Dari Iten, Kenya Kuasai Pentas Lari Jarak Jauh Dunia

Dari Iten, Kenya Kuasai Pentas Lari Jarak Jauh Dunia

  Minggu, 6 Agustus 2017 09:00
JUARA BERLIN MARATHON: Wilson Kipsang (dua dari kanan) berlatih interval run bersama timnya di lapangan Tambach, Iten, 25 Juli lalu. Foto kanan, suasana pasar loak sepatu lari di Iten.

Berita Terkait

Rumah Mewah, Hampir Pasti Milik Pelari

Penduduk kota ini hanya 50-an ribu. Namun, di sana ada lebih dari 150 kamp lari yang melahirkan ratusan pelari kelas dunia. Itulah Iten, kota yang mengantarkan Kenya jadi penguasa lari jarak jauh. 

Catatan Tomy Cahyo Gutomo 

Iten Home of Champions. Itulah moto Kota Iten. Tertulis di gapura merah yang menjadi gerbang masuk kota. 

Bukannya sombong. Bukan pula membual. Home of Champions memang jati diri kota yang terletak di Elgeyo-Marakwet County itu. Puluhan pelari kelas dunia terlahir digembleng di kota di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan air laut tersebut. 

Wilson Kipsang, pemegang rekor dunia maraton (lari 42,195 km), berasal dari Iten. Hingga kini belum ada yang mampu melampaui catatan waktunya, 2 jam 3 menit 13 detik. 

Lornah Kiplagat pun lahir dan besar di Iten. Dia adalah kolektor gelar juara dunia dua kali dan emas Olimpiade 2008. Eliud Kipchoge mempertegas hegemoni Kenya di lari maraton dengan meraih emas Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. 

Di lari jarak menengah pun, Iten melahirkan pelari terbaik di dunia. David Rudisha yang merebut emas lari 800 meter pada Olimpiade 2012 dan 2016 adalah bukti nyata. Rekor dunia di nomor itu juga dia kuasai. 

Charles Kipsang dan Peninah Kigen yang menjadi jawara Jawa Pos Fit East Java Half-Marathon 2016 juga berasal dari Iten! Berawal dari keinginan Jawa Pos memotret kehebatan Kenya melahirkan pelari jarak jauh, sampailah saya di Iten pada 24 Juli lalu. Kota kecil itu harus ditempuh dengan perjalanan darat 45 menit dari Eldoret. Eldoret sendiri dijangkau dengan penerbangan satu jam dari ibu kota Kenya, Nairobi. 

Tidak lengkap rasanya jika datang ke Iten hanya menyaksikan para pelari berlatih. Karena itu, sebelum berangkat saya sudah booking untuk ikut salah satu kamp di sana. Pilihan saya adalah program dua pekan di High Altitude Training Centre (HATC) Iten. 

Kamp yang didirikan pada 2000 tersebut adalah milik Lornah Kiplagat. Itu adalah salah satu kamp terbaik di antara 150 kamp yang ada di sana. Fasilitasnya paling lengkap dan layak untuk orang asing. 

Willy Songok, manajer HATC, menyatakan bahwa Iten adalah tempat terbaik di Kenya untuk berlatih lari. ”Bahkan, Federasi Atletik Prancis pun punya kamp di sini,” katanya. 

Kondisi alam di Iten memang sangat ideal untuk berlatih. Berada di dataran tinggi, udara di Iten sangat bersih. Tak banyak kendaraan yang melintas di jalan. Karakter jalannya juga naik turun. Baik di jalan raya yang beraspal maupun jalan kampung dengan permukaan tanah liat.

Di Iten juga ada beberapa hutan yang biasa digunakan untuk berlatih. Salah satunya Hutan Singore. Di hutan yang lebat itu, ada tempat khusus untuk berlatih tanjakan, yakni Bukit Fluorspar. Di bukit yang memiliki ketinggian 4 ribu kaki itu, kita bisa berlari terus menanjak sepanjang 21 kilometer. Tanpa turunan! Saya sempat merasakan siksaan tanjakan itu Selasa lalu (1/8). 

”Tanjakan di sini memiliki kemiringan 5 sampai 7 persen. Cukup berat untuk pelari,” kata Adharanand Finn, penulis buku Running with the Kenyan yang juga mengikuti kamp di HATC bersama saya.

Berat, tapi para peserta kamp HATC yang berjumlah 21 orang puas dan bangga bisa merasakan tanjakan sepanjang 21 km itu. ”Saya menikmati sekali. Pemandangannya bagus banget,” kata Anke Esser, rekan saya di kamp HATC.

Perempuan asal Jerman itu berhasil finis pertama dengan waktu 1 jam 48 menit. Dia bahkan mendapat ucapan selamat khusus dari Abel Kirui, peraih perak Olimpiade London 2012. 

Kebetulan kami mampir ke kamp Global Sports, tempat Abel Kirui dan timnya tinggal. Ada 12 pelari yang tinggal di sana. Semua pernah menjuarai race maraton. Ada yang juara di Lisbon, Slovenia, Dubai, Cape Town, Amsterdam, dan sebagainya. ”Akhir bulan ini kami akan pergi ke berbagai race. Ini masa-masa akhir persiapan,” kata Richardo Meto, manajer Global Sports. 

Kamp Global Sports sangat luas. Bahkan, mereka sedang membangun lintasan lari sendiri di halaman depan kamp. Mobil-mobil bagus untuk ukuran di Iten diparkir rapi di depan kamp. Maklum, ini adalah kamp para juara dunia. 

Kondisinya sangat kontras dengan kamp-kamp pelari lokal lainnya di Iten. Saya sempat mengunjungi kamp RunFast. Kamp yang hanya berjarak 2 km dari HATC itu dihuni delapan pelari muda. Empat pelari perempuan, tiga pelari laki-laki, dan seorang pacer. Mereka menempati rumah petak dengan halaman yang hanya sekitar 800 meter persegi. 

Sangat sederhana. Di atas pintu-pintu kamar tertulis nama-nama kota di sejumlah negara, yakni San Diego, Vienna, Frankfurt, London, dan Boston. ”Maksud tulisan itu adalah mimpi kami untuk bisa berlari dan menang di kota-kota besar di dunia,” kata Japhet Koech, salah seorang penghuni kamp RunFast. 

Nama RunFast juga dipilih sebagai bagian dari tekad mereka untuk berlari lebih cepat. Menurut Japhet, mereka dibiayai seorang agen yang tinggal di London untuk berlatih di Iten. Tidak ada pelatih yang mendampingi mereka. Hanya ada satu pacer, yakni Elias Kemboi, untuk mendampingi atlet perempuan. Mereka tengah melakukan persiapan untuk sebuah race di London bulan depan.

Menurut Japhet, mereka berlatih mulai pukul 05.30. Jam segitu sangat gelap di Iten. Biasanya baru terang pukul 06.30. Kemudian dilanjutkan berlatih stretching atau core di kamp. Sorenya dilanjutkan lagi latihan lari. Sudah dua bulan mereka tinggal di kamp tersebut. 

Saat ditanya apa makanan dan suplemen mereka sehari-hari, Japhet dan penghuni kamp lainnya langsung tertawa. ”Kami di sini makan ugali dan ugali setiap hari. Tenaga kami tenaga ugali,” katanya lantas tertawa. Ugali adalah makanan pokok di Kenya. Berupa bubur padat yang terbuat dari tepung jagung. Waktu senggang mereka manfaatkan untuk beristirahat atau jalan-jalan ke pusat Kota Iten. 

Pelari-pelari di Kenya memang terkondisikan menjadi pelari sejak kecil. Menurut Timo Limo, head coach saya di HATC, anak-anak Kenya sudah berlari sejak kecil. Mereka terbiasa berlari pergi pulang ke sekolah. ”Anda bisa lihat sendiri, setiap pagi anak-anak berlari ke sekolah,” kata pemilik nama lengkap Timothy Kipkorir Limo itu. Timo adalah pelari profesional, khususnya untuk jarak 800 meter. 

Pelari-pelari Kenya, lanjut Timo, juga tidak terlalu peduli dengan apparel maupun perlengkapan lari lainnya. Saya melihat sendiri jarang sekali pelari lokal di Iten yang mengenakan sportwatch seperti Garmin, Suunto, Tomtom, Timex, atau Polar. Apalagi menggunakan heart rate maupun aplikasi lari di HP seperti Starva, Nike+, Runtastic, Endomondo, dan Runkeeper. ”Banyak pelari di sini yang masih tradisional. Pokoknya lari dan lari,” ucap Timo. 

Sebagian pelari baru di Kenya bahkan menggunakan sepatu bekas yang mereka beli di pasar loak yang buka setiap akhir pekan di Iten. Harganya memang sangat murah dengan kondisi yang masih bagus. 

Penasaran, saya berkeliling di pasar loak itu untuk melihat sepatu lari bekas yang ternyata sangat banyak. Misalnya, harga sepatu Nike Pegasus bekas di pasar loak itu adalah KSH 1.500 atau sekitar Rp 180 ribu. Lumayan karena trek lari di Iten rata-rata tanah liat, usia sepatu pelari juga tidak panjang. Rata-rata 4–6 bulan sepatu sudah rusak.

Ketika meraih hadiah dari sebuah race, para pelari Kenya harus berbagi dengan sang manajer atau agen yang telah membiayai persiapan mereka. Baru setelah menang di sejumlah race mereka bisa membeli gear yang bagus. ”Kami di sini berlari untuk uang. Untuk hidup. Karena itu harus berlatih keras,” tutur Timo.

Kehebatan pelari-pelari Kenya memang telah membuat banyak pelari dari berbagai negara datang. Di kamp HATC saja, dalam setahun bisa diadakan empat kali kamp untuk orang asing. Itu yang reguler. Belum lagi, ada kelompok khusus yang meminta training camp di luar jadwal reguler. Sekali program kamp HATC menampung 20–25 atlet. 

Juli–Agustus adalah saat yang tepat untuk datang ke Iten. Sebab, pada bulan itu tidak banyak race besar. Berlin Marathon 2017 yang merupakan satu di antara enam world marathon majors baru diadakan pada September. Para pelari Kenya yang biasanya bertebaran di seluruh dunia untuk memburu podium race pulang ke Iten untuk berlatih.

Wilson Kipsang, juara Berlin Marathon 2013 dan 2016, adalah salah seorang pelari yang tengah ”berlebaran” di Iten. Dia berlatih di Tambach Teachers Training College, sekitar 1 km dari pusat Iten. Lapangan tempat Kipsang berlatih sangat sederhana. Bukan lintasan karet vinil seperti di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Melainkan lintasan tanah liat yang tidak ada garis lintasannya. ”Saya sedang persiapan untuk mengikuti Berlin Marathon 2017. Kalau bisa saya ingin memperbaiki rekor,” ujar pelari 35 tahun itu. 

Dalam sehari Kipsang bisa berlatih 2–3 kali. Biasanya pagi, pukul 06.00, lalu menjelang siang dan kemudian sore hari. Dia bisa berlari di jalanan Iten, Hutan Singore, atau Fluorspar Hill. Setiap kali Kipsang berlari di Iten, puluhan pelari lokal akan mengikutinya. Kipsang hanya beristirahat latihan pada Minggu. ”Intinya fokus,” tutur juara New York City Marathon 2014 itu.

Di Iten Kipsang sangat terpandang. Dia memiliki rumah mewah dan hotel di sana. ”Kalau melihat rumah mewah di Iten, hampir bisa dipastikan itu adalah milik juara dunia lari,” kata Godfrey Kiprotich, salah seorang pelatih di HATC yang juga mantan pelari maraton profesional. 

Lari memang jalan tercepat mengubah nasib bagi orang Kenya. Seperti halnya sepak bola di Brasil. Dengan larilah Kipsang bisa berlari menyusuri jalanan Frankfurt, London, Boston, dan kota besar lain di dunia. Sambil sesekali ”berlebaran” di jalanan tanah liat Iten. (*/c9/ang)

Berita Terkait