Cara Orang Sungkup Menjaga Tanaman dari Serangan Hama

Cara Orang Sungkup Menjaga Tanaman dari Serangan Hama

  Senin, 7 December 2015 10:21
Foto Arief/Pontianak Post

Berita Terkait

Masyarakat Dayak Limbai di Sungkup (orang Sungkup) memiliki budaya yang unik dalam menjaga tanaman padi di ladang mereka. Agar tidak terserang hama dan penyakit, orang Sungkup melakukan ritual yang oleh masyarakat lokal disebut ritual selamatan daun padi. Pontianak Post berkesempatan melihat secara langsung ritual unik itu. ARIEF NUGROHO, Sungkup

Secara geografis, Dusun Sungkup atau Kampung Sungkup sendiri terletak di Desa Belaban Ella, Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Penduduknya merupakan Suku Dayak dari dua subsuku, yaitu Limbai dan Ransa.

Untuk mencapai daerah itu, setidaknya harus menempuh perjalanan darat sekitar 12-15 jam dari Pontianak. Namun, jika ingin mempersingkat perjalanan, bisa juga menggunakan jalur udara, yaitu penumpang pesawat dari Bandara Supadio, Pontianak, menuju Bandara Susilo di Kota Sintang dengan waktu tempuh hanya setengah jam. Dari Kota Sintang, kemudian lanjut menggunakan jalur darat menuju Dusun Sungkup di Kabupaten Melawi dengan waktu tempuh sekitar enam jam.

Dusun Sungkup berada di kaki Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya. Sebelah Utara berbatasan dengan Nanga Siyai, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah, sebelah Barat berbatasan dengan Promang Nyuruh dan sebelah Timur berbatasan dengan Desa Sungai Sampak.Meskipun berada di kaki perbukitan dan daerahnya terpencil, rumah masyarakat di Dusun Sungkup sudah cukup modern. Sebagian besar bangunan mereka semi permanen. Sebagian lainnya terbuat dari susunan papan kayu dengan model panggung. Untuk penerangan, kampung Sungkup ditopang dengan mesin genset yang hanya diaktifkan pada malam hari. 

Meski demikian, Sungkup masih memiliki ciri khas sebagai perkampungan dayak. Salah satunya adalah keberadaan rumah panjang (rumah khas Dayak). Bagi mereka, selain sebagai tempat tinggal, rumah panjang juga digunakan sebagai tempat pertemuan warga dan melaksanakan upacara adat.Kedatangan kami bersama Yayasan Persektif Baru (YPB) dan Lembaga Bela Banua Talino (LBBT) disambut dengan meriah. Sembari tadi warga masyarakat berkumpul di mulut kampung. Gapura dari bambu lengkap dengan pernak-pernik terpasang. Di sudut kanan sebuah papan bertuliskan “Selamat datang rombongan dari Jakarta dan Pontianak ke Dusun Sungkup” pun menjadi hiasan.

Dusun terpencil itu mendadak riuh. Warga setempat menyiapkan pesta potong ompong atau pesta penyambutan, yang oleh masyarakat adat setempat biasanya digunakan untuk menyambut tamu istimewa, pejabat penting atau pengantin baru. Di seberang sana, seorang perempuan tua terlihat sibuk menyiapkan sesajen. Sementara warga lainya berkumpul menyambut kami dengan sorak sorai.Upacara adat penyambutan pun dimulai. Aria, pria parobaya yang belakangan diketahui sebagai wakil tumenggung itu membacakan bait-bait penyambutan. Prosesi upacara yang senderhana namun istimewa itu dimulai dengan dibuka lewat atraksi persembahan pencak silat yang dilakukan oleh tetua kampung.

Di sisi lain, gadis-gadis muda bersiap untuk menyuguhkan tarian khas selamat datang. Upacara dilanjutkan dengan menginjak telur, bersulang tuak, menyembelih ayam dan menombak babi, pemberian gelang adat, memotong palang (ompong) menggunakan Mandau dan yang terakhir pengaluangan bunga kepada kepala rombongan sebagai tanda diterima di kampung itu.Tak terasa sejak upacara penyambutan potong ompong tadi, waktu sudah menunjuk pukul 23.00. Rasa kantuk dan lelah akibat perjalanan panjang memaksa untuk cepat-cepat merebahkan badan. Tapi sayang, kami tak ingin melewatkan momen-momen penting di perkampungan itu.

Di dusun itu, kami menginap di rumah salah satu warga. Sang pemilik rumah memperlakukan kami dengan ramah. Mereka menyuguhi kue tradisional khas Dusun Sungkup. Ada kue lulun, kudapan lunak terbuat dari beras ketan berisi kelapa berwarna hijau, juga gorengan ketan yang disebut rompo, kembang loyang ditambah rengginang. Tak ketinggalan, kopi dan teh hangat yang dituang dalam gelas kaleng kecil-kecil.

Setelah beristirahat sejenak, ternyata waktu sudah menunjukan pukul 02.00. Dari kejahuan terdengar suara gaduh seperti kayu yang dipukul-pukul bercampur suara gong. Suara itu mengeluarkan irama yang unik. Ya, mereka baru saja akan memulai ritual Selamatan Daun Padi.Sebagian warga yang didominasi oleh kaum ibu pun berdatangan ke rumah adat. Mereka membawa seikat daun padi, berikut daun dari beberapa pohon serta batang-batang bambu, yang telah dianyam sedemikian rupa. Mereka menyebutnya tipoh. Selain itu, ada pula ember-ember hitam berisi air laut yang diambil pada bulan langit, daun padi, dan beras.

Tipoh sendiri adalah batang bambu dengan panjang kurang dari dua meter. Sisi kiri dan kanan bagian pucuknya terdapat keranjang kecil, juga dari bambu. Di bagian tengahnya diikat dua bilah bambu mini berbentuk tabung kecil.Di sela-sela ritual, aroma arak tajam menyengat hidung. Seorang perempuan yang ditunjuk sebagai dukun mulai merapalkan doa-doa. Sirih di mulut tidak menghalanginya mengucap dan merapal sambil mengibas-ngibaskan daun padi ke tumpukan tumbuhan di hadapannya.

Inilah cara orang Sungkup menghormati alam yang akan menyuburkan ladang dan sawah mereka. “Dalam bahasa kami, acara ini disebut gawai masuk, dilaksanakan setelah berladang selama dua sampai tiga bulan, agar hasil ladang termasuk padi, tidak mengalami gangguan sampai panen dan bisa tumbuh subur,” kata Bahen, seorang tokoh masyarakat di Dusun Sungkup. (*)

Berita Terkait