Cegah Karhutla, Bangun Embung dan Kanal

Cegah Karhutla, Bangun Embung dan Kanal

  Sabtu, 30 April 2016 09:34
EMBUNG: Kolam persegi yang digunakan untuk penampungan air sangat berguna disaat musim kemarau untuk persedian air apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.Haryadi/Pontianak Post

KUBU RAYA – Kasus kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalbar beberapa tahun terakhir cukup  tinggi sehingga menjadi perhatian banyak pihak. Upaya penanggulangan terus gencar dilakukan. Tak sekedar menyiapkan upaya responsif. Sejumlah pihak juga tengah menggalakkan upaya pencegahan secara dini.  Seperti  melibatkan masyarakat dengan membangun embung, sekat kanal.

Embung merupakan tendon air atau waduk berukuran kecil pada suatu lahan yang bertujuan  menampung kelebihan air hujan dimusim penghujan dan pemanfaatannya pada musim kemarau untuk berbagai keperluan baik di bidang pertanian maupun kepentingan masyarakat banyak.

Sedangkan sekat kanal merupakan saluran air buatan yang berfungsi menyanggah persediaan air.

Lahan gambut merupakan salah satu kawasan yang rentan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Kawasan Kecamatan Rasau Jaya, Kubu Raya misalnya. Kawasan tersebut memiliki banyak lahan gambut yang cukup rentan terjadi kebakaran lahan. Dengan kondisi tersebutlah beberapa lahan milik warga desa setempat menjadi percontohan penerapan sistem pembangunan embung dan kanal. Menggunakan lahan seluas 1 hektar sejumlah masyarakat  di Desa Rasau Jaya II bergotong-royong membangun embung, sekat kanal dan sumur bor sebagai wadah persediaan air di kala kemarau.

“Embung, sekat kanal dan sumur bor  ini dibangun dengan tujuan jika sewaktu-waktu terjadi kebakaran lahan, warga di desa ini memiliki ketersediaan air yang cukup untuk memadamkan api,” kata pemilik lahan, Damianus Dwi Pospo.

Embung dengan luas 4x 6 meter dan kedalaman sekitar 2 meter itu dinilai mampu memenuhi kebutuhan air bagi warga sekitar terutama saat terjadi musim kemarau.  Jika memasuki musim penghujan embung bisa berfungsi sebagai wadah penyimpanan air, selain itu juga bisa digunakan warga setempat untuk beternak  ikan seperti lele dan sejenisnya.

Jika sudah masuk musim kemarau, air yang ada dalam embung dan sumur bor  akan berfungsi memadamkan api, sedangkan sekat kanal  berfungsi menjadi penyanggah air sehingga tidak mudah merembes ke daerah lain.

Di desa Rasau Jaya II sendiri hingga saat ini terdapat sekitar 12 sekat kanal,  4 embung dan lima sumur bor dengan kedalaman 30 meter yang tersebar disejumlah titik.

“Khusus untuk sumur bor jaraknya kami bangun sekitar 300 meter -  400 meter dari masing-masing sumur bor yang ada,” ucap Damianus.

Damianus menceritakan pada tahun 2015 merupakan kebakaran yang cukup besar terjadi setelah tahun 2006 lalu. “Sebelumnya tahun 2006 lalu hampir 30 hektar lahan disekitar desa Rasau Jaya II terbakar, dan tahun 2015 sekitar 11 hektar kebun kelapa sawit dan nanas milik saya juga ikut terbakar,” ucapnya.

Kala itu kebakaran lahan berlangsung, belum ada embung, sumur bor dan sekat kanal untuk mencegah kebakaran meluas. Bahkan menurutnya ada satu lahan warga lantaran sulit dijangkau dan tidak memiliki persediaan air yang cukup membuat pemadam kebakaran termasuk pihak Manggala Agni kesulitan memadamkan api. Alhasil masyarakat desa setempat, berjibaku memadamkan api dengan peralatan seadanya.(ash)