Darurat Pelindungan Anak

Darurat Pelindungan Anak

  Selasa, 22 March 2016 22:09   1

INDONESIA saat ini dalam darurat kejahatan terhadap anak dimana dalam kurun waktu tiga tahun angka kekerasan terhadap anak mencapai 21.689.797 kasus, kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Arist Merdeka sirait, Kekerasan terhadap anak sekarang terus meningkat," katanya. Dari jumlah tersebut, 58 persen merupakan kejahatan seksual terhadap anak yang mengakibatkan korbannya mengalami troma yang berkepanjangan.

“Pelajaran dari Kematian Angeline” di edisi yang sama, membuat kita semua yang masih memiliki perasaan kemanusiaan untuk selalu waspada. Terutama, waspada terhadap potensi tindak kekerasan, yang dapat terjadi di mana saja dan kapan saja terhadap anak.

Keselamatan anak kini benar-benar terancam. Umumnya, orang-orang terdekatlah yang menjadi pelaku pertama terhadap anak dan kehidupan anak. Kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh orang-orang terdekat kini menjadi bencana besar bagi masa depan suram anak-anak.

Seharusnya di dalam keluarga terdekatnya, anak-anak mendapatkan kasih sayang dan cinta, justru tindak kekerasan baik secara psikis dan fisik menghantamnya. Seyogyanya, orang-orang terdekat menjadi rumah utama yang dapat menyejukkan dan mendamaikan kehidupan anak-anak, justru menjadi ancaman tindak kekerasan.

Orang-orang terdekat tidak lagi disebut orang-orang yang bisa dipercaya untuk mengemban amanah dalam mendidik anak-anak dan mengarahkan mereka menjadi pribadi-pribadi yang baik.

Ada banyak hal yang menjadi pemicu kekerasan terhadap anak. Pertama adalah kekerasan dalam rumah tangga, dimana sering terjadi percekcokan antara suami dan istri yang selanjutnya dapat berimbas kepada anak. Anak menjadi korban yang kemudian mendapatkan tindakan kekerasan dari orang tua.

Kekerasan dalam rumah tangga yang secara terus menerus berulang, tentunya akan kian menebalkan ketidaharmonisan dalam keluarga. Dan, kondisi sedemikian sangat jelas merusak hubungan yang baik dengan anak. Umumnya, akibat konflik suami dan istri yang kerap terjadi, maka anak pun bisa menjadi sasaran pelampiasan. Kedua adalah disfungsi keluarga, dimana ini sebenarnya merupakan ekses dari kekerasan dalam rumah tangga. Disfungsi keluarga dalam konteks ini dimaknai bahwa kedua orangtua sudah tidak lagi menjalankan tugas pokoknya dalam pendampingan, pendidikan dan yang mengarahkan kehidupan anak. Disfungsi keluarga adalah rangkaian ekses dari konflik kedua orangtua yang tidak berkesudahan. Alhasil, orang tua bertengkar, maka anak pun ikut menjadi korban dan begitu seterusnya.

Ketiga adalah faktor ekonomi, dimana tingkat ekonomi yang miskin dapat melahirkan aksi kekerasan terhadap anak. Bentuk kekerasan terhadap anak akibat faktor ekonomi adalah dengan menelantarkannya, membiarkannya tidak diurus, membuangnya, dan begitu seterusnya. Alasan karena tidak mampu membiayai kebutuhan hidupnya, menjadi pemicu yang menyebabkan adanya penelantaran.

Ekonomi orangtua yang lemah dan miskin menjadikan anak kehilangan haknya untuk diurus, dibiayai kebutuhan dasarnya, dan begitu selanjutnya. Oleh sebab itu, tingkat ekonomi orangtua menengah ke bawah sangat jamak melahirkan tindakan kekerasan terhadap anak.

Orangtua sudah tidak sanggup membiayai, tidak memiliki kemampuan untuk melakukan yang terbaik bagi kehidupan anaknya baik dari sisi pendidikan, kebutuhan dasar, dan lain sejenisnya. Orangtua merasa memiliki pesimisme dalam hidup dan kehidupan sehingga seringkali yang dilakukan adalah berada di luar tindakan normalitas.

Miskinnya ekonomi kemudian memburamkan dan membuyarkan tanggung jawabnya untuk mengurus anak. Orangtua dengan kondisi ekonomi yang sangat pas-pasan dan minus, menjadikan dirinya tidak bisa berpikir sehat dan rasional atas segala perilaku dan tindakan yang dilakukannya. Orangtua menjadi mudah dan rentan melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan begitu seterusnya.

Faktor keempat yang biasanya menjadi akar kekerasan terhadap anak adalah pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Anak seolah harus mengikuti apa yang diinginkan orangtuanya. Anak dalam konteks ini menjadi kuasa orangtuanya. Apa yang diinginkan orangtua harus dituruti oleh anaknya. Apa yang diminta orangtuanya harus diamini oleh anaknya, dan begitu seterusnya.

Tatkala kehendak, permintaan, dan keinginan orangtua tidak diikuti oleh sang anak, maka kompensasi yang harus diberikan orangtua kepada anak adalah dalam bentuk kekerasan baik fisik, psikis, maupun kekerasan verbal lainnya.

Pandangan yang tidak bijak dan tidak tepat serta keliru yang selama ini dipegang dengan sedemikian kokoh oleh orangtua, sesungguhnya selalu menjadi bencana bagi kehidupan anaknya. Dengan demikian, anak dalam konteks ini sebagai pihak subordinat yang selalu berada di tangan kekuasaan orang tua secara taken for granted. Walaupun sesungguhnya, bisa jadi, pikiran anak untuk menolak permintaan orangtua adalah sesuatu yang masuk akal pada sisi lain. Oleh sebab itu, dominasi orang tua terhadap anak yang sangat kuat dan terkesan otoriter ini menjadi cermin dari tindakan-tindakan lanjutan orang tua ke depannya, yang dapat menimbulkan aksi kekerasan dalam banyak hal baik itu disadari maupun tidak disadari.

Faktor kelima adalah terinspirasi dari tayangan-tayangan televisi ataupun media-media lainnya yang tersebar di lingkungan masyarakat.

Tayangan televisi baik sinetron dan sejenisnya, yang menampilkan peran orangtua terhadap anak yang sangat sadis pun, dapat membentuk orangtua yang kebetulan ataupun tidak suka menonton program televisi tersebut. Baik sadar maupun tidak, pendidikan orangtua yang masih rendah dan cukup rendah tentunya akan lebih mudah mempengaruhi cara berpikir, sehingga kondisi ini dapat membentuk kebiasaan buruk dalam mendidik dan memperlakukan anak-anaknya. Itulah yang menjadi hal jamak dan terjadi di lingkungan sekitar kita.

 

Jalan Pembebasan

Peran tetangga terdekat tentunya sangat penting untuk ikut memberikan perhatian kepada orangtua yang memperlakukan anaknya secara tidak manusiawi. Peran tetangga dalam konteks ini memberikan pendidikan pencerahan kepada orangtua yang sedang bermasalah, agar mengingat kembali fungsi orangtua bagi anak-anaknya.

Apabila tetangga terdekat merasa sungkan, maka perlu gerakan para tetangga terdekat untuk membuat acara sayang anak dan lain sejenisnya.

Sementara dalam pendekatan hukum, mengutip pendapat Arist Merdeka Sirait Ketua Komnas Perlindungan Anak, Presiden Joko Widodo harus diingatkan pada Inpres No. 5/2014 tentang Gerakan Nasional Antikejahatan Seksual terhadap anak sebagai pintu masuk pemerintah membuat kebijakan agar anak lebih terlindungi.

Tak hanya itu, pemerintah mendorong seluruh masyarakat untuk membentuk tim reaksi cepat sampai ke tingkat RT/RW agar masyarakat lebih waspada jika ada anak yang menjadi korban kekerasan  serta(Media Indonesia, 12/06/15)"Perpu tentang pemberatan hukuman pelaku kekerasan seksual terhadap anak dengan dikebiri merupakan langkah yang tepat dengan kondisi seperti sekarang ini," tambahnya.

Selain hukuman yang harus diperberat, kekerasan terhadap anak juga harus dikatakan sebagai kejahatan luar biasa dan ini sangatlah penting dan jika tidak, maka tidak akan selesai kejahatan terhadap anak.

Kita semua berharap, preseden buruk tentang kekerasan terhadap anak yang menimpa Halimah yang dibunuh ayah kandungnya sendiri di Bima NTB 29 April 2015; Ceri yang berusaha dibunuh oleh ibu kandungnya di Balikpapan 4 Maret 2015; empat anak yang masih bayi dan seorang anak gadis yang diperkosa ayahnya di Samarindi Kalimantan Timur 13 Mei 2015; lima anak ditelantarkan orang tuanya di Cibubur 14 Mei 2015; dan Angeline yang ditemukan meninggal dan dikubur di rumah ibu angkatnya di Bali 10 Juni 2015 tidak terjadi kepada anak-anak lainnya

Marilah kita selamatkan anak-anak Indonesia sebagai generasi sehat bangsa untuk melahirkan generasi emas di 2045 ke depan.

*) Penulis Siswa SMA Taruna Bumi Khatulistiwa Kab.Kubu Raya

 

 

Rocky

saya seorang plajar dari Sma taruna Bumi Khatulistiwa hobi suka menulis