Cagar Budaya Tak Dipugar

Cagar Budaya Tak Dipugar

  Sabtu, 15 Oktober 2016 09:25

Berita Terkait

SUASANA kawasan Makam Kesultanan Pontianak tak begitu ramai pagi itu, Kamis (13/10). Hanya beberapa warga terlihat hilir mudik beraktifitas. Di warung-warung tepi sungai yang terletak persis di depan kawasan pemakaman pun masih sepi. Hanya ada dua tiga orang duduk santai menikmati kopi.

Masuk ke komplek makam, sudah ada beberapa warga sekitar menunggu kedatangan pengunjung. Mereka ada yang menjaga sandal dan sepatu, menawarkan air bunga serta menemani pengunjung, sekaligus menceritakan silsilah makam-makam yang ada. Termasuk diantaranya sang juru kunci makam, Syarif Mohdar Bin Syarif Ismail (52 tahun).

Jelang siang barulah mulai berdatangan rombongan pengunjung. Mereka hendak ziarah. Satu per satu makam sultan dikunjungi. Menurut Mohdar, ada delapan sultan Pontianak dimakamkan di sana. Makam paling besar berada di tengah yaitu makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Pendiri Kota Pontianak 245 tahun silam. Para pengunjung terlihat lebih lama berdoa di sana.

Kedelapan makam sultan itu seluruhnya terletak di dalam bangunan. Sepintas tak ada yang aneh dari bangunan berusia 200 tahun lebih ini. Tapi jika dilihat lebih detail, banyak atap bocor. Di beberapa sisi bangunan, cahaya matahari menembus bagian atap-atap sirap yang terbuka.

Kondisi ini cukup mengganggu pikiran Mohdar. “Lebih parah kalau hujan, basah semua. Bahkan sudah merembes ke kuburan, akibatnya banyak yang rusak,” ujarnya.

Berjalannya waktu, ia takut kerusakan semakin parah. Selain atap, beberapa tiang juga dikatakan mulai keropos. Bahkan ada enam tiang utama yang ukurannya paling besar, sama sekali belum pernah diganti. “Takut juga itu sudah keropos,” ucapnya.

Ketika ditanyai kapan terakhir kali dilakukan pemugaran, pria yang sudah 20 tahun menjadi juru kunci makam ini, butuh waktu untuk mengingat. “Dulu pernah dipugar pemerintah pusat, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lalu. Sekarang  belum ada lagi, hanya janji-janji saja,” keluhnya.

Untuk biaya perwatan makam, Mohdar mengatakan, pengurus dapat honor dari Pemerintah Pusat. Selain itu, dari pendapatan kotak amal digunakan untuk biaya kebersiahan. Dana itulah yang dipakai. Termasuk untuk mengecat makam agar tetap indah. “Itu juga tidak seluruhnya bisa dicat, uangnya tidak akan cukup,” imbuhnya.

Mohdar mengenang pernah ada kabar baik lima tahun silam. Tapi hingga kini belum juga dirasakannya. “Waktu itu ada berita, mau keluar anggaran dari Pemerintah Kota, tapi ternyata tidak ada sampai sekarang,” katanya.

Melalui momen Hari Jadi ke-245 Kota Pontianak tahun ini, Mohdar berharap kabar baik yang ditunggu-tunggu bisa terwujud. “Semoga pemerintah memperhatikan ini,” harapnya.

Apalagi lanjut dia, pengunjung yang datang ke pemakaman tak sedikit. Bukan hanya warga Pontianak saja, tapi juga warga asal Malaysia, Brunei, Singapura serta Eropa pernah datang ke objek wisata religi ini. “Selain hari-hari besar seperti Idulfiri dan Iduladha, jika hari biasa di sini ramainya Kamis dan Minggu, mulai dari jam enam pagi sampai enam sore ramai terus,” tutupnya.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengungkapkan, perawatan cagar budaya sejalan dengan upaya Pemkot dalam melestarikan budaya dan tradisi kota ini. Beberapa benda cagar budaya kata dia umumnya berbentuk bangunan.

Sesuai peraturan daerah (Perda) Kota Pontianak Nomor 2 tahun 2013, Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak Tahun 2013-2033. Kawasan cagar budaya Kota Pontianak ada di 13 lokasi. Salah satunya makam Kesultanan Pontianak di Kelurahan Batu Layang.

“Jika anggaran khusus perawatan cagar budaya memang tidak ada. Itu kan melekat di SKPD terkait, di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata,” katanya.

Untuk tim perawat cagar budaya itu sendiri, menurut Sutarmidji pelatihannya sempat akan dibantu Kemendikbud, karena tenaganya harus disertifikasi. Tapi sampai saat ini belum juga terrealisasi.(*)

Berita Terkait