Cegah Campak pada Anak

Cegah Campak pada Anak

  Jumat, 12 Agustus 2016 09:45

Berita Terkait

Campak pada balita perlu diwaspadai. Penyakit yang ditularkan melalui percikan ludah dan melalui jalan napas ini dapat menyebabkan kebutaan, bahkan kematian. Orangtua pun perlu melakukan tindakan pencegahan. Salah satunya dengan memberikan imunisasi campak pada sang anak.

Oleh: Chairunnisya

“Mau suntik, ya?,” tanya Sefti, pelajar TK A di Kubu Raya kepada petugas puskesmas yang datang ke sekolahnya. Bocah berusia empat tahun ini dengan tenang. Ketika tenaga kesehatan mengeluarkan jarum suntik, wajah Sefti menjadi tegang. Ketika jarum suntik mengenai lengannya, Sefti hanya meringis. Namun, tak menangis.

Berbeda dengan Sefti, Dzakiya yang satu sekolah dengannya tak diimunisasi. Ayah Dzakiya, Wahyu tak mengizinkan anaknya diimunisasi.
”Sebab anak saya sedang batuk pilek. Nanti saja diimunisasi campaknya,” ujar Wahyu.

Berbeda dengan Wahyu, Samie menolak cucunya diimunisasi campak karena khawatir membawa dampak buruk. Ia khawatir imunisasi malah akan membuat sang cucu sakit.

“Masih ragu, aman atau tidak. Kalau ragu, bagusnya tak usah. Jadi tak saya imunisasi,” kata Samie.

Dokter Anak, James L  Alvin Sinaga, Sp.A menyatakan imunisasi campak aman diberikan kepada anak. Imunisasi dasar diberikan ketika anak berusia sembilan bulan, lanjutan pada umur 24 bulan, dan tambahan atau crash program pada umur hingga 59 bulan.   

“Jika anak berusia di bawah lima tahun, sebaiknya diberikan lagi imunisasi campak (crash program). Karena tak membawa kekebalan seumur hidup jika (imunisasi) sekali saja,” ujar Alvin ketika ditemui seusai pencanangan Bulan Imunisasi Campak di Pontianak Convention Center pekan lalu.

Penyakit campak disebabkan oleh virus Myxovirus Viridae Measles (virus morbii). Virus campak berada di sekret nasofaring dan dalam darah, minimal selama masa tuntas dan dalam waktu singkat sesudah munculnya ruam. Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperatur kamar dan tak aktif pada pH rendah.

Penularannya melalui percikan ludah dan melalui jalan napas. Awalnya, anak yang tertular campak mengalami demam, batuk, dan pilek. Ini merupakan gejala awal. Kemudian, timbul ruam  kecil atau bercak kemerahan. Ruam akan muncul di kulit setelah beberapa hari kemudian. Urutan kemunculan bercak ini dari belakang telinga, sekitar kepala,  kemudian ke leher. Pada akhirnya ruam akan menyebar ke seluruh tubuh.

“Ruam ini muncul mulai dari kepala hingga ke tungkai,” kata dokter yang bertugas di RSUD Soedarso Pontianak ini.

Jika dibiarkan, bisa timbul komplikasi dan menyerang paru-paru, susunan saraf pusat otak, dan saluran cerna. Campak juga bisa menyebabkan kebutaan, bahkan kematian.

“Kematian akibat komplikasi itu paling fatal,” jelas Alvin, yang menyarankan agar orangtua segera membawa anak ke pusat pelayanan kesehatan, jika muncul gejala tersebut. **

----------------------------------------------

Upaya Pencegahan

Dokter Alvin menjelaskan pencegahan penyakit campak dilakukan sejak anak lahir. Beberapa upaya pencegahan tersebut, yakni:

*Beri ASI Eksklusif

Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dapat memberikan kekebalan tubuh bayi dari beberapa penyakit, termasuk campak.

*Nutrisi lengkap dan seimbang

Pemberian nutrisi lengkap dan seimbang kepada anak sesuai umur harus dilakukan. Anak yang terpenuhi kebutuhan nutrisinya memiliki daya tahan tubuh yang baik, sehingga tak mudah tertular penyakit.

*Hindari kontak dengan penderita campak.

Penderita campak sebaiknya tak berinteraksi dengan orang lain. Ini untuk melindungi teman ataupun keluarga agar tak tertular, karena penularan campak melalui percikan ludah dan melalui jalan napas.

*Vaksinasi campak

Vaksinasi atau imunisasi campak termasuk program imunisasi wajib, diberikan kepada bayi di atas enam bulan. Di indonesia imunisasi campak umumnya diberikan pada usia 9 bulan. Imunisasi lanjutan pada umur 24 bulan, dan tambahan atau crash program pada umur hingga 59 bulan. (uni)

Berita Terkait