Dana Minim, Ancam Mogok Ikut PON Jabar

Dana Minim, Ancam Mogok Ikut PON Jabar

  Sabtu, 2 April 2016 10:16
MOGOK: Pelatih anggar Kalbar Sunardi begitu terharu ketika sang anak Verdiana Rihandini berhasil mempersebahkan medali emas bagi Kalbar di PON XVIII lalu. Tapi dia merasa sangat kecewa karena pemerintah sekarang dinilainya tidak peduli terhadap bidang olahraga Kalbar. Dia bersama atletnya siap mogok ikutserta PON XIX Jabar, jika pemerintah tetap bersikap demikian.

Berita Terkait

PONTIANAK—Kekecewaan diutarakan beberapa pelatih dan pengurus cabang olahraga berprestasi terkait minimnya dukungan pemerintah terhadap keikutsertaan Kalbar di ajang PON XIX Jawa Barat. Bahkan, Pelatih Cabang Olahraga Anggar Sunardi siap mogok PON, jika pemerintah dikatakannya tak memberikan sikap perhatian kepada KONI Kalimantan Barat.

“Kami dari anggar siap mogok ikutserta di PON jika pemerintah propinsi tidak mendukung kita di PON nanti. Kita dituntut prestasi terbaik sementara pemerintah hanya memandang sebelah mata kepada kita sebagai pelaku olahraga,” ungkap Sunardi.

Sunardi mengaku kecewa lantaran pemerintah hanya memberi porsi kecil terhadap dukungannya kepada KONI Kalbar. KONI Kalbar, kata Sunardi hanya dibantu Rp15 milyar yang implikasinya sangat besar bagi para atlet dan pelatih.

“Bayangkan dengan anggaran sekecil itu tentu saja KONI kesulitan dalam menghadapi PON. Implikasinya semua kebutuhan kontingen, atlet dan pelatih dipangkas. Ini membuat kami sangat kecewa karena olahraga selalu dianaktirikan,” ungkap dia.

Menurut Sunardi, yang menjadi perhatian pemerintah selalu bidang pembangunan yang bersifat proyek. Sementara olahraga yang tidak bisa menghasilkan fee proyek dibantu ala kadarnya. Semakin kecewa karena dibandingkan dengan daerah lain, anggaran olahraga Kalbar menghadapi PON adalah yang terkecil.

“Jangankan dibandingkan Kaltim yang anggaranya 130 milyar, dibanding Aceh kita jauh sekali. Aceh itu KONI-nya dibantu 30 milyar lebih. Padahal prestasi mereka dibawah kita pada PON XVIII lalu. Belum lagi DKI yang sebesar 970 milyar,” kesal Sunardi.

Dia juga mengatakan siap tidak menyertakan atletnya jika sikap pemerintah propinsi tak berubah. Dia juga kecewa dengan para dewan Propinsi Kalbar, khususnya yang membidangi olahraga yang tidak memperjuangkan anggaran bagi keikutsretaan Kalbar di PON.

“Patut dicamkan dan diingat oleh pejabat pemerintah kita, bahwa hanya dengan prestasi olahraga, bendera Kalimantan Barat bisa berkibar, bukan dengan prestasi pembangunan banyak proyek. Saya bisa nangis jika anak-anak atlet kami dapat medali di PON. Karena kami tahu perjuangan kami mendapatkan itu tidak mudah. Tapi apa yang kita lakukan terkadang sia-sia karena pemerintah lebih mementingkan bidang lain dan menganggap kita sebelah mata,” ungkap pelatih yang sukses mempersembahkan dua medali emas bagi Kalbar di PON XVIII Riau tersebut.

Sementara itu kekecewaan juga diutarakan Pelatih Biliar Kalbar Ngatiman. Anggota DPRD Kubu Raya tersebut menyatkan disaat KONI Kalbar dihadapkan pada target dengan beban berat untuk mencapai prestasi terbaik di PON, pemerintah jutsru mengabaikannya. Untuk meraih prestasi tersebut, ungkap Ngatiman, tidaklah mudah. Salah satu hal yang paling mendasar adalah pendanaan. Dia mendengar KONI Kalbar mengajukan anggaran menghadapi PON sebesar 34 milyar, tapi yang disetujui tidak sampai setengah.

“Bayangkan, artinya bidang olahraga hanya sebagai penggembira. Sudah dimasukan dalam dana bansos, bantuan yang disalurkan juga seenaknya. Artinya pemerintah menganggap bidang olahraga sangat sebelah mata. Saya menilai pemerintah salah, tidak cerdas dan kejam,” ungkap Ngatiman.

Dia meminta gubernur, wakil gubernur dan sekda selaku pengambil kebijakan untuk lebih bijak dalam memperhatikan permasalahan ini. Bisa dibayangkan jika karena persoalan ini, seluruh cabor mogok. “Kita yang seharusnya mempersiapkan TC selama satu tahun, harus dihitung dua bulan. Itukan sangat menyedihkan. Belum lagi bonus atlet peraih medali, apakah ada atau tidak jika dengan dana sekecil itu,” ungkap Ngatiman seraya mengatakan siap melakukan demo atau mogok PON jika pemerintah tetap bersikap demikian.

Ahmadin Umar, Pelatih Angkat Berat Kalbar mengatakan pemerintah propinsi semakin mundur dalam dukungannya terhadap pembinaan cabang olahraga. KONI Kalbar yang sudah sangat serius memajukan prestasi olahraga harusnya didukung, dalam bidang pendanaan menghadapi PON. Bukan malah diberikan dana seadaannya yang memberatkan KONI Kalbar.

“Kita dituntut prestasi dan itu telah kita buktikan di PON lalu. Kalbar bisa naik peringkat ke-16 dari peringkat 21. Tapi apa, pemerintah acuh tak acuh dan menganggap olahraga sebagai sampah,” ungkap dia.

Menurutnya, PON tahun 2004, PON tahun 2008 dan PON tahun 2012 anggaran dari pemerintah masih dalam tahap standar dan lebih tinggi dibanding sekarang. Seharusnya setiap empat tahun sekali semakin naik, bukan malah menurun. Karena nilai uang dulu dan sekarang sangat jauh berbeda.

“Masa anggaran tahun 2004 dan 2008 bisa lebih besar dari 2016, inikan tak masuk akal. Jika seperti ini, tentu saja KONI uring-uringan dan imbasnya tetap kesuluruh cabor peserta PON. Secara tidak langsung ini melemahkan kami dan mental atlet. Jadi jangan salahkan kami nanti, jika hasil PON kita jelek,” ungkap dia.

Ketua Umum KONI Kalbar Sy Machmud Alkadrie mengatakan jika mengacu ke amanah undang-undang, pemerintah wajib memberikan porsi dua setengah persen dari nilai APBD Propinsi. Jika APBD Propinsi senilai 4 trilyun artinya untuk anggaran olahraga seharusnya kurang lebih 100 milyar. Tapi, kata dia, KONI Kalbar tak mau muluk-muluk. Dia hanya meminta sesuai kebutuhan.

Machmud juga mengatakan telah menghadap gubernur terkait persoalan ini. Gubernur, kata Machmud, telah memberikan solusi untuk menambah bantuan di anggaran perubahan bulan Juni mendatang. Tapi permasalahannnya, kata dia, dengan dana awal seperti ini, tentu persiapan yang dilakukan tidak maksimal. Yang tadinya TC intensif harusnya enam bulan menjadi dua bulan.

“Mudah-mudahan saja janji Gubernur pada bulan Juni nanti benar-benar terealisasi. Saya punya beban moral jika sampai atlet-atlet saya tak mendapatkan hak mereka berupa bonus. Kasian mereka sudah berjuang mati-matian di PON tapi tidak mendapatkan penghargaan. Saya sedih tapi inilah kenyataannya. Saya mau kita tetap berjuang di PON, walaupun dengan dana seadannya. Kita harus tunjukan kepada Pemerintah dan masyarakat Kalbar kita masih bisa berdiri tegak walaupun kita dianggap sebelah mata,” kata Machmud. (bdi)

Berita Terkait