Buruk Rupa Jalan Pedesaan, Hambat Siswa dan Guru ke Sekolah

Buruk Rupa Jalan Pedesaan, Hambat Siswa dan Guru ke Sekolah

  Kamis, 3 March 2016 07:58
Foto HARYADI/PONTIANAKPOST

Berita Terkait

PONTIANAK - Kondisi infrasruktur jalan di wilayah pedesaan Kalbar cukup memprihatinkan. Terutama saat musim hujan, banyak jalan rusak, becek dan berlumpur. Akibatnya berbagai aktivitas terhambat, termasuk bagi para guru dan siswa yang akan menuju sekolah. Seperti terjadi di Dusun Limau, Desa Puguk, Kecamatan Sungai Ambawang. Di dusun ini, guru dan para siswa harus berjibaku melewati jalan yang rusak saat hendak menuju sekolah.  

Kepala Sekolah SD 04 Desa Puguk, Husin bercerita, guru-guru dan para siswa di sana sudah akrab merasakan susahnya menuju sekolah saat musim hujan. Dalam setahun, kata Husin, jalan paling enak untuk dilalui hanya tiga bulan saja. “Itu saat musim betul-betul kemarau saja,” ungkapnya pada Pontianak Post belum lama ini.

Pontianak Post sempat merasakan betapa beratnya medan menuju Dusun Limau. Di sepanjang jalan kondisi jalan becek dan berlumpur. Beberapa kali sepeda motor terperosok ke dalam lubang berisi air yang menggenang. Anak-anak yang menuju sekolah harus membuka sepatu agar tidak kotor begitu sampai di sekolah. “Kadang ada siswa yang terjatuh sehingga pakaian mereka kotor,” ungkap Husin.  

Dia menceritakan, meski sekolah memiliki fasilitas tiga unit rumah dinas, tak satupun yang ditempati. Akses jalan yang kurang baik membuat mereka tidak kerasan menempati rumah dinas tersebut. "Sebenarnya sekolah ini dikatakan jauh tidak, dikatakan dekat juga tidak, karena jika jalannya bagus paling hanya memakan waktu 30-40 menit saja dari kota," tuturnya.

Untuk itu Husin sangat berharap ada perhatian lebih terhadap akses jalan di sana. Terkait ketersediaan rumah dinas menurutnya pihak sekolah sudah mencoba menolak dan lebih memilih jika dialihkan ke hal lain seperti fasilitas penunjang pendidikan seperti kursi dan meja. "Tapi sudah aturan pemerintah di atas untuk membangun rumah guru, walau akhirnya tidak terpakai," ucapnya.

Dari pantauan Pontianak Post di area sekolah memang ada tiga rumah dinas. Satu masih bangunan lama sementara dua lainnya hampir selesai dibangun dan masih baru. Ketiga rumah tersebut tak satu pun ditempati.

Menanggapi kondisi tersebut Pengamat Pendidikan dari Universitas Tanjungpura, Aswandi menilai, infrastruktur jalan mutlak sebagai penunjang proses pendidikan. Namun sejauh ini dia melihat hampir di setiap daerah, terutama wilayah pedalaman masih mendambakan jalan yang layak. “Tidak hanya di Kalbar, saya juga sudah keliling di beberapa tempat lain di Indonesia banyak yang seperti itu,” terangnya.

Menurutnya dua hal ini, antara infrastruktur jalan dan pendidikan sama-sama penting. Dia mencontohkan, percuma jika sekolahnya bagus namun aksesnya tidak bagus, begitu pula sebaliknya. “Jalan yang rusak memang harus diperbaiki, karena ini termasuk kebutuhan dasar,” harapnya.

Apalagi masih ada keberadaan sekolah di desa yang dilihat dari segi geografis justru tidak begitu jauh dari Ibu Kota Provinsi, namun masih menghadapi persoalan sama. Tak heran jika para guru mengeluh harus, terpaksa harus datang terlambat bahkan bisa tidak datang sama sekali ke sekolah.

Melihat hal tersebut, Aswandi menyarankan agar pemerintah bisa jeli melihat kondisi riil di lapangan. Jangan membangun hal yang sebetulnya tidak diperlukan. Jalan harusnya diutamkan karena jika jalannya bagus, guru tidak perlu lagi tinggal di rumah dinas. “Akan lebih baik jika dana pembangunan rumah dinas itu digunakan untuk membangun jalan,” paparnya.

Selain itu dia juga masih merasakan bahwa pemerintah sering kali terbentur dengan kewenangan. “Kadang ada istilah jalan pusat, jalan provinsi dan kabupaten, ketika rusak semua saling menunggu dan menyalahkan,” tandasnya.

Melihat fenomena tenaga pengajar yang kesusahan akibat akses jalan, Sekretaris Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kalbar Hatta Abdulhaji pun angkat  bicara. Dia merasa harus ada komitmen yang tinggi dari masing-masing guru. Guru tidak boleh manja dan harus siap mental termasuk dalam menghadapi jalan rusak.

“Jangan juga langsung menyalahkan pemerintah, misalnya jika musim hujan berangkatlah lebih awal, jangan banyak mengeluh, tetap bersyukur demi memajukan dan mencerdaskan anak bangsa,” ujarnya. Apalagi dia menilai sejauh ini kesejahteraan guru sudah cukup diperhatikan.

Selain kepada guru, untuk pemegang kebijakan dia menyarankan agar bisa merekrut guru sesuai domisili. Ini dilakukan supaya guru-guru yang mengajar di daerah lebih betah serta memiliki tanggung jawab tinggi dalam membangun daerah asalnya. “Dengan demikian guru bisa lebih optimal mengajar,” katanya.

Menurutnya pendidikan memang menjadi hal utama dalam membangun bangsa. Sebab itu wajar, sesuai amanat UU Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional maupun rumusan yang dibuat bersama antara Departemen Pendidikan Nasional dan Dewan Perwakilan Rakyat, bahwa anggran pendidikan minimal 20 persen baik dari ABPN maupun APBD. “Sampai saat ini belum semua merealisasikan hal itu,” tandasnya. (bar)

Berita Terkait