Cara Iran Bertahan di Tengah Isolasi Sistem Keuangan

Cara Iran Bertahan di Tengah Isolasi Sistem Keuangan

  Senin, 26 Oktober 2015 09:39
REUTERS

Berita Terkait

Isolasi sistem keuangan membuat Iran menghadapi sejumlah problem ekonomi. Namun, itu tidak berarti perbankannya menjadi terbelakang.

SOFYAN HENDRA, Teheran.

“YANG agak besar harganya 12.000,”kata perempuan penjaga toko cenderamata di Milad Tower itu, menunjuk replika patung Darius berbahan gipsum. Replika patung Darius I dengan pose ikonik, duduk tegak di singgasana sambil menggamit tongkat, memang buah tangan favorit di Milad Tower, Teheran.

 Darius yang Agung (550 SM - 486 SM) merupakan salah satu simbol kejayaan bangsa Persia, tanah yang sebagian besarnya diwarisi warga Iran saat ini. Semula penulis berpikir mengapa harga suvenir di tower tertinggi kedelapan di dunia itu murah sekali. Sebab, 12.000 iranian riyal hanya sekitar Rp 6.000 per buah. Ternyata, harga tersebut menggunakan satuan ukuran toman.

 Pada masa Darius I, Persia telah menghasilkan penemuan paling berguna sepanjang sejarah: koin emas yang lantas menjadi cikal bakal sistem moneter modern. Sistem keuangan yang dirintis Persia diadopsi secara luas di seluruh dunia seiring dengan berkibarnya kerajaan itu sebagai negeri adikuasa. Sebuah ironi jika dibandingkan dengan situasi yang dihadapi bangsa Iran saat ini: isolasi penuh atas sistem keuangan.

 Nah, toman adalah mata uang yang pernah digunakan Iran sebelum 1932. Hingga kini toman masih digunakan sebagai penunjuk harga di tiap transaksi di Iran. Nilai tukarnya, 1 toman sama dengan 10 iranian riyal. Karena menghemat satu nol, warga Iran lebih suka menggunakan ukuran toman untuk berjual beli.

 Iran memang menghadapi inflasi yang sedemikian tinggi sehingga iranian riyal menjadi teramat murah. Saking murahnya, pecahan uang tertingginya adalah 1 juta. Paling bernilai kedua adalah 500 ribu. Maka tak heran jika warga Iran lebih senang menyebut satuan toman untuk bertransaksi.

 Namun, menghilangkan satu nol saja belum cukup. Sering kali semua nol juga dihilangkan. “Pemerintah kami berencana memangkas banyak nol. Namun, warga Iran memulainya lebih dulu,” kata Ali Azadimanesh, service portfolio development manager Mapna Group, perusahaan produsen pembangkit listrik.

 Redenominasi (memangkas nol tanpa menggunting nilai mata uang) memang tengah digodok pemerintah Iran. Namun, kebijakan yang bisa memicu tambahan inflasi itu membuat opsi tersebut tak gampang diterapkan. Apalagi, inflasi di Iran tergolong amat tinggi. Selalu lebih dari 14 persen. Amat tinggi untuk ukuran negara berkembang sekalipun. Salah satu biangnya adalah terisolasinya sistem keuangan yang membuat ekonomi Iran berputar-putar di dalam negeri.

 Namun, yang paling mencolok dari isolasi sistem keuangan ada pada perbankannya. Saat berkunjung ke Iran, simpan saja baik-baik kartu kredit dan kartu ATM. Sebab, kita tak akan menemukan logo Visa, MasterCard, ataupun Cirrus di ATM ataupun tempat belanja. Kartu dari negara lain tidak laku.

 Namun, terisolasi tidak sama dengan menutup diri. Terutama perekonomiannya. Bank sentralnya masih menjadi anggota Dana Moneter Internasional (IMF). Demikian pula pemerintahnya, yang masih berpartisipasi di Bank Dunia.

 Sistem perbankannya juga sudah maju. Ada tujuh bank besar yang jika kekuatannya digabung bisa menjadi bank syariah yang amat diperhitungkan di kancah global. Dari seratus besar bank syariah dunia, bank-bank Iran menguasai 40 persen pangsa asetnya. E-banking-nya juga sudah modern. Toko-toko di pasar kecil pun punya alat penggesek kartu perbankan atau EDC. Jika sanksi atas perbankan dicabut, modal yang masuk bakal mengalir lancar.

 Namun, selama masih disanksi, Iran akan tetap berjibaku menghadapi masalah isolasi. Selain kesulitan menjual minyak dan gas, pariwisatanya pun berat. Sulit sekali berharap banyak turis mancanegara datang apabila tak ada tempat untuk menggesek kartu kredit.

 Padahal, Iran punya objek wisata yang bagus-bagus. Selain tempat-tempat bersejarah peninggalan Persia dan kerajaan sebelum revolusi, ada lokasi wisata modern seperti Milad Tower. Sebagaimana wisata menara di belahan bumi lainnya, menyaksikan wajah kota dari ketinggian menjadi menu utama. Pada malam hari, jalan tol yang panjang dan lebar-lebar di Teheran terukir dengan gemerlapnya lampu. Ada pula patung-patung lilin yang kemiripannya dengan tokoh asli tidak kalah dengan di Madame Tussauds. Bedanya, yang dipamerkan hanya tokoh-tokoh asal Iran.

 Namun, yang mencolok di Milad Tower adalah upaya menjadikan tempat pesiar itu sebagai miniatur Iran dalam memberdayakan para perempuan. Semua pemandu wisatanya perempuan. Mayoritas pekerjanya juga perempuan. Cantik-cantik pula. Mungkin bukan karena syaratnya harus ayu. Melainkan memang sulit mencari yang buruk rupa di antara wajah para gadis Persia.

 Dibanding di negara-negara Arab, perempuan Iran memang jauh lebih berdaya. Jika banyak negeri Arab melarang perempuan naik mobil, di jalanan Iran banyak ditemui perempuan menyetir. Kesempatan di bidang pendidikan dan pekerjaan juga sama dengan para lelaki.

 Gaya busananya juga lebih terbuka terhadap mode. Jilbabnya menggunakan balutan scarf dengan jambul yang dibiarkan menyembul, menampakkan sebagian rambut yang disemir warna-warni. Riasannya juga pas. Kebanyakan menggunakan polesan smokey eyes yang kian menegaskan keindahan mata perempuan Persia.

 Tehran Fashion Week yang digelar kali pertama pada awal Februari lalu telah membuka mata dunia bahwa Revoluasi 1979 tidak membuat negeri dengan sejarah kultur adiluhung tersebut berhenti mengembangkan budayanya. Itu melengkapi pengakuan dunia yang lebih dahulu diberikan atas produksi film Iran.

 Keterbukaan adalah kunci dari dinamisnya kehidupan di Iran di tengah isolasi ekonomi. Betapapun mereka dikucilkan Amerika Serikat (AS), Coca-Cola dan Pepsi tetap laku dijual. Restoran-restoran di sana hampir selalu menyajikan minuman dengan merek yang amat melekat dengan negeri Paman Sam itu. “Pabriknya dibuat sebelum revolusi. Tidak ada masalah bagi kami,”kata Ali Attaran, pekerja humas di Teheran (ya, ada banyak nama Ali di Iran).

 Selain Coca-Cola dan Pepsi, memang tiada lagi brand AS di sana. Tak ada Starbucks atau McDonald’s. Namun, itu bukan karena warga Iran tidak mau. Melainkan karena merek-merek AS tersebut yang tidak bisa masuk akibat aturan sanksi ekonomi. Sementara pabrik Coca-Cola dan Pepsi merupakan modal ventura dengan pengusaha lokal yang sudah berdiri sebelum revolusi.

 Kini Iran tengah menanti dilaksanakannya secara penuh kesepakatan nuklir yang berbuah pencabutan sanksi ekonomi secara penuh. Jika itu terjadi, bukan tidak mungkin para ahli waris kecerdasan ras Arya tersebut kembali meniti jalan kejayaan bangsa Persia. (*)

Berita Terkait