Cerita Rakyat, Tak Hanya Sebatas Ingatan

Cerita Rakyat, Tak Hanya Sebatas Ingatan

  Minggu, 16 Oktober 2016 10:15

Berita Terkait

Cerita rakyat atau dongeng merupakan kisah yang hidup dan berkembang di masyarakat. Disampaikan secara lisan dan turun temurun ke generasi selanjutnya. Tetapi, kini dongeng mulai ditinggalkan. Apalagi muncul beragam teknologi canggih dengan game menarik. Khawatir hilang ditelan zaman, Agus Kurniawan mengumpulkan dongeng lokal dan menjadikannya buku.

Oleh: Marsita Riandini

Bagi generasi 1990-an, cerita tentang Batu Ballah Batu Betangkup, Burung Ruai,  ataupun Asal Mula Kota Pontianak bukanlah hal asing.  Semua cerita dari beberapa daerah di Kalbar itu sering disampaikan para orangtua saat berkumpul di ruang keluarga. Atau, sebagai cerita pengantar tidur. Apalagi saat itu media hiburan tak sebanyak sekarang, membuat anak-anak selalu menantikan dongeng tersebut.

Tetapi saat ini banyak generasi muda yang tak lagi mengenal cerita rakyat. Budaya bercerita di kalangan keluarga pun mulai surut seiring dengan banyaknya kesibukan masing-masing. Akibatnya, ada generasi muda yang tak lagi mengenal khasanah budaya daerah ini. Cerita rakyat hilang tak berbekas. Apalagi ingatan manusia terbatas. 

Harus ada cara agar generasi muda tetap mengenal dongeng daerah asalnya. Cara inilah yang dilakukan Agus Kurniawan. Ia aktif menuliskan cerita-cerita rakyat dari tanah kelahirannya, Tanah Kayong sejak 2012. Tanah Kayong ini terdiri atas Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Ada beberapa judul buku, diantaranya Ikan Ulang Uli dan Putri Junjung Buih, Pelandok dan Kememberang, Burung Pangpakut, Pohon Kedondong Raksasa, serta kisah-kisah pengantar tidur lainnya dari Tanah Kayong. Tulisan ini pun merupakan salah caranya untuk melestarikan warisan budaya daerah. 

Cerita-cerita tersebut sering Agus dengar semasa kecil. Sayangnya, saat ini tak banyak lagi orangtua yang bisa menceritakan kisah tersebut. 

“Istilahnya saya tidak ingin ingatan cerita ini berakhir di kubur orang-orang tua. Ini juga menjadi bagian dari pengembangan kepenulisan lokal terutama di Ketapang dan Kayong Utara. Salah satu yang paling ringkas adalah lewat cerita rakyat ini,” jelasnya. 

Ia mengaku tertarik menulis cerita rakyat sejak duduk di bangku SMA. Dua, ia mengenyam pendidikan di MAN Ketapang. Kebetulan ada gurunya yang seorang sastrawan.

“Karya beliau (guru Agus), sudah dikenal di tingkat nasional. Namanya Pak Syarif Zulkarnain. Nama pena-nye Syadza Kayung. Lewat beliau saya belajar menulis sastra,” tutur Agus.

Agus memiliki tabungan di Bank Cerita ketika menulis. Cerita itu ia dapatkan dari banyak orang. Kemudian, dia mencari informasi lebih lengkap dengan mewawancarai para orang tua. Tentu saja dengan cara tak formal, layaknya orang wawancara. Ia bersama para orang tua berkumpul santai dan bercerita. “Sayangnya sudah banyak yang membawa ingatannya ke dalam kubur. Susah mencari orang-orang tua untuk bercerita,” ungkap Agus. 

Proses penulisan cerita rakyat berbeda dengan karya sastra lainnya. Ketika menulis novel, seseorang bebas menentukan lokasi, nama, dan peristiwa yang diinginkan. Tetapi untuk cerita rakyat, kejadian-kejadian dan lokasinya sudah diketahui oleh umum. 

“Kita tidak bisa memasukkan pikiran-pikiran secara sembarangan. Makanya bisa dikatakan mudah, sebab bahannya sudah jadi, tetapi juga bisa dikatakan susah karena harus mengikuti arus cerita yang ada,” terangnya. 

Dia juga mengkaji nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung didalamnya. Termasuk dari sisi rasionalitasnya. 

“Beberapa dongeng yang saya tulis ulang sudah memasukkan unsur rasionalisasi, tapi dengan perubahan yang minimal. Karena kita sedang ngomong dengan generasi yang sudah tidak percaya kalau Superman itu bisa terbang,” pungkasnya. **

Berita Terkait