Collegial Coaching

Collegial Coaching

  Jumat, 22 April 2016 10:13   1

KEHADIRAN guru yang memiliki kompetensi dan bekualitas yang mampu melaksanakan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah secara efektif dan efisien masih harus terus diupayakan dan diperjuangkan. Ini disebabkan, fakta di lapangan menunjukkan ada sejumlah tantangan yang mesti diatasi dalam dinamika jagat pendidikan kita untuk menuju pendidikan yang bermutu. Diantaranya adalah rendahnya kompetensi guru dan lemahnya semangat belajar guru untuk meningkatkan profesionalismenya.

Padahal betapa pentingnya keberadaan guru yang profesional bagi suatu sekolah hampir tak terbantahkan. Gerak maju dinamika kehidupan suatu sekolah akan sangat ditentukan bagaimana kompetensi dan kualitas para gurunya. Di tengah perubahan dan perjalanan zaman yang begitu kompetitif saat ini, guru yang kompeten dan berkualitas adalah sebuah jawaban. Potret masyarakat (bangsa) di masa depan akan sangat ditentukan bagaimana potret guru di masa kini.

Dalam konteks pembelajaran di kelas, substansi keberadaan seorang guru bukanlah hanya sekadar mengalihkan informasi dan hafalan-hafalan yang kadang-kadang kering tanpa makna itu, tetapi bagaimana mendorong, membimbing, dan memfasilitasi peserta didik agar mereka sungguh-sungguh mau belajar. Ini penting mengingat substansi mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga mereka sungguh-sungguh mau belajar. “Teaching is the guidance of learning activities, teaching is for purpose of aiding the pupil learn”, demikian William Burton.

 Guru adalah subjek kreatif dan ROH pendidikan. Itulah sebabnya kompetensi  dan kualitas guru mutlak ditingkatkan. Salah satu diantaranya adalah melalui program “Collegial Coaching”. Apa itu Collegial Coaching (CC)? Tulisan ini memaparkannya.

Mengkristalisasikan B. Widi Nugroho (2013), dalam bukunya “Teacher as an Instructional Leader”, Collegial Coaching (CC)  atau pendampingan teman sejawat merupakan salah satu bentuk pengembangan profesionalitas guru. Dalam pendampingan teman sejawat ini, kita menyediakan diri menjadi cermin bagi yang lain, juga bercermin pada yang lain. Kita (baca: Guru) memerlukan cermin agar kita mampu melihat diri kita secara objektif.

 CC adalah bentuk refleksi yang dilakukan bersama. Secara bersama-sama, guru bisa melihat kembali apa yang telah dilakukan dan melihat peluang pengembangan praktik pengajaran dengan tujuan meningkatkan kualitas pengajaran. Fokus CC ini adalah refleksi dan studi atas praktik-praktik pengajaran, bukan pada kekurangan atas praktik-praktik pengajaran itu sendiri.

Sebagai bentuk refleksi dan studi, CC tak hanya mengembangkan diri sendiri, tetapi juga mengembangkan teman sejawat. Ini bentuk pengembangan profesionalitas guru yang pantas untuk dilakukan karena efektivitasnya, apalagi bila dilakukan secara bergantian oleh rekan-rekan dalam satu bidang studi.

Substansi dari CC ini adalah niat baik untuk saling mengembangkan, bukan saling menumbangkan; mengisyaratkan kerendahan hati untuk berbagi dan saling belajar, bukan mengungguli yang lain; mengisyaratkan keterbukaan untuk menerima orang lain, sekaligus kesadaran untuk menerima diri dengan segala kekuatan dan kelemahan.

CC adalah istilah yang jauh dari semangat memikirkan dan mementingkan diri sendiri; sangat jauh dari kesan angker dan menakutkan, sebuah kesan yang sangat mungkin muncul jika yang melakukan observasi atau supervisi adalah atasan atau pimpinan (Kepala Sekolah). Bukankah nilai-nilai dan semangat seperti itu yang hendak kita bawa dan tawarkan kepada siswa kita? Bagaimana mungkin kita mampu membawanya ke dalam ruang-ruang kelas jika kita sendiri tak memilikinya dan tak mau membangunnya?

CC atau pendampingan teman sejawat ini tak hanya memfasilitasi pembelajaran guru, tetapi juga memperkokoh ikatan dan relasi antarguru. Semakin sering guru bertemu, bercakap-cakap, berdiskusi dengan intensi-intensi luhur, semakin hangat relasi interpersonal maupun profesional mereka. Semakin baik relasi, semakin tinggi pula level trust mereka satu terhadap yang lain sehingga dialog profesional dalam rangka meningkatkan kualitas pengajaran, pengembangan kolegialitas mutualistik dapat terus ditingkatkan.

CC mengisyaratkan bahwa pengembangan profesionalitas dan kompetensi guru bisa dibangun tanpa kompetisi. Melalui metode CC ini, guru tak hanya akan kian profesional dengan mengunjungi teman sejawatnya, tetapi juga semakin rendah hati, peduli, dan sadar akan kehadiran Ilahi melalui teman sejawatnya.

Seandainya sekolah memiliki guru-guru (dan Kepala Sekolah) yang mengembangkan kebiasaan (yang tidak biasa) ini, sekolah akan menjadi sekolah yang hebat. Iklim sekolah yang tercipta adalah iklim yang hangat, peduli, penuh hormat, iklim yang membuat semua orang di dalamnya betah bekerja dan belajar. Jika demikian hasillnya, mengapa kita tak mencobanya?

*) Penulis Seorang Pendidik Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP santo F. Asisi, Tinggal di Kota Pontianak

 

 

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.