CPO Tersertifikasi, Petani Terima Premi

CPO Tersertifikasi, Petani Terima Premi

  Selasa, 22 December 2015 11:02
PENYERAHAN PREMI: Presiden Direktur PT HSL, Nharong Somchit, menyerahkan premi kepada Gubernur Kalbar Cornelis yang selanjutnya diserahkan kepada petani plasma di Hotel Aston Ketapang, kemarin (21/12). AHMAD SOFI/PONTIANAK POST

Berita Terkait

KETAPANG – Para petani plasma di perkebunan kelapa sawit Cargill, PT Harapan Sawit Lestari (HSL), menerima premi yang pertama untuk minyak sawit yang tersertifikasi, yang diproduksi dari perkebunan mereka. Petani plasma ini merupakan salah satu dari perkebunan kelapa sawit yang pertama di Kalbar yang menerima premi atas roundtable on sustainable palm oil (RSPO) dan international sustainable carbon certification (ISCC).

Penyerahan secara simbolis diserahkan oleh Gubernur Kalbar Cornelis dan Penjabat (Pj) Bupati Ketapang Kartius kepada petani, melalui koperasi petani plasma di Hotel Aston Ketapang, Senin (21/12). "Premi dari praktik pertanian berkelanjutan yang diterima oleh petani plasma, kami akan membantu meningkatkan standar hidup anak-anak dan keluarga mereka," kata presiden Direktur (Presdir) PT HSL, Nharong Somchit, kemarin (21/12).

Ia menjelaskan, Cargill menerapkan pola petani plasma kredit koperasi primer anggota (KKPA) di PT HSL, yang secara berkelanjutan menanam dan mengelola tanah bagi lebih dari 3.200 petani plasma di Kabupaten Ketapang. Para petani plasma yang menerima lebih dari Rp2,7 miliar dalam premi gabungan, dijelaskan dia, diatur dalam empat koperasi dengan luasan 6.461 hektare tanaman kelapa sawit sebagai bagian dari operasional perkebunan Cargill.

Joni Ansari, seorang petani plasma dari Koperasi Beringin Jaya Lestari, mengatakan, industri minyak sawit telah mengubah mata pencaharian masyarakat. "Dulu, saya ingat betapa sulitnya mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kami bahkan tidak mampu membeli kebutuhan sembako seperti beras dan minyak goreng. Sekarang, kami dapat mengirim anak-anak kami kuliah di Pulau Jawa dan bahkan pergi naik haji ke Mekkah," katanya.

Sebagai petani plasma KKPA, saat ini ia memiliki pendapatan sebesar Rp3 – 4 juta perbulan. Bahkan, kadang-kadang mereka mampu mencapai  Rp5 – 6 juta saat musim panen puncak. "Jumlah ini kurang lebih tiga kali lebih besar dari perkiraan pendapatan bulanan di Kalimantan Barat. Saya yakin minyak sawit yang berkelanjutan akan terus membantu kami dalam meningkatkan pendapatan dan menikmati hidup yang lebih baik," tambah Joni.

Manajer program petani plasma PT HSL, Hidirmanto, mengungkapkan bagaimana mereka ingin berbagi keuntungan dari praktik pertanian berkelanjutan dengan petani binaan. Mereka bahkan sampai mempelajari praktek manajemen terbaik RSPO dan keterampilan manajemen keuangan, demi memastikan para petani plasma akan dapat memelihara lahan mereka di masa yang akan datang, baik dengan atau tanpa Cargill.

Perkebunan sawit Cargill sendiri di PT HSL dan PT Indo Sawit Kekal menerima sertifikasi dari RSPO pada 2014. Di samping itu,  HSL juga menerima international sustainability and carbon certification (ISCC) pada tahun 2013. "Cargill saat ini sedang mengusahakan sertifikasi RSPO untuk perkebunan sawit Poliplant Group," ungkapnya.

Pada hari yang sama, dilaksanakan juga peresmian yayasan pendidikan Cargill - Yayasan Harapan Masa Depan Cerah (YHMDC). Didirikan pada  2012, YHMDC berlokasi di wilayah HSL di Kecamatan Manis Mata. "Kami percaya bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang dapat diperoleh setiap anak. Sekolah-sekolah kami terbuka bagi anak-anak dari para karyawan kami serta dari masyarakat di sekitar kami," kata Presiden YHMDC, Ketut Irawan. (afi)

 

Berita Terkait