Burung Hantu Pemburu Tikus

Burung Hantu Pemburu Tikus

  Rabu, 28 September 2016 09:30

Berita Terkait

SAMBAS- Selain mengintensifkan geropyokan, sebagai upaya mengurangi populasi hama tikus yang menyerang padi petani. Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas sedang menjajaki penggunaan burung hantu Tyto Alba sebagai hewan pengendali hayati hama tikus.

 
Kasi Perlindungan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sambas, Isnawadi Ishak mengatakan pihaknya sedang menjajaki system pengendalian hama tikus hayati, yakni menggunakan burung hantu.

 “Kita sedang jajaki, termasuk cara mendatangkan burung hantu terutama untuk jenis Tyto Alba. Karena mendatangkan hewan bukan perkara gampang. Kemudian apakah bisa berkembang jika di bawa ke Sambas,” kata Isnawadi Ishak, Selasa (27/9) kepada wartawan. Jika dalam masa penjajakan, dinyatakan dapat dilaksanakan. Maka, bisa saja cara pengendalian hama tikus tersebut bisa dianggarkan untuk dilakukan di Sambas. “Termasuk kita pelajari seperti apa penerapannya di daerah yang petaninya sudah menggunakan burung hantu untuk pembasmian hama tikus,” katanya.

Namun dari informasi yang didapatkan. Jika menggunakan burung hantu, harus dibuatkan Rumah Burung Hantu (Rubuha) di sawah. Sehingga di saat malam hari, burung hantu yang di rubuha tersebut akan secara langsung bekerja dan pada siang harinya beristirahat. Saat ini, menunggu hasil penjajakan penggunaan burung hantu. Petani

Sambas masih diimbau untuk mengintensifkan geropyokan hama tikus di sawah. “Saat ini cara tradisional yakni geropyokan terus dilakukan. Seperti dalam waktu dekat ini, kita akan laksanakan geropyokan tikus di Selakau bersama petani dan masyarakat setempat,” kata Isnawadi. Geropyokan memang metode tradisional. Namun, dianggap efektif untuk

mengurangi hama tikus tanpa penggunaan racun. “Selama ini geropyokan dianggap efektif untuk mengurangi populasi hama tikus. Karena dari satu pasang tikus, bisa berkembang biak menjadi ratusan. Jadi jika geropyokan, satu orang mendapatkan sepuluh bisa mengurangi populasi hama tikus yang ada,” katanya.

Geropyokan, sebutnya, akan lebih baik jika dilakukan sebelum musim tanam, kemudian setelah padi ditanam hingga masa panen.

“Semakin sering geropyokan dilakukan. Maka hama tikus akan semakin terkendali. Dengan harapan, padi petani aman dari tikus,” katanya. Di Sambas, sebut Isnawadi, untuk kecamatan yang endemis hama tikus. Diantaranya Tebas serta Selakau. (fah)

Berita Terkait