Danny Oei Wirianto tentang Perkembangan Industri Digital

Danny Oei Wirianto tentang Perkembangan Industri Digital

  Sabtu, 30 January 2016 09:31
Danny Oei

Perlambatan ekonomi yang menggelayut dalam empat tahun terakhir seolah tak kuasa menghambat lesatan sektor industri digital. Setiap tahun sektor itu selalu tumbuh double digit alias lebih dari 10 persen.

’’Pertumbuhan double digit itu masih akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan,’’ ujar Danny Oei Wirianto mantap.Danny merupakan founder Semut Api Colony pada 2001, salah satu perintis industri digital di Indonesia. Namun, sebelum itu, pria kelahiran Jakarta, 1 November 1974, tersebut terjun di dunia industri digital di Amerika Serikat (AS) sejak 1997. Di negeri pelopor industri digital itu, Danny bekerja sebagai digital artist di Adobe.

Tiga tahun berselang, lulusan Kendall College of Art and Design, Michigan, AS, itu pindah ke agency.com (perusahaan marketing) dan menangani proyek branding skala global untuk produk-produk seperti Nike, Compaq, dan merek multinasional lainnya.Pertumbuhan pesat internet pada era milenium membuat bisnis Semut Api Colony yang dijalankan Danny dari AS mendapat respons positif. Klien-klien perusahaan besar di Indonesia berdatangan. Pada 2003, Danny memutuskan untuk kembali ke tanah air.

Sejak itu, beragam aksi dilakukannya. Misalnya, investasi di Kaskus serta membangun perusahaan Mindtalk, Merah Putih Inc, MediaXasia, Klix Digital, Infokost, Daily Social, Lintas.Me, dan banyak lainnya. Saat ini Danny menduduki kursi chief marketing officer (CMO) GDP Venture, perusahaan afiliasi Djarum Group yang aktif berinvestasi di industri digital.Menurut Danny, industri digital di Indonesia memang menawarkan potensi yang menggiurkan. Karena itu, bukan hanya investor domestik, investor asing pun berlomba-lomba masuk ke pasar Indonesia dengan mengakuisisi belasan start-up potensial. ’’Terutama sejak 2012,’’ ucapnya.

Dia menyebutkan, Indonesia adalah negara besar dengan lebih dari 65 persen penduduk berusia kurang dari 35 tahun, usia produktif sekaligus market yang konsumtif dan dinamis sehingga sanggup menyerap teknologi dengan cepat. ’’Pertumbuhan ekonomi di level tinggi juga menjadi magnet kuat bagi investor,’’ ujar sosok yang menjadi mentor bagi ratusan start-up di Indonesia itu.

Apalagi, lanjut Danny, penetrasi internet telah melebihi 35 persen, di atas batas minimum penetrasi 30 persen yang menjadi acuan perusahaan internet kelas dunia untuk melakukan penetrasi ke suatu negara. ’’Teknologi pun kini menjadi salah satu motor ekonomi Indonesia karena memudahkan orang untuk memulai usaha di mana pun,’’ katanya.

Industri digital juga menjadi jalan mencetak wirausahawan-wirausahawan baru. Menurut Danny, maraknya kemunculan online marketplace atau situs jual beli online membuat siapa saja bisa menjadi entrepreneur, mulai ibu-ibu atau anak muda yang ingin menjual kue, lauk-pauk, pakaian, atau kerajinan tangan. Berbagai barang ada di situs online. Perusahaan-perusahaan besar juga eksis berjualan di dunia maya. ’’Jadi, kalau ada yang bilang inclusive growth (pertumbuhan ekonomi yang melibatkan banyak pihak, Red), industri digital inilah jalannya,’’ tegasnya.

Apalagi kuatnya penetrasi internet melalui ponsel cerdas menjadikan makin banyak orang bisa berinteraksi di dunia maya, baik sebagai produsen, konsumen, maupun hanya sebagai pedagang perantara. ’’Artinya, teknologi ini membuat orang bisa berbisnis dengan mudah dan murah,’’ katanya.

Rumus ekonomi yang sudah diakui menyebutkan, perekonomian suatu negara akan kian maju dan kukuh apabila ditopang banyaknya wirausahawan. Di Indonesia, jumlah entrepreneur baru sekitar 1,56 persen dari jumlah penduduk. Angka itu sangat jauh jika dibandingkan dengan negara maju seperti AS yang mencapai 12 persen, Jepang (10 persen), dan Singapura (7 persen).

Lantas, seiring dengan kian berjubelnya pemain di bisnis online marketplace, apakah bisnisnya sudah memasuki titik jenuh? Danny menuturkan, saat ini memang kian banyak perusahaan besar yang berkompetisi di bisnis tersebut. Selain Kaskus sebagai pelopor, ada Blibli, Tokopedia, Bukalapak, MatahariMall, OLX, Lazada, dan masih banyak yang lain. ’’Tapi, bisnis ini masih akan tumbuh pesat,’’ ujarnya optimistis.

Apa argumentasinya? Selain pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan kian banyaknya masyarakat kelas menengah di Indonesia, Danny menyebut salah satu faktor penting yang berpengaruh adalah kehadiran media televisi dan internet yang sudah menjangkau seluruh pelosok tanah air.

’’Dari televisi dan internet, masyarakat tahu perkembangan berbagai produk. Karena punya daya beli, mereka adalah konsumen potensial,’’ jelasnya.

Namun, sebagaimana siklus bisnis lainnya, industri digital juga tidak akan selamanya mampu melesat tumbuh double digit tiap tahun. Menurut dia, pertumbuhan double digit itu akan dicapai hingga tiga tahun mendatang atau 2018. Setelah itu, karena basis pertumbuhannya sudah tinggi, pertumbuhan industri digital diperkirakan sedikit melambat di bawah 10 persen. ’’Namun, akan tetap lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional,’’ urainya.

Meski tumbuh pesat, tidak berarti industri digital di tanah air bebas kendala. Salah satu faktor yang dinilai Danny cukup merepotkan adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni untuk terjun di industri digital. ’’Masalahnya klasik, dunia pendidikan kita belum mampu mencetak lulusan yang siap kerja. Akibatnya, kita tidak bisa bergerak cepat karena harus mendidik mereka mulai awal,’’ ucapnya. (owi/c5/sof)