Dari Malaysia ke Pontianak untuk Menuntut Ilmu

Dari Malaysia ke Pontianak untuk Menuntut Ilmu

  Sabtu, 15 Oktober 2016 09:08

Berita Terkait

Pemuda Limbang Serawak Malaysia

Sinar matahari di Miri Malaysia terasa hangat, dengan suhu 28 derajat celsius. Awang Mohamad Fahmi Zaquan, bersama keluarga bersiap-siap. Semangat yang kuat terbalut dijiwanya, perjalanan jauh tak membuat niatnya surut, laju mobil yang membawanya terus bergegas. Dari Miri hingga Sibu banyak berdiri pohon kelapa sawit, menjadi pemandangan salama perjalanannya. Pohon-pohon sawit itu seakan-akan menyapa dan bertanya, mau kemanakah kau anak muda?.

Pertanyaan itu terjawab oleh pemuda kelahiran Limbang, 7 November 1995 itu, setibanya di Kota Pontianak pada Kamis, 25 Agustus 2016. Pemuda lulusan Pusat Latihan Dakwah Hikmah itu, menempuh perjalanan kurang lebih 27 jam.

“Mula-mula jejak kaki di Entikong, saye sendiri bermula berpikir negatif, karena ramai gangster, tetapi tibe saye di Kota Pontianak, pikiran saye terus bertukar ke 360 derajat, sebab di sini manyoritas masyarakatnye ramah, saye suke satu slogan “Anda sopan, kami segan”, saye pikir patutlah semue orang Pontianak ni bagus-bagus, sebab slogannye tu bukan hanye melekat di bibir, tapi dimasukkan dalam hati,” tutur pria yang akrab disapa Fahmi di awal percakapan bersama Pontianak Post.

Fahmi anak kelima dari enam bersaudara, anak dari seorang ayah bernama Mohamad Junaidi dan ibu bernama Nor Raidah. “Saudara kandung ade enam, dua abang, saye anak kelima, ada  satu orang kakak dan satu orang adek, yang merantau ke luar negeri baru saye seorang,” jelasnya.

Fahmi mendaftar sebagai mahasiswa baru, melalui jalur kerja sama antara IAIN Pontianak dengan Lembaga Hikmah Serawak, Malaysia, yang membuka peluang kepada Mahasiswa IAIN Pontianak, untuk melakukan program pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk pembinaan muallaf di wilayah Serawak, Malaysia. 

“Masuk ke IAIN Pontianak alhamdulillah dipermudahkan, pihak IAIN Pontianak dan pihak Hikmah sudah ada jalinan kerja sama sebelumnya, ketika itu mahasiswa IAIN pernah ke Kuching dan ditempatkan di pedalaman. Seluruh Serawak 20 orang pelajar lelaki yang dipilih, dan Fahmi salah satunye,” ujarnya.

Fahmi melanjutkan, “Pusat Latihan Dakwah Hikmah bergerak dalam bidang Dakwah Islam. Lembaga ini mensyiarkan dakwah di berbagai bidang seperti pendidikan, ekonomi, budaya di daerah Serawak,” lanjutnya.

Fahmi tidak pernah terpikirkan akan kuliah di IAIN Pontianak, pemuda ini sebelumnya berkeinginan untuk melanjutkan studi ke Malang, Surabaya dan Gontor. Namun takdir berkata lain. “Sebelum jejak kaki ke IAIN Pontianak, tak pernah terpikirlah, pikiran saye ke Malang, Surabaya, dan ke Gontor, tapi tak tahu kenape diantar ke sini, sudah takdir Allah SWT,” ungkapnya.

Ini menjadi kali pertama Fahmi menginjakkan kaki di Bumi Khatulistiwa. Tentu ada beberapa kecanggungan yang dirasakannya, di antaranya dari segi bahasa. “Dari segi bahasa satu kesulitan bagi diri saye sendiri lah, tapi dari segi budaya tak jauh beza, sebab masih dalam satu rumpun negara,” kata Fahmi sambil memperlihatkan kesulitannya dalam berbahasa Indonesia.

Dua minggu sebelum berangkat ke Pontianak, Fahmi sudah memikirkan bagaimana keadaan kampus.“Dua minggu sebelum berangkat saye terpikir-pikir, bagaimana keadaan kampus, macam mane keadaan masyarakat, mahasiswa, dosen, apekah akan jadi masalah bagi saye dalam pelajaran, sebab bahase,” pikirnya.

“Saye sudah buka youtube, saye cek beberapa detail tentang kampus. Saye sudah buka beberapa detail tentang jurusan KPI. Jadi, dari situ saye dapat gambaran, mahasiswa dan dosen menerima saye dengan hati terbuka luas, bagi saye mahasiswa dan dosen sini lidahnye tidak mau ringan, sebab menerima terlampau baek,” kata Fahmi dengan hati senang.

Ketika akan berangkat kuliah ke Pontianak, keluarga Fahmi merasa tidak setuju, dikarenakan tempat yang begitu jauh. “Mula-mula family tak setuju sangat, sebab terlampau jauh, merantau ke negara orang. Selepas mereka antar saye ke sini dan melihat keadaan, alhamdulillah mereka cakap okey, sesuai untuk diri sendiri tempat ini. Dari pihak lembaga juga mensuport, mereka cakap, teruskan!,” ucap Fahmi dengan mimik wajah begitu bersemangat, sambil memperagakan gaya sang guru.

Saat ini Fahmi masih dalam tahap penyesuaian dengan kawan-kawan kelas dan para dosen di kampus. “Sudah berjalan tiga minggu, masih dalam penyesuaian, termasuk di segi bahase, bahkan penyesuai dengan berbagai suku di kelas, ada melayu, jawa, madura, bugis dan lainnya, unik. Dari segi pelajaran, pihak dosen memberi support yang bagus, ketika saye tak paham, ditranslate kan ke dalam bahase Inggris dan bahase Melayu Baku.”

Orang tua dan guru berpesan kepada Fahmi, jangan mudah terpengaruh oleh orang lain, harus fokus dengan tujuan utama, yakni menuntut ilmu. “Pesan orang tue, jangan mudah keikut-ikut orang, jangan mudah tertipu. Guru becakap, kalau kamu di sana, yang dicari adalah ilmu, bukan yang dicari adalah pendampingmu,” kata Fahmi sambil tertawa kecil.(*)

Berita Terkait