Canangkan Kembali Akselerasi Modernisasi

Canangkan Kembali Akselerasi Modernisasi

  Rabu, 27 July 2016 09:54   536

Oleh: Rajuli 

SEBELUM mudik Idul Fitri   kami menanyakan dulu bagaimana kondisi jalan  dan penyakit apa yang sedang berjangkit ( merebak ) di kampung. Hal ini agar kita jangan sampai terjebak macet karena ada  kubangan di jalan, jembatan yang tergenang air pasang ( terendap ) dan  mempersiapkan masker bila banyak debu / asap. Meminimalkan agar jangan sampai ketularan serta mempersiapkan obatnya.  Merencanakan kendaraan apa yang harus digunakan agar  tidak banyak mengalami kerusakan. Kalau sudah mau berangkat  berpesan kepada tetangga, rumah apakah sudah terkonci dengan baik,  mematikan alat elektronik, berdo’a dan niatkanlah untuk bersilaturahmi. Pamit atau minta do’a dengan orang tua dan kalau bisa jangan lupa untuk bersedekah karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam perjalanan. 

Mudik Idul Fitri 1437 H sangat menyenangkan dan mengesankan. Kami berlebaran sambil juga berwisata menyusuri sungai.  Kampung-kampung kami lihat sudah mulai berbenah dan melakukan percepatan pembangunan. Tiang listriknya sudah menyala, jalannya diperlebar serta terlihat alat-alat berat disiagakan. Mengenai air bersih kebanyakan masih mengandalkan air hujan. Belum ada waduk sebagai persiapan mereka kalau kemarau panjang.  Sungainya sangat eksotik sekali dan terkesan masih alami. Di pinggiran sungainya ada ditumbuhi pohon Dungun ( Heritiera littoralis ) raksasa yang mungkin sudah berumur lebih dari seratus tahun,pohon Mangrove dan beragam jenis pohon yang lain lagi. Latar belakangnya terlihat deretan gunung-gunung menghijau yang bisa membuat mata kita tak mau berkedip. Namun diantara gunung-gunung  menghijau ini ada juga yang sudah nampak menguning. Saking penasaran kamipun ingin melihatnya dari dekat, ternyata pohonnya sudah gundul dan materialnya sudah banyak diekploitasi. Entah apakah yang akan dialami oleh generasi kita mendatang kalau gunung sebagai pasak bumi ini juga gundul. Yang pasti tidak ada lagi keindahan. Pemukiman penduduk dan juga pasarnya di tepian sungai terlihat aktifitasnya sangat ramai sekali. Pemandangan seperti ini bisa digali potensi wisatanya apalagi kalau pohon-pohon ditepian sungai itu tetap terjaga kelestariannya / ada perdanya. Di kota lain kebun teh atau goa peninggalan penjajah saja bisa dijadikan objek wisata. Bahkan ada di luar negeri, sungai yang awalnya sangat kotor kemudian bisa disulapnya menjadi objek wisata yang menarik. Kami juga menyusuri sungai-sungai kecil menuju perkampungan di dalamnya. Adat dan ragam budayanya merayakan hari lebaran sangat berbeda dengan di kota. Sifat kekeluargaannya masih sangat kuat sekali. Namun remajanya kami perhatikan mode dan gayanya tak jauh berbeda dengan yang di kota.   Terlihat pohon Sagu dan Sengon  menjulang tinggi serta masih banyak lahan yang terlantar. Tanahnya memang subur, tetapi  pemudanya banyak yang telah meninggalkan kampung mencari penghidupan di tempat lain. Kalau ada saja orang mau membuka mata dan mampu menggali potensi yang ada ini tentu pemuda sebagai motor penggerak pembangunan akan bisa merasa betah.  Rumah dan kendaraan mereka banyak yang baru tetapi sayang jalannya masih banyak  yang rusak. Remajanya sangat senang dan asyik  kalau diajak bicara. Pengalaman dan keadaan negeri orangpun ia ceritakan.  Di era globalisasi ini istilah hujan emas dan hujan batu seolah tak berlaku lagi. Di mana negeri yang banyak hujan emasnya dan banyak lapangan pekerjaan itulah yang akan dikejarnya. Persiapkanlah mereka  SDM / skiil yang handal, kemudahan mendapatkan paspor, visa  dan agen resmi yang memberangkatkan  agar mereka bisa merasa tenang dan bersaing dengan pekerja dari negara lain.

Rasanya masih terngiang-ngiang ditelinga dan benak kami saat guru PMP dengan antusias dan semangatnya menerangkan / menjelaskan Akselerasi Modernisasi. Kami yang banyak tinggal di kampungpun merasa sangat senang sekali, karena rencana pembangunan jangka panjang 25 tahunan itu orientasinya bottom up. Tujuannya agar arus perpindahan penduduk dari desa ke kota ( urbanisasi ) dapat diminimalkan. Aspirasinya tidak top down tetapi dari masyarakat. Tahun-tahunpun berlalu, namun apa yang dijelaskan oleh guru kami itu belum nampak realisasinya. Bahkan yang marak dan sangat ramai pada waktu itu orang-orang membuka PT alias menebang hutan. Karena ingin mengubah nasib agar lebih baik kamipun banyak yang hijrah ke kota bahkan ada yang menyeberang ke negeri tetangga dan mendapatkan jodoh di sana. 

Mudah-mudahan alat-alat berat yang telah disiagakan di jalan itu merupakan awal dari percepatan pembangunan di daerah untuk mengejar ketertinggalannya dengan di kota. Akan lebih cepat lagi kalau masyarakatnya mau berpartisipasi one man one stone dan pemimpinnya pro rakyat.  Kalau ini dilakukan tak ada lagi istilah lobang di jalan  bertahun – tahun yang bisa membuat kiamat. Semua akses akan menjadi lancar dan harga barangpun bisa jadi murah. Pemimpin pro rakyat, meskipun jasadnya sudah berkalang tanah namun namanya akan tetap hidup. Mereka selalu memikirkan nasib rakyatnya. Saking memegang amanah ada yang memikul gandum di malam hari tanpa mau digantikan oleh orang dekatnya demi untuk diantarkan kepada keluarga yang kelaparan. Keluarga itu tidak ada makanan yang akan dimasaknya. Bahkan kaki binatang patah karena jalan rusakpun ia merasa bertanggungjawab. Ia pro kepada pembangunan yang dapat membuat rakyat menjadi nyaman. Ia juga tak lupa untuk memperkokoh pondamental agama keimanan dan ketaqwaan generasinya sebagai tameng dari dampak era globalisasi. Amiin.

 *) Penulis beralamat di Jalan Puskesmas Pal Tiga Pontianak