Cair, Seru, tanpa Ngobrol di Awang-Awang

Cair, Seru, tanpa Ngobrol di Awang-Awang

  Sabtu, 2 April 2016 10:33
PUBLIC SPEAKER: Dari kiri, Mimien, Dicka, Arief, Pram, Tino, Anang, istri Derajat, dan Derajat sedang memamerkan salam wow di Coffee Toffee Jumat lalu (25/3). IRA KURNIASARI/JAWA POS

Berita Terkait

Ngobrol di depan orang banyak itu susah-susah gampang. Kalau enggak gelagapan, ya nge-blank. Tapi, sontek saja cara Komunitas Orang Pembelajar, Inspiratif, dan Wow Speaker (Kopi Wow). Mereka belajar bareng dengan cara yang asyik: kopi darat. IRA KURNIASARI

ORANG-orang ini bergabung dalam Komunitas Orang Pembelajar, Inspiratif, dan Wow Speaker. Disingkat, Kopi Wow. Acara rutinnya kopi darat. Tempatnya juga di sebuah kedai kopi modern: Coffee Toffee, Jalan A. Yani. Klop. Dan pertemuan terakhir mereka dilakukan pada Jumat sore (25/3). Biasanya, yang hadir 15 orang. Namun, karena beberapa anggota sedang merayakan Jumat Agung, hanya ada delapan orang yang datang. Yakni, Mimien Susanto, Dicka Christama, Derajat Ridzky Pratama, Anang Hermawan S., Tino A. Salim, Ika, Arief, dan M. Pranomo.

Sore itu, mereka memilih duduk mengelilingi meja panjang di sisi kanan pintu masuk. Sebab, tempat tersebut memang lebih luas. Ada ruang untuk berekspresi. Salah satunya bisa tertawa lepas. Anggota Kopi Wow memang bukan orangorang ’’sembarangan”. Mimien misalnya. Dia ada lah seorang financial planner. Dia mem bantu menyelaraskan keuangan perorangan ma upun perusahaan. Dulu dia bergabung da lam sebuah perusahaan perbankan. Kini dia berjalan secara independen. Anggota lain adalah M. Pranomo. Dia merupakan pelatih public speaking dari Surabaya. Biasanya, dia melatih secara privat.

Namun, dia juga trainer manager di sebuah perusahaan join venture. Pengalamannya lebih dari 7 ribu jam terbang. Pramono juga menjadi motor penggerak terbentuknya Kopi Wow.

Sore itu, jatah materi jatuh kepada Mimien Susanto. Dia kudu membawakan satu materi yang dikuasainya, lantas sharing di depan anggota yang lain. Tentu, materi Mimien tak jauh-jauh dari duit. Dia bicara soal dana darurat. ’’Ini komponen penting dalam financial planning, tapi sering dilupakan orang-orang,’’ ujarnya membuka materi. Anggota lainnya mendengarkan.

Awalnya, Mimien bercerita mengenai ekonomi keluarganya yang kolaps ketika tidak mempunyai dana darurat. Kartu kredit yang disangka dapat membantu malah membuat bunga pengeluaran membengkak. Akibatnya, pontang-panting. ’’Nggak pengin seperti saya kan? Inilah sebabnya dana darurat diperlukan,’’ kata dia.

Lantas, dia memberikan kertas dan spidol kepada tujuh anggota. Mereka disuruh menuliskan pengeluaran dalam satu bulan. Beberapa anggota meringis. Mereka tidak ngeh dengan urusan tetek-bengek itu. ’’Ma, coba tulisin dong,’’ ujar Pranomo menoleh ke belakang. Dia berbicara kepada istrinya yang stand by di belakang.

Dalam suasana cair, Anang nyeletuk. ’’Mbak Ika bulan kemarin aku kasih berapa ya?’’ Ika cuma tersenyum. Anggota yang lain terbahak. Materi berlanjut. Mimien mengatakan, kebutuhan darurat setiap kepentingan berbeda. Orang single, orang yang menikah dan belum mempunyai anak, serta keluarga dengan beberapa anak punya hitung-hitungan yang berbeda.

Dana darurat orang yang belum menikah adalah 30 persen dari tiga kali pengeluaran per bulan. Orang yang menikah adalah 30 persen dari enam kali pengeluaran per bulan. ’’Pokoknya, setiap kepala membutuhkan tiga kali pengeluaran. Nah, kalau anaknya dua, dana darurat berarti 30 persen dari empat kali pengeluaran. Dihitung empat dari suami, istri, dan dua anak itu tadi,’’ kata alumnus Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya Malang tersebut. Sejenak, Tino dan Anang tampak mantukmantuk. Sementara itu, Derajat dan Arief menggeleng. Melihat itu, Mimien menenangkan. ’’Se tiap keluarga berbeda jumlah dana daruratnya. Disisihkan setiap bulan. Toh, nanti kalau butuh, dana darurat ini sangat membantu. Percaya saya,’’ kata Mimien.

Pada akhir materi, Mimien memanen tepuk tangan. Pramono lantas urun rembuk soal teknik public speaking Mimien. Katanya, ada baiknya Mimien membuka percakapan dengan analogi uang. Dia lantas mengeluarkan uang Rp 2 ribu dan Rp 50 ribu. ’’Kalau kita sedang butuh dan melirik tabungan, enak mana kalau tabungan kita hanya Rp 2 ribu atau Rp 50 ribu? Pasti memilih uang yang lebih besar. Nah, kita sebaiknya memikirkan dana darurat. Terus, baru masuk ke materi,’’ saran Pram, sapaannya.

Berlatih public speaking ala Kopi Wow memang terasa luwes. Cair. Tidak kaku dengan diskusi berat hingga ndakik-ndakik (di awangawang). Sistem tersebut diciptakan Pram. Dia mengatakan, yang dipentingkan dalam pembicaraan bukan semata-mata konten. Tapi, bagaimana konten itu disampaikan dalam bentuk komunikasi. ’’Inilah kenapa setiap bulan kita kopi darat dan bisa membicarakan apa pun,’’ ujar dia. (*/c6/dos)

Berita Terkait