Dari Teman Jadi Demen

Dari Teman Jadi Demen

  Sabtu, 26 March 2016 11:05

Berita Terkait

Dari temen jadi demen. Begitu ungkapan yang tepat pada mereka yang memiliki rasa cinta pada sahabat dekatnya. Beragam respon yang dimunculkan. Ada yang memilih mengungkapkan, ada pula yang memilih diam. Ada yang jadian, ada pula yang tetap berteman. Salahkah? Oleh : Marsita Riandini

Apa yang kita kini tengah rasakan? Mengapa tak kita coba persatukan? Mungkin cobaan untuk persahabatan? Atau mungkin sebuah takdir Tuhan?

Penggalan lirik lagu Zigas ini tentu sudah familiar di telinga Anda. Lagu ini bercerita tentang cinta pada seorang sahabat. Kisah ini sering terjadi pada kehidupan nyata. Setiap orang berhak mencintai siapa pun. Sebab cinta kadang kala tumbuh tanpa disadari seseorang. Termasuk pula dengan sahabat sendiri. Bagaimana dengan Anda, apakah termasuk salah satu yang mencintai sahabat sendiri?

Tak ada salahnya mencintai dan menumbuhkan rasa itu dengan sahabat dekat. Semua bergantung apa yang menjadi tujuan dari masing-masing individu. Demikian yang disampaikan oleh  Maria Nofaola, S.Psi., M.Psi., Ch.t., Psikolog  kepada For Her. “Biasanya cinta tumbuh karena sejak awal sudah merasa nyaman dengan sahabatnya itu, lalu terbuka pikirannya bahwa si dia baik, menarik, nyambung. Kalau dijadikan suami romantis, ngemong banget. Sisi-sisi inilah yang membuat tumbuhnya cinta,” ucap Psikolog di Rumah Sakit Sultan Syarif Muhammad Alkadrie ini.

Setiap orang juga harus menyadari bahwa ketika mencintai seseorang, dia tidak bisa memaksa untuk memiliki seseorang menjadi pendamping hidupnya. “Tinggal apakah seseorang tersebut mau mengontrol, menumbuhkan atau tidak cinta yang ia rasakan kepada sahabatnya itu,” tambah wanita yang hobi membaca ini.

Mencintai seseorang, terutama orang yang tepat bukanlah sebuah kesalahan. Akan menjadi masalah jika mencintai lantas ingin memiliki seseorang yang sudah memiliki ikatan pernikahan dengan orang lain. “Orang yang tepat artinya orang yang belum menikah. Apalagi bagi kita yang terikat dengan norma agama, tentu ada aturan yang harus dipahami. Jika ternyata dia single, tidak masalah. Tinggal menentukan apakah dilanjutkan atau tidak,” paparnya.

Urusan menaruh rasa cinta pada sahabat sendiri  tentu tidak sama antara orang yang satu dengan yang lainnya. Bahkan mungkin dia merasa banyak sisi negatif dari sahabatnya tersebut, tetapi tidak memahami kenapa cinta itu tetap tumbuh. “ Meskipun dia tahu kejelakkan sahabatnya itu, tetapi dia juga menyadari ada sisi positif yang dimiliki. Sebab manusia memang memiliki sisi positif dan negatif. Misalnya meskipun dia ngomongnya kasar, tetapi dia perhatian. Dia bisa menjadi teman curhat yang baik. Apalagi dia selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan curhatan tersebut,” ulasnya.

Saat memiliki rasa cinta pada sahabat sendiri, muncul kekhawatiran pada diri seseorang bahwa nantinya akan merusak hubungan persahabat yang telah dijalani bertahun-tahun.  Padahal sebenarnya, lanjut dia tak ada salahnya mengungkapkan rasa cinta pada sahabat sendiri.  “Ini kembali lagi pada tujuannya apa. Ingin kepemilikan? Maka harus ngomong. Terserah mau cewek duluan atau cowok duluan. Emang harus ditunjukkan. Tidak ada masalahnya,” papar Maria.

Segala sesuatu pasti ada konsekuensinya. Salah satunya harus siap menerima, bahwa ketika perasaan itu terucapkan, maka tidak selalu harus bersambut. Ini karena cinta tidak bisa dipaksakan. “Kalaupun ternyata hubungan itu berlanjut pada pacaran, bila nantinya putus ada yang tetap berkomunikasi baik ada juga yang tidak. Tergantung gaya pacaran masing-masing. Biasanya kalau mereka pacaran ada kontak fisik, ini yang sulit. Tetapi kalau pacarannya biasa saja, sekalipun putus tetap saja bisa berkomunikasi baik,” ucap dia.

Tetapi tak ada salahnya bila seseorang mau tetap berjuang mendapatkan cinta sahabatnya itu. “Silahkan perjuangkanlah cinta tersebut dengan cara yang baik. Tidak ada yang tersakiti dan dilukai. Saling memahami posisi masing-masing, meskipun mungkin salah satunya berharap ada yang berubah pikiran,” sarannya.

Dia mencontohkan, misalnya si cowok suka sama sahabat ceweknya. Setelah diungkapkan, ternyata si cewek hanya anggap teman. Tetapi si cowok tetap berusaha seperti menjemputnya, mengajaknya makan, atau lain sebagainya. Itu silahkan saja, selama tetap pada kesiapan diri bahwa si cewek belum tentu berubah pikiran.

Sampai kapan harus menunggu? selama masih tetap bertahan untuk berjuang dan berharap sahabat tadi berubah pikiran silahkan saja. Sebab tak ada batasan untuk menunggu. “Sampai kapan menunggu, masing-masing orang relatif ya. Tapi jangan sampai merusak diri sendiri. Jangan sampai aktivitas hariannya terganggu. Misalnya dia bekerja, pekerjaannya menjadi tidak fokus. Tidak bisa belajar dan sebagainya. Tetapi harus tetap semangat,” pungkasnya. **

Berita Terkait