Dampak Teknologi Informasi Terhadap Budaya Baca Tulis (Anak)

Dampak Teknologi Informasi Terhadap Budaya Baca Tulis (Anak)

  Kamis, 17 March 2016 14:01   2,099

BAGAIMANA dampak teknologi informasi terhadap budaya baca tulis anak? Adakah kehadiran teknologi informasi itu menghidupkan budaya baca tulis anak atau sebaliknya secara sistematis dan kultural mematikan budaya baca tulis mereka? Tulisan ini memaparkannya.

INOVASI teknologi informasi berkembang begitu pesat. Kini, era informasi telah merambah segala dimensi kehidupan kita. Laju informasi yang beredar sudah tidak bisa dibendung (dan dikendalikan) baik jumlah maupun jenis dan dampak ikutannya. Melalui media elektronik (televisi, internet dengan segala variannya), anak-anak kita dihantam oleh tsunami informasi yang maha dahsyat.

Di satu sisi, informasi itu bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikap anak. Secara positif, ada amat banyak situs yang menawarkan program atau modul pembelajaran yang bisa diakses anak dengan mudah. Ruang belajar anak tidak lagi dibatasi dinding-dinding tembok ruang kelas karena proses pembelajaran di dunia maya tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Sejumlah situs menyajikan program amat bermutu bagi pengembangan berbagai kompetensi anak.

Namun di sisi lain, banjir informasi itu bisa merusak anak karena content (isinya) mengandung banyak unsur yang tidak sesuai untuk konsumsi anak. Ketika anak sudah berselancar di dunia maya, mengakses rupa-rupa informasi yang ada di dalamnya, segala informasi yang ada di situ akan bisa diakses anak termasuk situs-situs yang tidak layak/tidak sesuai (kekerasan dan pornografi, misalnya). Situasi ini semakin parah karena tidak banyak guru dan orangtua yang melek teknologi informasi dan punya waktu mendampingi anak dan memberi arahan dalam penjelajahan ke dunia maya. Akibatnya, anak-anak menjadi rentan terhadap berbagai dampak negatif dari penyalahgunaan teknologi informasi (lih. Anita Lie, 2004).

Dampak lainnya yang paling dahsyat, kemajuan teknologi informasi itu ternyata secara sistematis dan struktural memperlemah kemampuan-kemampuan dasariah manusia. Sebagaimana yang dikemukakan Doni Koesoema A, dalam tulisannya “Pendidikan Manusia Versus Kebutuhan Pasar, 2004”, kemajuan teknologi informasi di satu sisi memberi manusia informasi alternatif, menawarkan jutaan informasi, namun di lain pihak menghasilkan gejala buta huruf jenis baru, yaitu buta huruf fungsional.

Buta huruf fungsional adalah sebuah keadaan di mana kapasitas dan kemampuan manusia paling mendasar dalam berekspresi dan berpikir menjadi mandeg. Membanjirnya informasi membuat kemampuan membaca, menulis, menghitung, dan mengingat lumpuh. Para pelajar menjadi semakin pasif dan miskin perbendaharaan kata. Melimpahnya data memposisikan manusia sebagai sekadar keranjang sampah informasi semata sehingga kemampuannya untuk mengolah data dan membuat refleksi secara sistematis dan tergarap dengan baik makin menurun.

Sebagai ilustrasi, data yang dikeluarkan National Labour Survey tahun 2000 yang membahas daya jangkau orang Indonesia terhadap media massa, menegaskan betapa penurunan drastis pada minat baca (Koran dan majalah), yaitu dari 23,31% (1993) menjadi 17,47% (2000). Sementara terdapat peningkatan signifikan dalam masyarakat (berusia lebih dari 10 tahun) atas kebiasaan menonton televisi, yaitu dari 64,77% (1993) meningkat menjadi 87,97% (2000) (Doni Koesoema A, 2004). Itu data belasan tahun lalu yang ‘Generasi Gadget’ belum separah sekarang. Bagaimana kondisi budaya baca anak-anak kita saat ini dan tahun-tahun mendatang? Bukankah akan semakin memprihatinkan ketika era internet/gadget semakin merajalela? Menarik untuk diteliti.

Matinya budaya baca dan budaya tulis membuat masyarakat kita terjerumus sekadar menjadi masyarakat penonton yang dijejali berbagai macam data, imajinasi, yang kebenaran dan keakuratannya tak dapat diandalkan. Masyarakat menjadi tak tahu lagi mana yang isu, fitnah, berita sungguhan, kejadian sungguhan atau rekaan, dan sebagainya.

Di satu sisi, akses pada pengetahuan semakin mudah, namun di lain pihak kita juga kesulitan mendefinisikan batas-batas berkaitan dengan penyebaran data itu. Ada semacam anonimitas dalam dunia internet. Dunia maya yang ditawarkan internet bisa membuat orang terkecoh, salah data, dan kemampuannya memandang kenyataan berpotensi terdistorsi (Ibid.)

Di tengah kondisi yang demikian, apa yang mesti dilakukan? Ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan, diantaranya, etika media dan penegakan etika serta pemberlakuan UU terkait ICT secara konsisten dan konsekuen mutlak diperlukan agar degradasi kemanusiaan dapat dihindari.

Telaah terhadap situasi pendidikan (apalagi saat ini) harus diletakkan dalam kerangka kehidupan sosial yang lebih luas. Meski pendidikan menempatkan siswa dalam sebuah ruang kelas tertutup, apa yang mereka pelajari menembus batas-batas dinding tembok sekolahnya. Di sini pendampingan dan arahan dari guru dan orangtua menjadi penting.

Pencarian, penyaringan, pemilahan, dan pemanfaatan informasi amat mudah dengan penggunaan teknologi komputer dan internet. Maka dari itu, penguasaan teknologi komputer dan internet menjadi keharusan di kalangan guru dan orangtua. Penguasaan teknologi komputer dan internet ini menjadi mendesak agar guru dan orangtua dapat mendampingi dan memberi arahan dalam penjelajahan ke dunia maya.

Pelbagai kegiatan, lomba-lomba yang mendorong anak didik/siswa untuk meningkatkan kegemaran membacanya secara signifikan mutlak dilakukan. Pendidikan kita mesti menanamkan dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan agar siswa kita tidak mudah hanyut dalam arus dunia dan mudah menerima segala pengaruh asing.

Kata-kata bijak Mahatma Gandhi (seperti dikutip dalam Kachru, 1983, Anita Lie, 2004), kiranya dapat menjadi filter dan inspirasi agar kita tidak mudah terbawa arus dan terhempaskan oleh gelombang tsunami informasi. “Saya tidak ingin rumah saya ditemboki pada semua bagian dan jendela saya ditutup. Saya ingin budaya-budaya dari semua tempat berembus di seputar rumah saya sebebas mungkin. Tetapi saya menolak untuk terbawa dan terhempaskan”.

* Penulis Seorang Pendidik, Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP Santo F Asisi, Tinggal di Kota Pontianak

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.