Catatan Seputar Olimpiade Mata Pelajaran

Catatan Seputar Olimpiade Mata Pelajaran

  Minggu, 17 April 2016 11:47   1

BELAKANGAN ini jagat pendidikan kita (sekolah) disibukkan dengan pelbagai olimpiade mata pelajaran. Ada olimpiade matematika, fisika, kimia, biologi, ekonomi, geografi, astronomi, dan sebagainya. Dengan alasan untuk mendongkrak mutu pendidikan dan nama sekolahnya dikenal masyarakat luas, hampir semua mata pelajaran diolimpiadekan.

Kegiatan olimpiade mata pelajaran kini, menjadi tren baru kompetisi akademik di kalangan siswa, baik tingkat SD, SMP, maupun SMA.  Rupa-rupa olimpiade mata pelajaran digelar di tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, bahkan tingkat nasional. Tak terbantahkan, kini sebagian besar sekolah kita ‘demam olimpiade’.

Tak dinyana, olimpiade mata pelajaran mampu menyedot perhatian sejumlah pihak yang bergelut di jagat pendidikan, terutama kepala sekolah dan guru. Virus olimpiade telah menjalari dan membakar ambisi kepala sekolah, guru, pejabat di dinas pendidikan, dan orang-orang yang memiliki kepentingan atas nama kemajuan pendidikan di Indonesia.

Demi mimpi dan ambisi tersebut, tak sedikit sekolah yang membentuk semacam tim khusus olimpiade, menunjuk guru-guru tertentu menjadi tim sukses olimpiade di sekolahnya. Tim yang bertugas menyeleksi siswa-siswi cerdik pandai untuk dipisahkan dari siswa lain yang kurang pandai atau (maaf) ‘bodoh’.

Siswa-siswi yang terpilih dikumpulkan lalu diberikan fasilitas belajar terbaik, ruang kelas ber-AC, LCD proyektor, akses internet, dan guru-guru dengan kualitas terbaik. Bahkan tak jarang sekolah menyewa tenaga khusus dari luar, dari perguruan tinggi (PT) untuk menyiapkan proyek olimpiade tersebut. Sementara siswa yang tak terpilih cukup belajar dengan ruang kelas apa adanya dan guru-guru berkualitas domestik (lih. Herman J.P. Maryanto, 2011).

Mengkritisi demam olimpiade yang kian marak belakangan ini, penulis berpendapat ketika sekolah hanya fokus pada keberhasilan olimpiade sebagai ukuran kesuksesan dan kualitas pendidikan, itu adalah sebuah kesalahan karena hal itu telah mengabaikan dan mengorbankan siswa lain yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Ketika sekolah (dalam hal ini kepala sekolah dan guru) hanya fokus pada olimpiade dengan memberikan fasilitas khusus pada segelintir siswa untuk memenangkan dan meraih medali olimpiade guna mendongkrak nama baik kepala sekolah, guru, dan katanya sekolah serta jagat pendidikan pada umumnya, sesungguhnya tanpa kita sadari proyek olimpiade itu telah mengabaikan kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap siswa.

Di sana telah terjadi penyingkiran secara sistematis dan kultural terhadap sebagian besar siswa yang sesungguhnya mereka juga memiliki keunggulan dan keistimewaan. Bukankah Howard Gardner, Bapak Kecerdasan Majemuk itu, telah memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa anak memiliki kecerdasan majemuk pemberian terindah dari Sang Ilahi?

Bukankah Anak tidak hanya pandai dalam logika matematika (logical mathematical intelligence), pandai dalam pemahaman ruang (spatial intelligence), tetapi juga pandai dalam menulis dan berkata-kata (languages intelligence), pandai dalam berelasi dengan orang lain dan dirinya sendiri (interpersonal and intrapersonal intelligence), pandai berelasi dengan alam (nature intelligence), pandai dalam hal music dan bernyanyi (musical intelligence), dan pandai dalam gerak dan olah tubuh (kinesthetic intelligence)? (Howard Gardner dalam Herman J.P. Maryanto, 2011:44-45).

Merefleksikan lebih dalam terkait olimpiade mata pelajaran ini, tanpa kita sadari sekolah (dalam hal ini kepala sekolah dan guru serta tim khususnya) telah berlaku diskriminatif dengan melakukan pemilahan antara siswa yang (maaf) bodoh dengan siswa yang pintar. Sekolah, kepala sekolah, guru telah membanding-bandingkan kemampuan siswa yang satu dengan lainnya. Padahal, berdasarkan kecerdasan majemuk yang dimilikinya, semua siswa memiliki keunggulan dan keistimewaannya sendiri-sendiri.

Pemilahan antara siswa yang (maaf) bodoh dengan siswa yang pintar ini, hemat penulis akan berdampak pada semangat belajar siswa. Segelintir siswa yang terpilih menjadi tim olimpiade itu bisa jadi semangat belajarnya akan berlipat ganda dengan rupa-rupa fasilitas yang mereka dapatkan. Sebaliknya, bagi sebagian besar siswa, bisa jadi hal itu mematahkan semangat siswa untuk belajar. Toch, saya masuk kategori siswa yang kurang pandai. Dampak lain yang lebih berbahaya dari proyek olimpiade ini adalah adanya ‘komoditas politik baru’ oleh oknum-oknum tertentu di jagat pendidikan kita.

Lalu apakah olimpiade mata pelajaran tak boleh diadakan di sekolah-sekolah kita? Olimpiade mata pelajaran tetap relevan untuk diadakan dan dilombakan. Pada titik ini, pihak sekolah mesti memberikan sosialisasi berupa penjelasan detail komprehensif tentang substansi dari olimpiade mata pelajaran itu.

Pihak sekolah mesti menjelaskan bahwa proyek olimpiade itu bukanlah penyingkiran yang kuat terhadap yang lemah, yang pintar terhadap yang bodoh karena sesungguhnya tidak ada siswa yang bodoh. Kesuksesan kompetisi (dalam hal ini olimpiade mata pelajaran) bukanlah ukuran standar kesuksesan lembaga pendidikan (sekolah). Ukuran standar kesuksesan lembaga pendidikan (sekolah) tetap berpijak pada kesuksesan pertumbuhan individu siswa. Dengan demikian, siswa tetap dikuatkan, difasilitasi, dimotivasi, disemangati untuk terus belajar secara optimal mengembangkan bakat dan minat yang dimilikinya.

*) Penulis Seorang Pendidik, Alumnus USD Yogyakarta, Humas SMP santo F. Asisi, Tinggal di Kota Pontianak                                                                                                              

 

 

 

 

Drs. Y Priyono Pasti

Saya adalah seorang guru. Sejak tahun 1984, ketika saya masih kuliah saya sudah mengajar (menjadi guru) di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Sejak masih kuliah saya sudah melakukan aktivitas menulis. Bagi saya menulis merupakan aktivitas yang penting untuk sharing pengetahuan dan aktualisasi diri. Kini saya guru aktif di SMP dan SMA Santo Fransiskus Asisi Pontianak. Sebelumnya menjadi kepala SMA lebih kurang 11 tahun. Ikut berbagai kegiatan di Unit Yayasan Pancur Kasih. Pernah mewakili Yayasan Pancur Kasih mengikuti kegiatan CCFD di Perancis tahun 2003.