Dari Masuk Bui, Kini Dikenal jadi Da’i

Dari Masuk Bui, Kini Dikenal jadi Da’i

  Selasa, 23 February 2016 08:11
Anton Medan

Berita Terkait

Sekitar tahun 1980-an, nama Anton Medan populer di masyarakat Indonesia. Kepopulerannya ini bukan karena prestasinya, melainkan karena aktivitasnya merampok hingga membunuh. Namun semuanya berubah 180 derajat ketika dia memilih bertaubat. Dari yang keluar masuk bui, kini Anton dikenal sebagai da’i. Oleh : Mella & Marsita

Mengenakan baju berwarna hitam bermotif naga, Anton Medan datang ke redaksi Pontianak Post bersama rekan-rekan lainnya. Dia berbagi cerita tentang kehidupannya, baik di masa lampau yang memiliki ragam cerita hitam, hingga kehidupannya di masa sekarang yang mulai berdamai dengan perintah Tuhan.

Kedatangannya ke Kalimantan Barat untuk memenuhi undangan pada perayaan Cap Go Meh yang berlangsung di Singkawang. Singkawang sudah tak asing lagi bagi Anton. Kedatangannya kali ini pun bukanlah kali pertama.  Tak ada lagi cerita rampok-merampok, tak ada lagi kasus bunuh-membunuh. Semua rekam jejak hitamnya kini menjadi kisah masalalu. “Saya masuk penjara sejak tahun 1971. Itu kasusnya pembunuhan. Orang mungkin mengecap saya jahat. Tapi mereka tidak tahu apa penyebabnya. Saat itu uang saya dirampas, saya dihina. Ini yang membuat saya marah, lalau saya bacok,” jelasnya yang saat itu bekerja sebagai tukang cuci mobil dan uangnya untuk membantu orang tua.

Empat tahun mendekam di penjara, tak lantas membuatnya jera. Semakin mendapat cibiran masyarakat, dia semakin berontak. Masa mudanya dihabiskan sebagai anak jalanan dengan beragam kejahatan.“Saya tak ragu untuk merampok, toh dipenjara enak kok. Kasus saya tidak ada lain, saya tidak menipu juga tidak narkoba. Tetapi rampok, bunuh...  rampok, bunuh,” timpalnya enteng. 

Sejak itu ia dikenal sebagai perampok dan pembunuh. Anton pun keluar masuk penjara dengan kasus yang sama. Dia bahkan mengaku 14 kali keluar masuk penjara. “Tahun 1971 saya dihukum  4 tahun, dipenjara lagi 6 tahun, lalu 3 tahun, 2 tahun, dan terakhir 12 tahun,” katanya mengingat masa tahanan yang pernah diterimanya.

Di tembok penjara, Anton pun mendapatkan pergolakan batin tentang keyakinannya. Hingga akhirnya dia memilih berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Dia merasa ketika bersentuhan dengan Islam, hatinya menjadi tentram. “Tahun 1992  saya masuk Islam. Tiga hari setelah itu saya umrah, tahun 1993 saya naik haji,” jelasnya.

Tak hanya mengucapkan dua kalimat syahadat saja, Anton pun mulai mempelajari agama yang dianutnya itu. Bahkan sekarang dia dipercaya menjadi Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).  Anton juga merangkul bekas narapidana untuk bekerja dengannya. Ada sekitar  2 ribu orang yang sudah diajaknya mengembangkan usaha pecal lele. “Ada 348 lapak. Satu lapak lima orang,” papar dia.

Sementara itu, ada sekitar 1500 bekas narapidana yang menjadi santri di pondok pesantren miliknya. Semua biaya digratiskan. “Memang tidak mudah menjadi Anton Medan. Dari anak jalanan, bekas narapidana, sekolah pun tidak. Tapi berbekal pengalaman saya turun memberikan motivasi kepada narapidana agar mereka mau memperbaiki kesalahannya,” ucap dia.

Baginya, hidup manusia berada di tiga dimensi waktu. Masa lalu biarlah berlalu. Masa sekarang apa yang bisa di lakukan dan masa yang akan datang akan mempertanggungjawabkannya. Untuk seorang Anton Medan, penjara di dunia bukanlah akhir dari segalanya, melainkan yang utama adalah penjara di akhirat ketika setiap orang dimintai pertanggung jawaban. “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kalau dia sendiri tidak ingin mengubahnya. Apa yang saya lakukan saat ini bukan karena manusia, tetapi karena Allah,” pungkasnya yang mengatakan aktivitas dakwahnya saat ini tak hanya dari daerah ke daerah tetapi juga pernah diundang ke Malaysia, Kamboja, Hongkong, dan negara lainnya.  **

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait