Cevy dan Noorca Berbagi Pengalaman dari Hati ke Hati

Cevy dan Noorca Berbagi Pengalaman dari Hati ke Hati

  Selasa, 8 March 2016 09:51
BERBAGI: Pengarang novel 180 Mohammed Cevy Abdullah dan Noorca M Massardi saat acara bincang dan berbagi. FORSAS FOR PONTIANAK POST

Berita Terkait

Forum Sastra Kalbar memfasilitasi peluncuran novel inspiratif berjudul 180 karya pengusaha muda Mohammed Cevy Abdullah dan penulis Noorca M Massardi. Buku ini dibedah dalam acara bincang dan berbagi novel 180. IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

“Today is today! Kerjakan apa pun yang terbaik hari ini. Cintai dia seakaan besok, salah satu di antara kalian akan mati,” usai Mohammed Cevy Abdullah menyebut kalimat itu, yang menjadi salah satu quote dalam novel 180, garapannya bersama Noorca M Massardi, gema tepuk tangan memenuhi Aula Rumah Radakng Pontianak, Sabtu (5/3) sore.

Para peserta bincang dan berbagi Novel 180 sore itu sebagian besar adalah kalangan anak muda. Yang memang jadi target pembaca novel inspiratif unik, kolaborasi penulis nasional dan seorang pengusaha muda ini. Tak hanya berasal dari Kota Pontianak, mereka yang hadir di tengah gerimis kota Khatulistiwa, bahkan datang dari kota Singkawang.

Lebih dari seratus pasang mata masyuk menghadap depan. Bersama iringan tawa dan wajah serius, silih berganti terlihat. Mereka penasaran, apa dan bagaimana novel 180 ditulis. Apalagi melibatkan dua kepala beda generasi dan latar belakang. Cevy yang berusia 36 dan Noorca yang 62 tahun. Gabungan pengusaha, peternak ayam di Cianjur dan seorang penulis nasional yang juga berkecimpung di dunia jurnalistik.

Cevy pun memulai, dengan lebih dulu bercerita tentang Tora, sang tokoh utama. Anak seorang petani yang punya cita-cita tinggi. Menjadi miliuner di usia 30 tahun. Hidupnya tak semulus jalan-jalan ketika pejabat negara datang. Penuh liku, lubang, bahkan lumpur layaknya jalan perbatasan.

“Kenapa petani? Karena ada banyak anak muda, tidak tertarik dengan pertanian. Sementara persediaan kita, menipis dari tahun ke tahun,” ujarnya, yang baru-baru ini didaulat sebagai penasehat Slankerprenuer, program interprenuer band Slank, untuk para penggemarnya itu.

Ada banyak cara untuk berkembang, tak perlu melulu ke Jakarta. Itu jalan yang ditempuh Tora, mungkin juga Cevy sendiri yang mengaku sebagian besar cerita, berisi pengalaman dirinya, juga Noorca dalam menjalani kehidupan. Hal itu diakui Noorca, mantan pimpinan redaksi beberapa majalah nasional ini mengatakan, tak mungkin menulis tanpa memasukkan pengalaman. Cerita hidup diri sendiri. “Tapi tidak semuanya murni pengalaman kami, ada bumbu-bumbu fiksi yang diramu dalam novel ini,” jelas Noorca.

Bercerita tentang semangat menggapai cita-cita, apa yang dilakukan Tora diharap menjadi inspirasi generasi muda. Kehidupannya yang tak melulu “benar”, bahkan sempat terperosok dalam lubang hitam. Ditambah kisah cinta, jadi pemanis novel setebal 312 pagina itu. Noorca menambahkan, kesederhanaan sosok Tora bisa dijadikan tauladan. Kebahagiaannya yang hanya memiliki uang Rp10 ribu, sama dengan kebahagiaan ketika bisa membeli mobil baru.

“Kalau judulnya, 180, itu merepresentasikan 180 derajat. Jika ingin melakukan perubahan, jangan tanggung-tanggung. Harus 180 derajat. Yang bisa lakukan itu diri kita sendiri. Hidup kita, ditentukan diri sendiri,” jelas Cevy.

Tak hanya angka 180 sebagai judul novel yang jadi unsur angka dalam novel yang dicetak dalam tiga edisi warna sampul berbeda itu. Ada angka tujuh yang lekat dalam pilihan Tora. Ketika ditanya, Cevy berkata tak ada maksud tertentu. "Tora hanya senang pada angka itu," katanya.

Novelnya sengaja dicetak Penerbit Kakilangit tiga warna yaitu hitam, putih dan merah. "Seperti Tora yang jelas memilih mau jadi apa, begitu juga pembaca. Silakan memilih warna yang disuka, yang jelas, tidak ada warna abu-abu dalam hidup Tora,” kata Cevy filosofis.

Perihal penulisan yang melibatkan dua kepala, Noorca bercerita, hampir tak ada kendala berarti. Walau beda generasi dan domisili. Keduanya menyelesaikan novel itu dalam 14 bulan, dengan beberapa kali bertemu dan sisanya saling kirim surat elektronik. Saling paham dan menghormati pendapat masing-masing, disebutnya sebagai kunci.

“Yang penting saling menghormati ide masing-masing dan mengingat tujuan untuk menghasilkan karya terbaik. Karena tujuan awal membikin novel ini untuk berbagi,” kata Noorca.

Garis besar cerita, sebagaian besar ide Cevy, sementara unsur pembentuknya, mulai dari plot, alur, tokoh dan sebagainya, mereka rembukan berdua. Novel yang dijual seharga Rp70 ribu itu menurut mereka akan dibagikan gratis sebanyak 10.000 eksemplar di sejumlah kota di Indonesia.

Ada satu hal yang menarik dari dua penulis ini. Keduanya memiliki ketertarikan yang sama dalam bidang senematik. Rencananya 180 juga akan digarap dalam bentuk film. Namun, itu masih wacana. Yang pasti, mereka masih akan berkunjung ke beberapa kota di Indonesia. Sebagaimana alasan Cevy, mengapa memilih novel sebagai media berbagi, untuk mendekatkan diri, dari hati ke hati.(*)

Berita Terkait