pelaku melakukan aksinya bejatnya. Seperti; korban di minta untuk memegang atau bahkan mengulum kemaluan si pelaku, pelaku mencium korban atau lain sebagainya. Yang lebih parahnya lagi, korban di ancam untuk tidak melapor pada orang tuanya.

Perlu kita ketahui, bahwa kejahatan pencabulan merupakan suatu penyakit rohani yang harus di sembuhkan. Selain karena faktor kejiwaan, ada juga faktor lain yang dapat menyebabkan orang berperilaku menyimpang serta mengarah pada tindak kriminalitas. Contohnya dengan adanya penyalahgunaan media sosial dan mudahnya masyarakat mengakses situs pornografi, menyebabkan para pelaku pencabulan dengan leluasa melampiaskan perbuatan  kejinya terhadap para korban. 

Namun kadang kala para korban sendirilah yang menjadi pemicunya. Faktor pola atau gaya hidup anak – anak jaman sekarang terhadap lingkungan disekitarnya juga sangat mempengaruhi munculnya aksi kejahatan ini. Kurangnya pengawasan dari orang tua dan tidak di aturnya jam bermain anak, sehingga menyebabkan anak bebas bermain keluar rumah tanpa adanya pengawasan yang ketat dari orang tua.selain itu, gaya berpakaian yang serba minim juga menjadi faktor timbulnya keinginan para pelaku pencabulan untuk melakukan aksinya. Untuk itu peran keluarga sangat di butuhkan dalam rangka memberikan keamanan dan kenyaman bagi anggota keluarga. Selain itu, kepala keluarga juga harus menjadi tauladan, terutama tentang pendidikan seks kepada anggota keluarganya. Sekolah juga mempunyai peran yang sangat penting dalam membina anak didiknya tentang bahaya kejahatan pencabulan anak. Sekolah bersama pemerintah harus bekerja sama untuk melakukan penyuluhan dan seminar tentang pendidikan seks.

Berbicara masalah hukuman yang akan di jatuhkan kepada para pelaku pencabulan, seringkali tidak sebanding dengan dampak buruk yang di alami korban. Paling – paling pelaku hanya di jatuhi sanksi ringan berupa penjara enam bulan penjara  atau bahkan pelaku berpotensi untuk lolos dari jeratan hukum. Sehingga dalam hal ini, pihak korban akan merasakan adanya ketidakadilan terhadap hukum, yang mana kejahatan tersebut jelas sangat menimbulkan penderitaan psikologis berupa trauma yang mendalam dan berkepanjangan bagi korban. Apalagi korbannya adalah anak – anak yang cenderung mempunyai tingkat sensitivitas lebih tinggi.

Pemerintah melalui  Undang – Undang  ( UU ) Nomor 35 tahun 2014 yang merevisi UU nomor 23 tahun 2002, yakni tentang perlindungan anak menegaskan bahwa para pelaku tindak pidana kejahatan seksual terhadap anak akan di hukum sangat  berat. Pada pasal 88 menjelaskan bahwa hukuman bagi para pelaku pencabulan akan di kenai sanksi penjara yakni paling singkat  5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak 5 milyar. Sedangkan apabila pelakunya di lakukan oleh orang tua, wali, pendidik, tenaga kependidikan  maka pidananya akan di tambah 1/3 dari ancamannnya. Misalnya apabila pelaku pencabulan adalah orang tuanya sendiri dan hakim memutuskan untukmenghukum 15 tahun penjara, maka lama kurungan akan di tambah 1/3 dari 15 tahun penjara. 

Meskipun para pelaku pencabulan sudah di jatuhi dengan hukuman yang amat berat, namun masih ada saja munculnya pelaku baru atau mereka yang ketika sudah terbebas setelah menjalani hukuman sekian tahun,  bukannya jera, namun mereka malah berpotensi untuk mengulangi perbuatannya yang bahkan lebih parah dari sebelumnya. Mereka seakan tidak peduli dengan dampak buruk yang akan di timbulkan. Segala perbuatan yang mereka lakukan hanya demi  mencapai kepuasan pribadi yang berujung kehancuran tanpa memikirkan masa depan korban yang harus hancur karena perbuatan bejat mereka. Apalagi dalam hal ini rata – rata korbannya adalah anak – anak yang mempunyai masa depan yang masih sangat panjang. Tindak pencabulan di nilai merupakan salah satu pelanggaran HAM, karena sangat sangat berdampak buruk bagi perkembangan psikologis dan masa depan anak.

Ada beberapa  upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya tindak  pencabulan anak, antara lain ialah: Meningkatkan pengawasan orang tua terhadap anak – anak, baik itu berupa jam bermain anak, teman bermain atau dengan siapa anak bergaul, kemana anak pergi dan apa tujuannya. Selain itu, orang tua juga harus memerhatikan acara apa yang sedang  di tonton anak di tayangan  televisi. Orang tua harus bisa memastikan bahwa tayangan tersebut  baik untuk anak.

Mengkriminalisasi para pelaku pencabulan dengan hukuman yang setimpal agar pelaku dapat benar – benar jera dan tidak akan mengulangi perbuatannya. Mengadakan penyuluhan dan seminar tentang bahaya kejahatan seksual. Pemerintah harus lebih tegas dalam menyikapi masalah tersebut agar kasus yang serupa tidak terjadi lagi. Serta memberikan pengayoman terhadap rakyatnya agar senantiasa merasa aman kapanpun dan di manapun mereka berada.

Lebih meningkatkan takwa kepada Tuhanyang Maha Esa agar tidak  terjerumus kedalam perbuatan negatif dan senantiasa di jauhkan  dari kejadian buruk yang tidak di inginkan.

Kita sebagai pelajar yang baik di harapkan mampu membentengi diri dengan takwa dan keimanan agar tidak terjerumus kedalam perbuatan jahat tersebut. Serta meningkatkan pengetahuan tentang bahayanya dampak yang akan di timbulkan jika kita sampai melakukan perbuatan asusila tersebut. Kita harus menyadari peran kita sebagai generasi muda harapan bangsa yang berkewajiban untuk membangun dan memajukan negara ini dengan sumber daya manusia yang berkualitas. Karena masa depan sebuah bangsa  berada di tangan kita sebagai generasi muda. Untuk itu marilah kita sama – sama memberantas para pelaku kejahatan pencabulan anak demi masa depan negara tercinta kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.

*)SMAN 2 Teluk Keramat