Dampak Gerhana Matahari

Dampak Gerhana Matahari

Minggu, 13 March 2016 08:40   1

GEGAP gempita menyambut gerhana Matahari 9 Maret 2016 baru saja lewat. Di Kota Pontianak tidak dapat dilihat karena dliputi awan, namun bagi sejumlah orang merasakan suasana yang lebih gelap dibanding sebelum gerhana. Peristiwa gerhana ini diliput ‘besar-besaran’ baik oleh media massa maupun media sosial. Laporan internasional (Wikipedia) menunjukkan bahwa peristiwa ini juga dapat dilihat sebagai gerhana Matahari sebagian di Tiongkok, Thailand, India, Vietnam, Malaysia, Singapura, Darwin-Australia, Micronesia, dan di pesawat Alaska Air, Flight 840, yang terbang sejauh 1 118 km sebelah utara Hawai.

Ada tiga pesan singkat elektronik dari dua orang pembaca. Yang satu berisi mitos yang berkaitan dengan wanita yang sedang mengandung.  Yang lain menanyakan dampak dari gerhana Matahari.

Larangam wanita hamil agar tidak melihat langsung gerhana Matahari santer terdengar pada peristiwa gerhana Matahari total 11 Juni 1983 di Indonesia (P. Jawa). Peristiwa ini disiarkan langsung oleh TVRI dari pukul 09.00-13.00 dari Borobudur serta beberapa tempat yang lain, misalnya; Tanjung Kodok-Tuban. Lama gerhana total sekitar 5 menit 4 detik (di Yogyakarta).

Menurut keterangan para pelaku sejarah, larangan melihat langsung tidak hanya bagi wanita hamil tetapi juga semua orang. Alasan rasional saat itu adalah usaha untuk menghidari kebutaan masal seperti yang pernah terjadi di Afrika sebelumnya. Jadi sesungguhnya, bukan sungguh mitos.

Namun, khusus bagi wanita hamil bisa dilacak pada tradisi Hindu di India. Dalam kitab Suci Hindu ada larangan bagi semua orang melihat langsung gerhana matahari. Bahkan di beberapa lokasi disertai larangan yang lain. Misalnya, dilarang:  menggunakan pisau dan senajata tajam, memotong sayuran, memakai bros dan peniti, dan tidur pada saat gerhama Matahari. Para wanita hamil agar tetap di tempat tidur sambil mendaraskan mantra Santana Gopala (www.hindu-blog.com/).

Berikut dsajikan dampak gerhana Matahari yang telah diteliti oleh para ahli. Ada sejumlah penelitian yang diarahkan pada reaksi binatang pada saat terjadi gerhana Matahari. Misalnya, penelitian yang di lakukan oleh 250 anggota  Wildlife and Environment Zimbabwe ((WEZ) pada peristiwa gerhana matahari total 21 Juni 2001. Mereka mengamati tingkah laku binatang di Taman Nasional Mana. Di ataranya adalah Kuda Nill, di sungai Zambesi, serta merta membenamkan diri ke dalam air pada saat terjadi gerhana Matahari. Sebagian burung berhenti berkicau. Beberapa burung bahkan, burung enggang dan burung bangau, terbang pulang menuju sarangnya. Impala dan babon berhenti berburu mangsa.  Para peneliti juga mencatat perubahan  perilaku tupai, singa, gajah, buaya, dan kupu-kupu (A&G News: Augustus, 2001, Vol 42). 

Di bidang energi surya, Martin Libra, Pavel Koulím, dari Vladislav Poulek, 2016, dari Universitas Prague, Zekoslovakia meneliti dampak gerhana Matakari pada sistem panel enegri surya. Mereka menemukan bahwa besar penurunan daya yang dihasilkan sebanding dengan luas piringan Matahari yang tertutup bulan serta penurunan radiasi energi surya yang diterimanya. Penurunan daya ini diperkirakan berkaitan dengan kondensasi uap air di atmosfir selama gerhana.

Rhett Allain, Associate Professor bidang Fisika dari Universitas  Southeastern Louisiana- AS, 8 Maret 2016, menulis di “Science” perkiraannya tentang penurunan temperatur Bumi pada waktu gerhana Matahari 9 Maret 2016. Dengan menggunakan lama waktu gerhana yang terjadi sekitar 4.5 jam, ia menemukan bahwa radiasi Matahari yang diterima Bumi sebesar 1.54x1020J. Nilai ini mencakup sekitar 99% dari radiasi matahari normal yang diterima sehari-hari.  Ada penurunan suhu Bumi tetapi tidak signifikan.

Amrita Shriyan, Angri M. Bhat, dan  Narendra Nayak, dari Departmen  Microbiologi, A. J. Institute of Medical Sciences, Kuntikan, India, 2011, meneliti pengaruh gerhana Matahari total 15 Januari 2010 di sebagian wilayah India pada sejumlah microba. Mereka menganalisis variasi genotip dan fenotip pada prokaryotes dan eukaryotes. Ternyata, tidak terjadi gangguan yang berarti.

Inilah sejumlah dampak dari peristiwa gerhana Matahari pada mahkluk hidup. Sayang penelusuran dengan subjek “scholarly articles on the effects of solar eclipse on human body’ tidak menghasilkan satu makalah pun. Kiranya ini menjadi tantangan bagi para ilmuwan Kalimantan Barat yang lokasinya khas, di bawah garis khatulistiwa. Semoga!

Leo Sutrisno