Damba Bantuan Dana, Bercita-cita Jadi Presiden

Damba Bantuan Dana, Bercita-cita Jadi Presiden

  Kamis, 20 Oktober 2016 09:28
TUMOR: Zaki yang butuh bantuan dana untuk pengobatan tumor di matanya. ISTIMEWA

Berita Terkait

Nurzaki; Anak Penderita Tumor Ganas

Empat tahun satu bulan umur kelahirannya. Namun, separo usia Zaki mengerang kesakitan menahan gundukan daging. Bocah penderita tumor ganas ini, damba bantuan dermawan. Dia punya cita-cita istimewa: Presiden

AGUS PUJIANTO, Pontianak

NAMANYA Nurzaki. Usianya baru 4 tahun lebih satu bulan. Saat anak seusianya bermain dan belajar, Zaki justru harus menikmati ranjang pesakitan di Ruang Anak A, Rumah Sakit Umum Soedarso Pontianak. Gundukan daging seukuran kepalan tangan itu merenggut masa pertumbuhannya. Dia mengidap tumor ganas. 

Zaki tak banyak bergerak. Gerak seperlunya. Ketika gundukan berwarna merah itu membengkak, dia hanya bisa mengerang kesakitan. Dia menangis. 

“Saya sampai menetes air mata, ndak sanggup lihat beban dedek (zaki) kalau mengerang kesakitan,” kata Matori, ayah Zaki pilu. Sejak dilahirkan pada September 2013, Zaki hanya menikmati masa pertumbuhannya kurang dari dua tahun. Sisanya, hanya rintihan yang dia rasakan. 

Seingat Matori, saat Zaki berumur enam bulan, dalam bola matanya sudah terlihat bintik hijau. Dia mengaku tidak tahu, jika itu benih penyakit yang kini hingga di mata anaknya. “Kami orang kampung ndak tahu. Saya anggap ya biasa saja. Setelah enam bulan baru kelihatan,” ungkapnya lirih. Tatapan matanya kosong. Terbayang perjuangan anaknya menahan nyeri tak berkesudahan. 

Lambat laun, bintik hijau itu menjadi besar. Merasa ada yang aneh pada mata anaknya, warga Jalan Sungai Masjid Desa Medan Mas Kecamatan Batu Ampar lantas membawanya ke RSUD Soedarso. Matori syok mendengar pernyataan dokter, jika gundukan itu tumor ganas. Dokter menyarankan Zaki untuk segera dikemoterapi dan disanggupi. 

Upaya kemoterapi pertama cukup membuat lega perasaan Matori. Semburat berwarna merah susut. Zaki sementara bisa tersenyum kembali. Namun tidak lama. Sebab, setelah dilakukan kemoterapi, gumpalan daging itu kembali membuncit, lebarnya hingga sampai ke mulut. 

“Sudah sepuluh kali dikemoterapi. Tapi terus kambuh lagi. Selama tiga tahun ini, dia menderita sakit,” kata ayah dua anak ini. 

Matori hidup dari mengupas buah kelapa. Tak banyak hasil yang bisa dia peroleh. Cukup untuk makan bagi dua anak dan istrinya. “Kalau sayur bisa ambil di ladang,” paparnya. 

Satu buah kelapa yang dikupas Matori dihargai Rp75. Sehari, dia mampu mengupas 600 hingga 1.000 buah kelapa. Dia mengaku beruntung, biaya perawatan anaknya, mendapatkan bantuan dari rumah sakit. Hanya saja, saat ini Zaki disarankan dokter paling lambat Jumat ini harus sudah tiba di Jakarta. “Saya membutuhkan bantuan biaya untuk membawa Zaki ke Jakarta,” ungkapnya pilu. 

Seharusnya, saat ini Zaki sudah harus dirawat di Jakarta. Namun, ketersediaan dana, menghambat perjalanan mereka. “Saya hanya minta bantuan dana untuk ongkos berobat. Berapapun itu, asal saya bisa mengantar anak saya berobat,” harapnya. 

Tak banyak harapan Matori. Semua upaya sudah dilakukannya untuk kesembuhan anak bungsunya tersebut agar bisa mengapai masa depannya. “Dia bercita-cita jadi Presiden.” (*)

Berita Terkait