Canteknye Penganten Melayu

Canteknye Penganten Melayu

  Minggu, 22 Oktober 2017 09:00

Berita Terkait

Pernikahan menjadi peristiwa terindah bagi setiap pasangan. Bagi kaum perempuan, pasti ingin momen tak terlupakan itu terasa spesial. Berbagai persiapan dilakukan secara matang, termasuk pakaian pengantin yang dikenakan. Tak hanya ala internasional, pengantin tradisional juga bisa jadi pilihan, seperti busana pengantin Melayu Pontianak. 

Oleh : Ghea Lidyaza Safitri

Walaupun banyak pilihan pakaian pengantin internasional, busana pengantin internasional tetap memikat hati. Apalagi khas Melayu Pontianak, tetap tak dilupakan. Masih banyak yang menggunakannya. 

Pelaku usaha dan perias pengantin Melayu Pontianak, Agus Hermawati atau lebih dikenal dengan 

Betty Mantiko mengatakan mengatakan penggunaan busana tradisional dengan pakem sesuai ketentuan memang ada yang sudah sulit untuk ditemukan. Kebanyakan busana pengantin mengarah pada kreasi. Hadirnya kreasi pada busana pengantin membuatnya semakin menarik. Meski begitu, busana pengantin kreasi ini dibuat tanpa meninggalkan pakem yang ada. 

Termasuk pula busana pengantin Melayu Pontianak. Busana Melayu Pontianak tak lepas dari motif sulaman belang kelengkang perak atau gem emas, serta busananya yang berbahan beludru. Pada zaman dulu, busana ini identik sebagai busana Kerajaan Melayu Pontianak. Seiring berkembangnya zaman, busana beludru mulai dimodifikasi dengan bahan satin (sudah pakem). 

Warna-warna busana pengantin juga tak hanya hitam dan kuning, atau merah dan kuning. Warna terang dan tegas, serta kalem turut menghiasai busana pengantin Melayu Pontianak. Busana pengantin Melayu Pontianak pun terlihat menarik dan indah. Tak hanya warna dan bahan, motif yang dihadirkan juga semakin memperindah busana. 

“Ibaratnya, memperindah apa yang sudah ada pada zamannya, tanpa menghilangkan pakem yang ada,” ujarnya. 

Sekretaris HARPI Melati ini menuturkan busana pengantin Melayu Pontianak memiliki daya tarik dan ciri khas sendiri, baik busana mempelai pria dan wanitanya, yakni berpesak. Pesak sendiri ialah kain yang dijahit pada bagian kelangkang atau depan seluar (tempat kancing). 

Tujuan pesak ialah memberi kelonggaran pada rekaan baju. Pesak sendiri berada di bagian kiri dan kanan. Tak lupa pula terdapat bentuk wajik di bagian ketiak baju. Dimana, pesak dan bentuk wajik di bagian baju sudah menjadi ciri khas busana pengantin Melayu Pontianak sejak dulu.

Perempuan berusia 46 tahun lalu ini juga menjelaskan secara spesifik mengenai busana pengantin pria dan wanita ala Melayu Pontianak. Busana wanita identik disebut baju kurung, terdiri dari baju terusan polos yang panjangnya hanya sebatas lutut, kerah berbentuk bulat, dan terdapat ritsleting di bagian belakang. Dilengkapi dengan selendang rumbai. Bawahannya menggunakan kain khas kain tenun kelengkang pucuk rebung.

Busana pengantin juga dihiasi teratai di bagian dada dan pernak pernik aksesori pendukung, seperti kalung goyang, cekak burung (kiat bahu), kalung jamang susun besar dan kalung jamang susun kecil, pending colak (gelang kanan), serta slop sebagai alas kaki.

Pada bagian kepala terdapat jamang (mahkota), bogam diantara jamang dan sanggul. Kembang goyang manggar, sanggul lipat pandan (di bagian belakang), rumbai, sumping, anting susun panjang dan rumbai tujuh rupa.

“Pengantin wanita juga menggunakan sanggul (lipat pandan), dimana bentuknya seperti angka * dan di dalamnya diberi pandang dan melati untuk memberikan harum,” tutur Betty yang sudah merias pengantin selama 18 tahun ini. 

Sedangkan busana pengantin pria identik disebut teluk belanga. Teluk belanga sendiri identik paduan atasan dan bawahan (celanan teluk belanga) yang dilengkapi dengan kain tenun kelengkang setengah tiang. Tak ketinggalan pula aksesori pelengkap, seperti kalung jaman susun, senjata cudi (keris dihiasi saputangan kuning), pending, dan alas kaki memakai slop. 

“Bagian kepala pengantin pria Melayu Pontianak menggunakan kopiah tanjak, serta terdapat aksesori bros,” tutur. 

Kedepannya, Betty Mantiko beserta teman-teman pelaku usaha dan perias ingin kembali mengembangkan busana Melayu Pontianak yang menggunakan kain tenun kelengkang atau gem. Tak hanya kembali menghadirkan busana khas Melayu Pontianak, tapi juga bisa menjadikannya sebagai lahan ekonomi. Ia berharap Pemerintah Kota Pontianak juga dapat membantu untuk mewujudkannya. 

Selain itu, ia juga berharap bagi pasangan yang ingin menikah, tak ada salahnya untuk menjatuhkan pilihan pada busana pengantin Melayu Pontianak. Apalagi kini, peminat busana ini juga sudah semakin meningkat. Tak hanya mempercantik tampilan saat menikah, dengan menggunakan busana pengantin Melayu Pontianak, masyarakat juga dapat mengenalkan keindahan kepada khalayak ramai, sebagai upaya pelestarian budaya.**

Berita Terkait