Darurat Kejahatan Anak, KPAID Tangani 18 Kasus

Darurat Kejahatan Anak, KPAID Tangani 18 Kasus

  Sabtu, 21 May 2016 09:23

Berita Terkait

MEMPAWAH- Pemerintah Kabupaten Mempawah dituntut serius dalam menangani kasus kejahatan anak dilingkungan masyarakatnya. Sebab, Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) mencatat, hingga Mei 2016 ada 18 kasus anak yang masuk di meja kerjanya. Tak berlebihan jika Mempawah dikatakan darurat kejahatan anak.

 “Melihat laporan yang masuk kepada kami, ada 18 kasus kejahatan anak sepanjang tahun 2016 ini. Jumlah ini sangat besar dibandingkan sebelumnya. Disamping kasus kejahatan anak yang meningkat, kesadaran masyarakat untuk melapor juga semakin baik,” kata Ketua KPAID Mempawah, Drs. Kusmayadi, Jumat (20/5) sore.

Kusmayadi menyebut, tidak dapat dipungkiri meningkatnya kasus kejahatan anak diwilayah itu menimbulkan keresahan dan kehawatiran. Sebab, setiap kasus kejahatan anak dipastikan berdampak buruk terhadap masa depan korban. Bahkan, menimbulkan trauma dan ancaman gangguan mental.

 “Tidak sedikit korban kejahatan yang mengalami trauma berkepanjangan hingga nyaris bunuh diri. Makanya, kami selalu melakukan penampingan terhadap para korban. Semaksimal mungkin kita berupaya mengembalikan mental dan kepercayaan diri korban,” tuturnya.

Kusmayadi mengungkapkan, para pelaku kejahatan anak cenderung dilakukan orang-orang disekitar korban. Mulai dari orang tua sendiri, paman, tetangga, teman sekolah, teman bermain dan lainnya. Karenanya, pengawasan terhadap anak harus dilakukan dengan maksimal oleh para orang tua.

 “Banyak faktor yang mendorong pelaku kejahatan anak. Salah satunya tayangan pornografi baik melalui tontonan televisi, media sosial, situs porno dan lainnya. Makanya, kami sangat  mendukung langkah KPAI untuk memblokir game-game online yang bersifat pornografi,” tegasnya.

Ditanya upaya penanggulangan, Kusmayadi mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Mempawah dalam mensosialisasikan tentang aturan perundang-undangan yang melindungi anak-anak dari pelaku kejahatan.

 “Kita libatkan para guru, karena kurang lebih tujuh jam dalam sehari anak berada dilingkungan sekolah. Sehingga guru memiliki peran yang penting selain orang tua dalam membentuk karakter dan kepribadian anak,” pendapatnya.

Lebih jauh, Kusmayadi menyatakan dukungannya terhadap rencana pemerintah menambah hukuman terhadap pelaku kasus kejahatan anak. Termasuk pula diberlakukannya hukuman mati dan kebiri terhadap pelaku.

 “Hukuman dalam aturan yang ada sekarang, memang tidak berat sehingga perlu dilakukan revisi. Kami optimis dengan penambahan hukuman itu akan memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan anak. Dengan begitu, kasus kejahatan anak dapat diminimalisir,” harapnya mengakhiri.(wah)

Berita Terkait