Dahsyatnya Sentuhan Seorang Ibu

Dahsyatnya Sentuhan Seorang Ibu

  Selasa, 22 December 2015 09:59   934

Oleh: Sutria, SPd 

 

Tidak ada satupun orangtua di dunia ini yang mau menyia-nyiakan anaknya. Tentu saja semua orangtua menginginkan anaknya sukses dan menjadi lebih baik dari dirinya dalam segala hal. Oleh karena itu, orangtua memiliki tanggung jawab penuh terhadap anak-anaknya untuk diberikan pendidikan dan nasehat-nasehat yang baik dengan harapan kelak anaknya menjadi anak yang sukses sebagaimana yang diharapkan dan dicita-citakan.

Jika sejak dini sang anak selalu dibekali dengan nasehat yang baik, niscaya dalam dirinya akan terpatri dan terekam dengan kuat sehingga ia akan selalu mengingat pesan dan nasehat yang pernah disampaikan oleh orangtuanya. Namun sebaliknya, jika yang didengar oleh sang anak adalah kata-kata kotor, keji atau kalimat jorok lainnya, niscaya terekam pula dalam hatinya, dan di kemudian hari dari mulutnya akan keluar kata-kata yang jorok pula bahkan bisa jadi akan lebih parah lagi.

Berikut ini ada kisah yang mengandung hikmah dan dapat dijadikan pembelajaran bagi kita tentang seorang ibu yang selalu membekali nasehat kepada anaknya. Kisah pertama adalah tentang seorang siswi baru kelas 4 di sebuah Sekolah Dasar bernama Ifa, ia pindahan dari sekolah yang lain. Setelah menjalani satu semester di sekolah tersebut, Ifa langsung mendapat peringkat pertama. Wali kelas Ifa kemudian bertanya kepadanya. “Bagaimana pendapat orangtuamu dengan rangking yang kamu capai?” “Bundaku tidak pernah menyuruh aku supaya dapat rangking 1, yang penting kata Bunda ‘berakhlak yang baik’, ujar Ifa.” “Terus kok kamu bisa dapat rangking 1, padahal ibumu tidak menyuruh rangking 1?” Kata ibu guru wali kelasnya penasaran.

Ifa melanjutkan pembicaraan dengan gurunya dan mengatakan “Bunda bilang aku harus jujur, kalau aku jujur saat ujian aku tidak akan nyontek dan pasti belajar dengan sungguh-sungguh serta banyak latihan. Kalau aku tanggung jawab aku pasti mengerjakan PR dan tugas yang diberikan oleh guruku. Kalau aku disiplin pasti aku tidak terlambat ke sekolah dan malu kalau terlambat.”

Tentu saja ibu guru kaget mendengar jawaban muridnya seperti itu. Dalam pertemuan dengan bunda Ifa, guru tersebut menyampaikan kekagumannya, dan juga menyatakan pendapatnya, “ketika anak dididik dengan mengutamakan akhlak mulia, ternyata dia menjadi anak yang pandai. Seperti Ifa, karena ibu mendorongnya untuk berakhlak baik, jujur, disipilin, dan tanggung jawab maka prestasinyapun bagus.” Nilai pendidikan yang ditanamkan oleh orangtua dalam kisah pertama ini adalah: (1) jujur, (2) berakhlak mulia, (3) belajar dengan sungguh-sungguh, (4) tanggung jawab, dan (5) disiplin.

Kisah kedua adalah seorang ibu yang mengantarkan anak semata wayangnya bernama Abdul Qadir Jailani. Anak yang masih relatif kecil itu dibawa oleh ibunya untuk belajar jauh ke negeri seberang dan dititipkan pada kafilah dagang teman almarhum bapaknya yang hendak berdagang. Ibunya berkata kepada anaknya, “Berjalanlah engkau ke depan dan jangan sekali-kali menengok ke belakang. Kita akan bertemu nanti di syurga!” Kata-kata itu membuat niat sang anak tegar ketika berangkat menuntut ilmu. Nilai pendidikan dalam kisah kedua ini adalah: (1) optimis, (2) tegar, dan (3) kemandirian.

Mencermati dua kisah di atas memberikan gambaran kepada kita semua bahwa peran orangtua (terutama ibu) sangat besar dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan walaupun hanya berupa nasehat yang baik kepada anak-anaknya. Kita sepakat bahwa keluarga merupakan ‘sekolah’ pertama dalam menanamkan nilai-nilai dasar pendidikan oleh orangtua kepada anak-anaknya sebelum ‘terjun ke dunia’ sekolah.

Harapan terbesar orangtua adalah ingin memiliki anak yang shalih/shalihah, sopan, pandai bergaul, pintar dan sukses, tapi harapan besar ini jangan sampai menjadi tinggal harapan saja. Orangtua memiliki andil yang sangat besar dalam mewujudkan harapan tersebut. Kedudukan dan fungsi keluarga dalam hidup ini sangatlah penting dan fundamental, keluarga pada hakikatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orangtuanya.

Peran orangtua dalam hal pendidikan anak sudah seharusnya berada pada urutan pertama. Orangtua adalah pihak yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan anak-anaknya. Sedangkan guru di sekolah hanya ‘melanjutkan dan meluruskan’ segala bentuk ilmu dan pengetahuan serta wawasan yang dimiliki oleh siswa termasuk membantu dalam hal pembentukan karakter anak tanpa mengenyampingkan akhlak atau budi pekerti. Oleh karena itu sekolah bukanlah ‘korban’ dari orangtua yang anaknya bandel minta ampun. Orangtua biasanya menyerahkan sepenuhnya kepada guru untuk mendidiknya, dengan harapan guru mampu merubah perilaku anak/siswa yang dulunya nakal menjadi anak yang lebih sopan dan berkahlak.

Peran orangtua dalam dunia pendidikan di lingkungan keluarga adalah menanamkan karakter yang luhur dan menanamkan nilai pendidikan lainnya kepada anak-anaknya. Nilai-nilai dan ajaran yang dirajutkan oleh orangtua terhadap anak-anaknya adalah dasar moralitas utama dan dasar pembentukan karakteristik diri individu yang tentunya berawal dari setiap individu. Abraham Lincoln, Presiden Amerika Serikat ke-16 (1809-1865) mengatakan “masa depan sebuah bangsa dimulai dari pembentukan karakter nilai dan filosofi (oleh para guru) di kelas-kelas hari ini.” Pernyataan Lincoln ini juga mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya membekali anak dengan nasehat yang baik oleh orangtua kepada anak-anaknya dengan tidak hanya dibebankan kepada guru di sekolah.

 

*) Guru SMK Negeri 1 Tebas

Kabupaten Sambas