Cegah Bahasa Daerah Hilang dari Peradaban

Cegah Bahasa Daerah Hilang dari Peradaban

  Selasa, 30 Agustus 2016 09:30
BAHASA: Salah satu kegiatan dalam revitalisasi bahasa daerah di Sintang. ISTIMEWA

Berita Terkait

Beberapa pakar menyebut bahasa daerah (bahasa ibu) sebagai sarana tutur kian lemah. Penyebabnya, antara lain anggapan bahasa daerah simbol pikiran tradisional, bahasa orang kampung, bukan sarana pendukung dunia kerja, dan bahasa tak bergengsi. 

*****

ANGGAPAN ini sangat mengkhawatirkan dan akan semakin menambah punahnya bahasa daerah di masa yang akan datang. Atas kekhawatiran ini, UNESCO memberikan perhatian besar terhadap keberlangsungan bahasa daerah dengan ditetapkan 21 Februari resmi sebagai hari bahasa ibu internasional. 

Hal ini menjadi landasan betapa pentingnya eksistensi bahasa ibu sebagai pembentuk karakter dan penguatan jati diri bangsa. Sejalan dengan kekhawatiran ini dan untuk menyelamatkan bahasa daerah dari ancaman kepunahan diperlukan upaya revitalisasi. 

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerjasama dengan Balai Bahasa Kalimantan Barat telah mengadakan kegiatan Revitalisasi Bahasa Dayak Desa di Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Bukit Kelam, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat. 

Menurut Abdul Rohim, peneliti di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada tiga tahap dalam proses revitalisasi ini, yakni tahap pertama dilaksanakan selama tujuh hari pada Mei lalu, tahap kedua dilakukan pada Juli lalu dengan durasi tujuh hari juga, sedangkan tahap ketiga berupa evaluasi dan monitoring akan dilakukan pada Agustus. 

"Kami ingin menambah jumlah penutur pemula bahasa daerah pada kelompok penerima manfaat. Karenanya, lebih diprioritaskan pada anak-anak usia sekolah," kata Rohim di Pontianak. 

Rohim dibantu beberapa peneliti dari Balai Bahasa Kalbar, yakni Dwi Agus Erinita, Dedy Ari Asfar, dan Irmayani. Menurut dia, metode yang digunakan dalam Revitalisasi Bahasa Dayak Desa adalah pengalihan informasi bahasa oleh penutur bahasa Desa kepada generasi penerus agar bahasa tersebut diberdayakan kembali. 

Revitalisasi menurut Grenoble dan Whaley (2006: 7-21) merupakan proses penambahan daya bahasa yang terancam kepunahannya dengan tujuan agar bahasa ini memenuhi fungsinya untuk komunitas penutur. Penambahan daya bahasa mencakupi upaya pelindungan dan pengembangan bahasa serta pembinaan penutur bahasa. Lazimnya, upaya penguatan sumber daya bahasa terkait dengan ancaman kepunahan bahasa karena penutur bahasa mulai meninggalkan bahasa itu.  

“Kenyataan di daerah Ensaid Panjang menunjukkan bahwa bahasa Dayak Desa mulai diacuhkan dan ditinggalkan penuturnya karena bahasa lain yang lebih luas daya jangkau komunikasinya dapat menggantikan bahasa itu dalam berbagai ranah penggunaan bahasa untuk mencapai peluang sosial dan ekonomi yang lebih luas,” jelas Rohim. 

Kegiatan revitalisasi Bahasa Dayak Desa dilakukan dengan cara pengalihan informasi bahasa oleh penutur Bahasa Dayak Desa kepada generasi penerus melalui tindakan; praktisi/pakar memberikan ceramah/kuliah umum kepada masyarakat di Ensaid panjang, kepala kampung memberikan pengarahan tentang pentingnya pelestarian budaya bangsa termasuk bahasa daerah. 

“Kami juga melibatkan langsung sumber ajar bahasa daerah yang digali dari nyanyian rakyat dan permainan rakyat,” katanya. 

Bukan itu saja, kata Rohim, revitalisasi ini juga melakukan praktik pembelajaran bahasa daerah, simakan anak terhadap cerita, hingga pementasan tradisi bekhana dan benani hasil pelatihan ketika evaluasi kegiatan.    

Hasil Pelaksanaan kegiatan ini berupa naskah tulisan dan video rekaman tentang Bahasa Dayak Desa di Kabupaten Sintang.(*/mnk)

Berita Terkait