Dari Karyawan ke Usaha Milik Sendiri

Dari Karyawan ke Usaha Milik Sendiri

  Rabu, 11 May 2016 10:36
PENJAHIT: Rusida (tengah) bersama rekan-rekannya menunjukan hasil jahitannya. Jasa penjahitan sendiri kian berkembang seiring kebutuhan sandang yang meningkat. IST.

Berita Terkait

Bila ada jasa yang tak lekang oleh waktu, mungkin kita hanya bisa menyebut sedikit saja. Salah satunya adalah penjahitan. Bisnis ini tumbuh seiring pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan masyarakat akan sandang yang juga meningkat.

Aristono, Pontianak

SALAH seorang yang menggeluti jasa penjahitan adalah Rusida. Perempuan 36 tahun ini sangat getol untuk menjadi penjahit profesional. Kendati sudah punya keahlian sejak masih remaja, namun dia tak pernah berhenti belajar dan mengikuti perkembangan zaman.

Pada 2003 lampau, pertama kali dia mengenal mesin jahit dan mempelajari menggunakannya. “Saya ikut kursus, walaupun hanya tiga minggu,” kata dia.

Memang lantaran berbakat, meski hanya berlatih singkat, dia sudah diterima menjadi karyawati sebuah usaha penjahitan di Pontianak. Tidak hanya bekerja saja, dia juga mempelajari sistem manajemen dan servis kepada perusahaan dalam bidang penjahitan.

Cukup nekad, karena tidak mau terus-terusan menjadi karyawan, dan sudah punya modal sendiri, pada tahun 2011 dia berhenti dari toko jahit itu. Dia membuka usaha penjahitannya sendiri, di rumahnya, Jalan Parit Semben, Punggur, Kubu Raya. Bekerja di rumah sendiri memiliki banyak keuntungan. “Saya bisa bertemu anak dan suami kapan saja. Bekerja di rumah sendiri juga lebih menenangkan,” sebutnya.

Tak mau tanggung dalam berbisnis, teman-teman sesama karyawan di tempat usaha jahit sebelumnya. Dia juga membeli barang-barang jahit dari tempatnya bekerja dulu, yang memang beralih usaha ke sektor lain. Bahkan pelanggan sebelumnya juga sebagian besar pindah ke tempat jahitnya.

Ditegaskanya kembali yang membuat dia semakin yakin dengan apa yang dialaninya sebagai penjahit adalah bahwa urusan jahit menjahit terus mendorongnya menjadi kreatif. Rusida terus berpikir model apa yang saat ini lagi trend. Tak hanya itu kemampuan mengombinasikan warna dengan bahan dan model juga menuntut ia untuk terus mengasah kemampuanya.

Selain menerima jahitan atau memotong baju, dia juga menerima permak gaun. Saat ini sejumlah butik yang berlangganan dengan dia untuk permak gaun. Dengan adanya permak gaun selain pengerjaan cepat, penghasilan bertambah juga ia bisa mendapatkan ilmu baru dari apa yang dia permak. Seperti dari model, gaya dan jenis jahitan yang mana sebagian besar dan ada beberapa gaun yang ia permak adalah produk impor.

"Kadang juga setelah kita permak, orang yang langganan ke salah satu butik menanyakan lansung kepada orang butik permak di mana. Karena hasilnya memuaskan pelanggan butik tersebut kadang untuk permak dan jahit menjahit ada datang langsung. Selain kita dapat kerjasama dengan butik pelanggan butik juga menjadi pelanggan baru kita," katanya.

Pelatihan wirausaha pun kerap diikutinya untuk menambah ilmu, seperti Inkubator Bisnis Bank Indonesia. Kini dia sudah memiliki CV sendiri yang diberi nama CV Akila MU Collections. 

Tempat penjahitan yang sudah cukup terkenal di Pontianak adalah Family Taylor di kawasan Nusa Indah, yang terkenal menelurkan penjahit-penjahit andal.Terdapat beberapa orang karyawan yang sedang sibuk menjahit. Di tempat ini menyediakan jasa jahit dengan patokan harga yang bervariasi. “Disini lebih banyak ambil upah jahit saja, bahan kebanyakan dari pemesan,” ucap Toni, sang pemilik.

Sesekali kata dia, orderan bisa meningkat ketika ada yang pesan dalam jumlah banyak. “Kami sih tidak berani terima terlalu banyak, paling 50 hingga 100 pasang. Biasanya itu untuk kantor-kantor,” beritahunya.

Kendala dalam bisnis yang satu ini, lanjut dia terletak pada penjahit. Sulit menemukan penjahit yang bisa sesuai keinginan. “Untuk jaga pelanggan itu khan dari hasil jahitan. Jadi kadang sulitnya nyari penjahit,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait