Dari Penyiar Televisi hingga Produksi Film Dokumenter

Dari Penyiar Televisi hingga Produksi Film Dokumenter

  Selasa, 23 Agustus 2016 09:30
Tjandra Wibowo

Berita Terkait

Tjandra Wibowo mengawali kariernya sebagai penyiar televisi. Ia juga dipercaya sebagai produser. Kemudian perempuan berusia 49 tahun ini mengembangkan sayapnya pada film dokumenter.Ia pun mendirikan rumah produksi, yang kini banyak memproduksi karya-karya dokumenter.

Oleh: Marsita Riandini

Tjandra  mengawali kariernya dari kerja paruh waktu di TVRI. Saat menjalani kuliah tingkat akhir di Institut Pertanian Bogor (IPB), ia pun mendaftar di salah satu TV swasta di Indonesia. 

“Saat bapak meninggal, saya mencari beragam kesibukkan agar tidak merasa sepi. Karena saya sangat dekat dengan bapak. Selain saya ketua paduan suara di IPB, saya juga partime sebagai pembaca berita TVRI,” ujarnya yang ditemui For Her ketika menjadi juri film pendek Kita Boleh Beda besutan BNPT dan FKPT Kalbar di Pontianak pada 26 Agustus lalu.

Setelah melalui tahapan seleksi, ia pun diterima. Perempuan bernama lengkap Sutjiati Eka Tjandrasari ini pun menjadi presenter dan produser di TPI dari 1990 hingga 1994. Kemudian ia pun pindah ke SCTV. Di stasiun televisi itu Tjandra dipercaya sebagai koordinator presenter. 

Puncak pemberitaan dunia politik terjadi pada 1998. Ketika itu Tjandra menjadi presenter andalan. Siapa pun bersedia diwawancara olehnya, termasuk Presiden RI. Tetapi, ketika memasuki tahun 2000, Tjandra merasa tak nyaman lagi menjadi pembawa berita seputar politik. Banyak hal yang mengganjal di benaknya. Banyak juga yang bertentangan dengan hatinya. 

“Saya mengenal salah satu tokoh politik yang saya kagumi. Ternyata setelah terpilih, dia berubah. Disitulah salah satu alasan, yang membuat saya ingin pindah dari politik ke sosial,” ungkap Tjandra. 

Keputusannya untuk pindah dari bidang politik ke sosial ditentang sang pimpinan redaksi, yang ketika itu dijabat oleh Karni Ilyas. Apalagi Tjandra ingin membuat program nasional geographic, yang dianggap tidak akan banyak yang menonton. Tetapi Tjandra tetap bersikeras dan menjelaskan tak akan menjadi masalah walaupun hanya 10 persen dari sejuta umat yang menonton. 

“Tidak apa dari yang sedikit itu tetapi menyerap semua. Seperti setitik oase. Terpenting apa yang saya sampaikan itu benar. Lebih baik 10 orang yang nonton, daripada banyak yang nonton tetapi apa yang saya sampaikan itu salah. Menurut saya  lebih bermakna 10 orang yang menonton itu,” ulas wanita kelahiran Bogor ini. 

Ternyata program nasional geographic dan discovery  itu mendapat respon yang bagus. Penontonnya banyak meskipun durasi awal hanya lima menit.  

“Saya buat tidak ada tutornya. Benar-benar tutornya hanya kotak TV itu aja. Saya ikuti, terjemahin, dan ikutin alurnya seperti apa.  Eh, ternyata setelah tayang satu kali, dua kali, dengan durasi lima menit, peminatnya banyak,” tuturnya. 

Tiga bulan kemudian, dia bersama  tim diminta membuat stripping program tersebut untuk ulang tahun stasiun tempatnya bekerja. Tak disangka responnya juga baik, padahal ditayangkan diatas jam 12 malam.

“Lalu diminta untuk membuat acara Potret yang ditayangkan setelah Liputan 6 Siang,” paparnya. 

Kecintaannya terhadap film dokumenter terus berlanjut. Ia terus mengasah kemampuannya hingga memutuskan mendirikan rumah produksi bersama temannya. Rumah produksi itu diberi nama Samuan (PT. Samuan Rumah Kreasi), diambil dari bahasa Sankesekerta yang berarti perhelatan. 

Tjandra pun mulai menggali keragaman dan keunikan Indonesia. Hampir seluruh daerah di Indonesia sudah didatanginya. 

“Banyak yang bilang ke saya, kenapa mau melakukannya padahal tidak ada duitnya. Namanya hidup, bukan berarti tidak butuh uang. Kalau kita membuat sesuatu  itu dengan bagus, pasti ada peminatnya. Meskipun peminatnya hanya satu, dua, itu soal lain. Saya punya keyakinan seperti itu. Itu namanya hidup,” jelas Tjandra. 

Beberapa film dokumenter yang pernah dibuatnya yakni Anganku, Kampoeng Halaman, Pijar, Satu Jiwa, dan karya-karya profil perusahaan. Program Anganku, yang memotret anak-anak di seluruh penjuru nusantara dan mimpi-mimpi mereka. Karya dokumenter lain yaitu Kampoeng Halaman, yang ditayangkan RCTI pada 2003, memotret keragaman budaya di Indonesia, berfokus pada interaksi warga dan lingkungannya. 

Tak hanya pengalaman menyenangkan saja, ia bahkan hampir empat kali mengalami kecelakaan. “Saya sudah hampir empat kali kecelakaan. Antara garis kehidupan dan kematian itu dekat sekali. Ya itulah hidup. Jalani saja. Bahkan pernah hampir jatuh dari tebing, mobil kami terbalik,” imbuhnya. 

Tapi dari situlah pembelajaran hidup ia dapatkan. Seburuk apapun yang ia hadapi, ia merasa selalu menemukan jalan Tuhan, terutama di titik akhir mendekati putus asa. Ibarat jatuh tertimpa tangga pun pernah dirasakannya. Dari masalah pekerjaan, hingga masalah dalam rumah tangga. Tapi akhirnya, dengan keyakinan akan kebesaran Tuhan, dia pun berhasil melaluinya. 

“Sekarang saya merasa menjadi orang yang sangat beruntung. Memiliki satu anak dan suami yang begitu menyayangi saya. Saya diberikan amanah untuk merawat dan membesarkan buah hati yang melengkapi kehidupan saya,”pungkasnya. **

Ingin Membuat Ensiklopedia Budaya

Pengalaman Tjandra Wibowo mengekplore keragaman dan keunikan Indonesia dari Aceh sampai Papua tentu memberikan pengetahuan yang luas. Ia memiliki ribuan jam potret kehidupan masyarakat yang didokumentasikan dalam film. 

“Saya bercita-cita ingin membuat semacam ensiklopedia budaya. Selama 12 tahun ada banyak sekali cerita yang bisa saya tuangkan. Jika Pramoedya Anantatoer membuat sejarah dalam kemasan novel. Saya ingin membuat dokumentasinya dalam bentuk film,” ucap wanita yang hobi travelling dan berenang ini. 

Dia berkeyakinan, lewat film, masyarakat bisa mengingatnya. Karena masyarakat akan mengetahui dengan melihatnya secara visual. 

“Saya tidak berharap atau bertumpu sama dinas terkait yang mereka membutuhkan ensiklopedia budaya. Tetapi saya ingin apa yang saya buat menjadi knowledge bagi masyarakat,” ungkapnya. 

Banyak yang mengatakan kepadanya bahwa keinginannya itu terlalu absurt. Itu adalah urusan pemerintah. Tetapi dia merasa itu tidak masalah. Tidak pula dosa. “Pertanyaannya dapat uang dari mana? Saya katakan bahwa hidup itu idealisme. Saat ini banyak orang yang berbicara tentang idealisme, tetapi tidak memikirkan bagaimana mendirikan idealismenya,” tuturnya. 

Ketika awal mendirikan perusahaan, Tjandra mendapat yang dari tabungannya sejumlah Rp15 juta. Uang itu dibagi dua untuk menghidupkan perusahaan. Satu untuk idealisme, satunya untuk komersil. 

“Saya mengerjakan profil-profil perusahaan, saya buat seri dari TV, itu ada rupiahnya. Itulah yang menghidupi idealisme saya,” papar dia. 

Menyinggung soal kemampuan anak muda dalam membuat film saat ini, dia melihat itu sangat baik. Generasi muda terus mengasah kemampuan dalam dunia perfilman. Apalagi saat ini peralatan untuk produksi film bisa dengan mudah didapat. Bisa belajar melalui youtube, ataupun pendidikan seperti di SMK. 

“Masalahnya kemana karya mereka akan ditampilkan. Itu yang menjadi PR kita,” ulas Tjandra.

Keberadaan digital web saat ini dapat membantu kiprah anak muda itu, termasuk lewat youtube walaupun jumlah yang didapat tidak banyak. Tjandra pun juga ingin membuat semacam buka lapak untuk membantu komunitas film. 

“Sekarang banyak web digital yang membutuhkan konten. Kalau mereka harus produksi  tentu mahal, mending beli, tetapi beli juga mahal banget. Tapi dengan web seperti itu mereka menjadi kontributor di web itu dan bisa dibeli orang. Harganya murah, tapi tidak eksklusif siapa saja bisa beli,” tutupnya. (mrd)

Berita Terkait