Dari Penelitian Hingga Pakan

Dari Penelitian Hingga Pakan

  Jumat, 1 April 2016 10:13

Berita Terkait

TAK begitu sulit memelihara Tikus Putih. Hanya ditempatkan di bak-bak plastik dan bak tersebut bisa ditempatkan di rak-rak sederhana. Makanannya pun cukup mudah didapat dan murah. Bisa dari sisa-sisa dapur atau pakan lain yang banyak tersedia. Tak perlu tambahan makanan macam-macam dan tak harus membeli.

Tikus putih memiliki spesifikasi tersendiri. Biasanya tikus putih ini akrab dalam dunia penelitian. Namun bukan sembarang tikus putih. Karena ada jenis khususnya. Biasany jenis Galur Wistar. Ada juga yang bukan jenis tikus, namun mirip yang akrab disebut Mancit.

Untuk penelitian para mahasiswa baik itu kedokteran, farmasi dan perawatan, tikus putihlah yang menjadi banyak pilihan. Namun mahasiswa di Pontianak ini kerap mengalami kesulitan untuk mencari tikus putih ini. Masih belum banyak peternak di Pontianak yang mengembangkan tikus putih untuk penelitian.

Akhirnya mahasiswa harus mendatangkan tikus putih dari luar Kalbar dan resiko kematian dari tikus selama pengiriman pun tinggi. Kesulitan dan kecemasan mahasiswa inilah yang membuat otak Ryan Arifin, mahasiswa Fakultas Kedokteran Untan Pontianak berpikir untuk mengembangkannya, dan akhirnya ia menjadi pengusaha ternak tikus.

Pemilik D’CITI RAT (Dagangan Tikus Putih dan Mancit untuk Skripsi dan Riset) ini mengawali usahanya saat akan menyusun skripsi. Selama menyusun Skripsi, ia diharuskan melakukan penelitian menggunakan tikus putih. Idenya pun muncul untuk membuat ternak sendiri di rumahnya.

Melalui ajang Program Kreativitas Mahasiswa(PKM), Ryan membawa ternak tikusnya dengan membuat proposal penelitian dan wirausaha. Tak disangka, proposal diterima dan dia pun melanjutkan misinya ke pimnas ( pekan ilmiah mahasiswa nasional) 2014 lalu. “Setelah itu kita dilombakan dan presentasi di Undip Semarang,” ungkap Mahasiswa yang sedang menjalani magang (Co Assistan) di RS Sultan Starif Abdurrahman ini.

Sebelum presentasi di babak final, dia terlebih dahulu beberapa kali didatangi pihak pimnas mengecek kondisi peternakannya. Dinas peternakan dan kesehatan hewan juga mendatanginya secara berkala untuk memberikan sertifikasi kepada peternakan miliknya agar bisa digunakan mahasiswa untuk penelitian. Bahkan pernah dikunjungi langsung pihak ITB.

Beruntung, selama mendirikan peternakan tikus putih ini, ia mendapatkan banyak dukungan berkat prestasinya. Bermodal tujuan dan visi untuk memajukan peneliti dari universitas di Kalbar, presentasinya memberikan modal usaha pertama yang cukup besar. Melalui modal itu, ia kemudian diarahkan oleh pimnas untuk mendapatkan indukan tikus putih dari peternak Jogjakarta.

Peternakan tikus putihnya, berawal dari niatnya untuk memudahkan proses penelitian yang menggunakan tikus di Pontianak. Lambat laun, permintaan akan tikus putihnya melebar ke penggemar hewan reptil dan digunakan sebagai pakan hewan.

Menurutnya, spesifikasi tikus untuk pakan tidak setinggi syarat tikus untuk penelitian. Biasanya, tikus yang berumur 1 bulan sudah dipesan oleh penggemar reptile untuk memberi makan hewan kesayangannya. Sedang tikus untuk penelitian, harus berumur 1,5 sampai tiga bulan untuk tikus putih dengan berat 150-200 gram.

Saat ini, ia mengaku sedang mengistirahatkan usahanya sejenak karena kesibukan koas. Awalnya ia mampu menjalankan ternak sambil koas. Setelah selesai koas, ia bertekad untuk melanjutkan usahanya yang sudah terlanjur besar untuk dihentikan total.

Peternak tikus putih untuk penelitian yang memiliki sertifikasi masih sangat jarang di Kota Pontianak. “Setelah berjalan beberapa bulan, permintaan tetap tinggi dan kita tidak bisa memenuhi itu, jadi terpaksa tutup sementara. nanti pasti akan lanjut lagi bersama tiga teman saya,” ungkapnya.(*)

Berita Terkait