Cikal Bakal Lanud di Kalimantan, Kini Malah jadi Tertinggal

Cikal Bakal Lanud di Kalimantan, Kini Malah jadi Tertinggal

  Jumat, 25 March 2016 12:34
TAMU REDAKSI:Danlanud Singkawang II Letkol Pnb Sumantri Hidayat (tengah) saat berkunjung ke Ruangan Redaksi Pontianak Post, Kamis (24/3). HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

Danlanud Singkawang II Kunjungi Graha Pena Pontianak Post

Lapangan Udara Singkawang II yang terletak di Kecamatan Sanggau Ledo Kabupaten Bengkayang punya sejarah panjang. Mulai dari berdirinya hingga cikal bakal berdirinya Lanud di Kalimantan. Kemarin, civitas Lanud Singkawang II berkunjung ke Redaksi Pontianak Post agar lebih dekat dengan media massa.

AGUS PUJIANTO, Pontianak

SETIAP pangkalan udara, punya sejarah berdirinya. Begitu juga dengan Lanud Singkawang II. Tak banyak yang mengetahui kebesaran jejak masa kelam peninggalan Pemerintah Hindia Belanda tahun 1937 ini.

Komandan Lanud Singkawang II, Letkol Pnb Sumantri Hidayat menceritakan kisah pangkalan yang dikomandoinya itu saat berkunjung ke Redaksi Pontianak Post, Kamis (24/3).

“Lanud Singkawang II masih banyak yang belum mengetahui. Untuk itu, selain silaturahmi, kami juga ingin mensosialisasikan sejarah juga keberadaannya,” kata Sumantri di tengah perbicangan hangat bersama awak redaksi dan ditemani pula Wakil Direktur Pontianak Post, Salman Busrah.

Nama Singkawang, masih melekat pada Lanud yang berada di Kecamatan Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang. Pangkalan itu, didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda dan pada masanya, dijadikan basis operasi milik Belanda, untuk memperkokoh kedudukannya di tanah Kalimantan.

Awal berdirinya, landasan itu sepanjang 900 meter dan lebar 30 meter. Pernah ditempatkan puluhan pesawat tempur dan angkut Belanda. Tujuan landasan itu dibuat, kata Sumantri, untuk menghadapi invasi Jepang. Letaknya yang dekat dan menghadap laut Natuna, dinilai strategis untuk mendukung persenjataan. Akan tetapi, tujuan Belanda tidak tercapai, sebab pangkalan diserbu pasukan Jepang.

“Jepang menghancurkan pangkalan, dibombardir. Bekas ledakan bom Jepang juga masih ada jejaknya di pangkalan,” kata Sumantri.

Lanud Singkawang II juga pernah diserang oleh Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) pada tahun 1967. Sumantri mengungkapkan jika dirinya berkesempatan mengunjungi salah seorang pelaku sejarah tragedi itu.

Adalah Budjang Hasan, salah seorang personil yang selamat dari penyerangan PGRS-PARAKU. Budjang merupakan personil yang berjaga sebagai sentral telepon. “Saya bersyukur beberapa waktu lalu masih diberi kesempatan berkunjung ke kediaman Budjang Hasan, di Singkawang, untuk mengulik sejarah Lanud,” ujar Sumantri.

Mengutip sejarah dari laman http://tni-au.mil.id, Pangkalan Udaran Singkawang II merupakan Lanud yang melahirkan dan mencetuskan Lanud Supadio Pontianak, Pangkalanbun, Lanud Rinai di Natuna.

“Sesuai sejarahnya, Lanud Singkawang II, terbesar di Kalimantan. Cikal bakal berdirinya Lanud di Kalimantan. Akan tetapi, sekarang kami ketinggalan dari Lanud lain,” ungkap Sumantri.

Dalam perkembangannya, saat ini landasan Lanud Singkawang II sudah tidak ada lagi pesawat yang landing. Seingat Sumantri, terakhir tahun 1990 masih ada pesawat patroli perbatasan yang landing dan take off dari runaway. “Sekarang, sudah tidak ada lagi. Mungkin karena butuh landasan lebih panjang,” terangnya.

Saat ini, ada 78 personil yang bertugas di Lanud Singkawang II. Dengan keterbatasan jarak dan fasilitas, Danlanud mencoba kembali menggaungkan namanya, dengan mengenalkan sejarahnya ke masyarakat.

“Tujuan kami, untuk silaturahmi dan mengenalkan Lanud Singkawang II. Selain itu, kami juga ingin menjalin hubungan baik dengan media, agar sejarah dan keberadaannya diketahui oleh masyarakat,” tukasnya. (*)

 

Berita Terkait