Cek Pengikut Gafatar di Kemensos, Polisi Dalami Indikasi Penistaan dan Makar

Cek Pengikut Gafatar di Kemensos, Polisi Dalami Indikasi Penistaan dan Makar

  Minggu, 7 February 2016 08:54
Foto Polda Kalbar

Berita Terkait

PONTIANAK—Sebanyak delapan pengikut Gafatar yang dipulangkan ke Jawa beberapa waktu lalu akan dikembalikan lagi ke Kalimantan Barat. Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya menyatakan pemprov melalui instansi berwenang sedang melakukan pengecekan berkenaan pengembalian tersebut.

“Laporan ke saya ada delapan orang yang terdiri atas dua atau tiga kepala keluarga yang informasinya adalah warga Kalbar. Saya perintahkan kepada Dinas Sosial untuk berkoordinasi dengan Kementerian Sosial dan pemerintah kabupaten kota,” ungkap Christiandy di kediamannya, Sabtu (6/2).

Christiandy mengatakan saat ini delapan pengikut Gafatar tersebut berada di Kementerian Sosial. Berdasarkan informasi yang diterimanya, mereka memiliki kartu identitas Kalbar. Jika mereka benar-benar warga Kalbar, mereka akan dikembalikan ke provinsi ini dan pemerintah memiliki kewajiban melakukan pembinaan.

“Jika memang bukan asli Kalbar dan memperoleh KTP tak sesuai prosedur, dikeluarkan surat pindahnya,” kata Christiandy.

Pemprov Kalbar juga melakukan pengecekan terhadap bantuan yang diduga diberikan melalui salah satu instansi kepada pengikut Gafatar. Menurut Christiandy, ada indikasi bahwa bantuan yang diberikan itu untuk kelompok tani sebelum masalah Gafatar mencuat. Bantuan diberikan kepada kelompok tani tersebut karena dinilai benar-benar ini bertani.

“Kami meminta dilakukan pengecekan. Tetapi ini juga warga negara Indonesia. Masalahnya muncul setelah adanya indikasi pelanggaran terhadap beberapa peraturan,” jelas Christiandy.

Christiandy mengatakan satgas penanganan pengungsi Gafatar berakhir pada 4 Februari lalu dan tak diperpanjang. Selama penanganan banyak dana tanggap darurat yang tersedot. Hampir Rp5 miliar. Terhadap pengikut Gafatar yang masih ada di Kalbar, pemprov meminta kepada pemerintah kabupaten kota untuk menanganinya.

Christiandy mengimbau masyarakat agar melihat pengikut Gafatar sebagai saudara sebangsa dan senegara. Dari sekira 5000 anggota Gafatar yang dipulangkan, sebanyak 40 persen adalah anak-anak.

“Jangan melihat mereka secara global. Sebanyak 40 persen itu anak-anak. Berkenaan dengan pentolannya, sudah ditangani aparat penegak hukum,” ujarnya.

Disisi lain, aparat kepolisian masih terus melakukan penyelidikan adanya indikasi penistaan agama dan upaya makar yang dilakukan oleh Gafatar. Kapolda Kalimantan Barat Brigjen Pol Arief Sulistyanto mengungkapkan, saat ini satu tim dari Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri turun ke Kalbar untuk menindaklanjuti temuan-temuan terkait organisasi Gafatar.

Menurut Arief, untuk mengusut kasus ini, pihaknya harus melakukan klasifikasi, siapa yang mencetus ide, siapa yang menyebarkan dan siapa yang hanya pengikut. "Jadi tidak bisa disamaratakan semuanya. Proses ini sedang ditangani oleh Mabes Polri," ujarnya usai memimpin gelar pasukan Ops Liong Kapuas, kemarin.

 Dikatakan Arief, semua temuan-temuan yang didapat dilapangan telah diserahkan ke Bareskrim Mabes Polri untuk dikaji. Tim yang telah berada sekitar seminggu di Kalbar tersebut, menindaklajuti temuan-temuan dari Jakarta, tempat dimana Gafatar dideklarasikan.

“Polda Kalbar dan Polda-Polda lainnya sifatnya mendukung penyelidikan yang dilakukan oleh tim Bareskrim Mabes Polri,” katanya.

Tentang keberadaan pengikut Gafatar di Kalimantan Barat, Arief menganalogikan seperti kasus pencurian mobil yang terjadi di daerah lain yang kemudian barang buktinya dibawa ke Kalbar untuk digunakan. Sehingga pihaknya tidak bisa melakukan pengusutan kasus secara sendiri, melainkan harus berkoordinasi dengan Bareskrim Mabes Polri. 

Terkait aliran dana, penyidikan latar belakang para pengurus Gafatar serta asal usulnya ditangani Mabes Polri. Arief mengatakan, dalam dokumen-dokumen yang ditemukan memang menyebutkan perang serta negara. Namun, kata dia, masih memerlukan pembuktian apa makna perang dan negara yang dimaksud dalam dokumen Gafatar tersebut. “Apakah perang terhadap pemerintah di Kalbar, atau perang terhadap negara Indonesia. Termasuk, soal negara,” katanya.

Arief menyebutkan, pada Selasa 2 Februari 2016, Polres Ketapang juga telah menemukan beberapa dokumen Gafatar. Tampaknya, mereka mencoba menyembunyikan dokumen-dokumen tersebut, saat mereka dievakuasi dari permukiman mereka di Ketapang.

Kepolisian Resor Ketapang bersama aparat Musyawarah Pimpinan Kabupaten, melakukan pemeriksaan di lokasi permukiman Gafatar di Dusun Parit Timur, Desa Suka Maju Kecamatan Muara Pawan. Kelompok tersebut dipimpin oleh Trubus Hermawan. “Ditemukan 8 flashdisk, 1 hard disk portabel, buku Kebenaran Al Qurna, buku Alqyadah Al Islamiyah, dua buku Tafsir Watagwil, dua buku Taleiyah Kristen dan buku menyingkap Tabir Pemisa Jesus Kristus dari Sejarah,” kata Arief.

Di TKP timbunan kedua, ditemukan buku Teologi Abraham, buku kewajiban menghormati hari ke tujuh, buku pendidikan dasar orang tua, buku Millah Abraham, buku Ruhul Qudus yang turun kepada Al'masin Al' Malu'ud, buku Ruhul Qudus Eksistensi dan Esensi Al-Qur'an, buku Memahami dan menyikapi tradisi Al-Qur'an, buku Unmah Perjanjian, dua buku Jus 29, buku DPP Gafatar, buku teladan 25 nabi dan rasul. Seluruhnya, terdapat delapan titik penimpunan. “Namun ada beberapa bagian yang belum dibuka, dan langsung dibawa oleh tim Bareskrim,” tambah Arief.

Langkah Polda Kalimantan Barat, tambah Arief, pihaknya membantu pemerintah daerah melakukan inventarisasi aset milik pengikut Gafatar di Kalbar. Seperti halnya di Polres Mempawah. "Di sana ada 100 lebih sepeda motor, enam ekor lembu dan beberapa aset lainnya. Kita inventarisir untuk dikembalikan kepada pemiliknya," tambahnya. (uni/arf)

Berita Terkait