Cerita Pelaut Sandera Abu Sayyaf, Diikat di Pohon agar Tidak Lari

Cerita Pelaut Sandera Abu Sayyaf, Diikat di Pohon agar Tidak Lari

  Sabtu, 14 May 2016 15:22
FOTO: Imam Husein/Jawa Pos

Berita Terkait

JAKARTA – Empat pelaut tugboat Henry yang disandera kelompok Abu Sayyaf faksi Alden Bagade telah bertemu dengan orang-orang tercinta mereka kemarin. Dalam serah terima oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) kepada keluarga dan perwakilan perusahaan, terbeber cerita penyanderaan yang lebih kejam jika dibandingkan dengan sepuluh sandera faksi berbeda yang telah lebih dulu bebas.

Samsir, 26, salah seorang sandera, menceritakan bahwa dirinya dan rekan-rekannya sudah melakukan perlawanan ketika para penculik itu menyerbu kapal. Dengan senjata seadanya, sepuluh awak kapal melawan kelompok terlatih tersebut. Karena seorang tertembak, dia dan rekan-rekannya menghentikan perlawanan.

”Sejak saat itu, kami pasrah daripada kena. Karena speedboat-nya kecil, mereka pun pilih acak untuk dibawa. Salah satu yang terpilih saya,” ungkap dia di Gedung Pancasila, Kemenlu, Jakarta, kemarin. Samsir ditawan bersama tiga lain, yakni Mochammad Aryanto Misnan, Loren Marinus Petrus Rumawi, dan Dede Irfan Hilmi.

Saat para sandera dibawa ke kapal perompak, lanjut dia, matahari sudah tenggelam. Hal itulah yang membuat dia tak tahu benar lokasi penyanderaan meskipun mata tak ditutup. Dia hanya mengetahui bahwa dirinya dan rekan-rekannya sudah sampai serta akhirnya diikat berempat dengan tali selama penyanderaan.

”Kalau berhenti, kami bakal diikat ke pohon agar tidak lari. Ikatan itu dilepas kalau kami mau makan, salat, atau buang air. Mereka pun tidak segan untuk kasar kepada kami. Salah satunya teman saya, Loren, yang ditendang karena dia jalannya lamban,” kata juru mudi dari Palopo, Sulawesi Selatan, itu.

Cerita tersebut memang berbeda dengan kisah sepuluh warga negara Indonesia (WNI) yang juga disandera perompak sebelumnya. Saat dilepas, sepuluh WNI ABK Brahma mengaku diperlakukan secara layak. Bahkan, makanan yang dimakan Peter Tonsen dan kawan-kawan itu sama dengan yang disantap penyandera. Sedangkan Samsir mengaku bahwa makanan yang diperoleh para sandera sering kali berupa nasi putih dan daging kelapa kering. ”Kadang-kadang kami juga diberi sisa makanan mereka,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Loren. Jatah makan yang sangat sederhana itu hanya diberikan dua hari sekali. Empat WNI itu bahkan harus memakan makanan tersebut dalam kondisi satu tangan terikat.

Pelaut dari Sorong, Papua Barat, tersebut menceritakan, selama hampir satu bulan dirinya dan rekan-rekannya disandera, kelompok Abu Sayyaf juga sering melakukan kekerasan fisik. Misalnya memukul dan menendang sandera. ”Hanya beberapa kali saja, (pemukulan, Red) enggak terlalu lah,” ucap dia, sesenggukan.

Loren menuturkan, kapal kelompok penyandera tidak pernah menetap di satu tempat. Selalu berpindah-pindah. Setiap hari dia dijaga sekitar 20 orang bersenjata lengkap. Hanya, dia tak bisa menjelaskan secara terperinci lokasi yang menjadi tempat singgah kelompok separatis tersebut. ”Kondisi di tempat sandera itu memang sangat luar biasa,” ujarnya.

Bukan hanya tekanan fisik yang dirasakan korban penyanderaan itu. Dede menuturkan bahwa dirinya dan para sandera lain sering diancam. Di antara penyandera, hanya seorang yang bisa berbicara dengan bahasa Melayu secara patah-patah. Yang diucapkan hanyalah bagaimana pemerintah Indonesia tak memedulikan keselamatan para sandera itu karena tak ada tanda-tanda komunikasi.

”Setiap hari mereka lihatin video sandera dipotong lehernya. Dibilangnya, itu bisa jadi kami kalau tidak ada tebusan. Makanya, kami takut,” ucap dia.

Meski trauma, mereka bersyukur karena akhirnya bisa kembali ke tanah air. Aryanto, misalnya, terus mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang telah berhasil membebaskan mereka. Dia mengaku sampai saat ini tak menyangka bahwa kelompok yang mereka kira tentara rupanya perompak yang bakal menyandera selama 26 hari.

”Saat itu kami memang berusaha melawan dengan barang yang ada. Mulai dari parang, pisau, sampai tabung pemadam kebakaran. Tapi, lima orang itu bersenjata lengkap. Dan akhirnya beginilah hasilnya,” ujarnya.

Panglima Kostrad Letjen Edy Rachmayadi yang memimpin operasi penjemputan menceritakan, rencana serah terima dipersiapkan sejak Rabu (11/5). Setelah koordinasi dengan otoritas Filipina, disepakati acara serah terima dilakukan di perairan dekat Pulau Data, Filipina, di atas KRI Surabaya.

”Karena kalau di Manila, harus terbang dulu,” ujarnya setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, kemarin (13/5). Titik pertemuan tersebut, lanjut dia, ditentukan oleh pihak Indonesia.

Sayang, Pangkostrad tidak menjelaskan secara detail proses negosiasi untuk pembebasan tersebut. Sebagai pimpinan operasi, dia mengatakan hanya diperintahkan untuk melakukan penjemputan dan pengamanan.

Ketika ditanya soal tebusan, dia menegaskan bahwa tidak ada uang sepeser pun yang dikeluarkan TNI maupun pemerintah Indonesia. ”Kalau dari pihak lain, saya tidak tahu,” terangnya, diplomatis. (bil/tyo/far/c11/sof)

Berita Terkait