Buruh Migran pun Bisa Jadi Pengusaha

Buruh Migran pun Bisa Jadi Pengusaha

  Senin, 28 December 2015 09:16
TELEWICARA: Puluhan Buruh Migran Indonesia (BMI), Minggu (27/12) di Taman Festival Walk, Kowloon Tong, Hongkong, saat telewicara dengan Dr Ir Ciputra yang berada di Jakarta. M ALI/JAWAPOS

Berita Terkait

HONGKONG – Jika buruh migran Indonesia ditanya tentang alasan betah di negeri orang, kebanyakan menjawab tidak tahu akan bekerja apa untuk mendapatkan penghasilan yang sama besar ketika pulang ke tanah air. Meski, sering kali mereka mengorbankan banyak hal dan harus berjauhan dengan keluarga. Entrepreneurship bisa menjadi jawaban agar mereka tetap mendapatkan penghasilan memuaskan ketika kembali ke Indonesia.

Mengubah mindset dari mencari pekerjaan menjadi menciptakan lapangan usaha mulai digiatkan kelompok belajar Business Model Canvas (BMC). Itu adalah komunitas buruh migran di Hongkong yang mendapatkan pembinaan dari Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC).

Komunitas belajar kewirausahaan tersebut terbentuk satu tahun silam sebagai lanjutan dari program pelatihan yang diberikan UCEC pada 2010. Kemarin (27/12), bertempat di Taman Festival Walk, Kowloon Tong KCR, Hongkong, yang sekaligus menjadi markas belajar, ratusan anggota BMC mendapatkan pengalaman berharga. Mereka dikunjungi Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi dan Junita Ciputra serta berdialog melalui Skype dengan sang begawan entrepreneurship Dr (HC) Ir Ciputra.

Pak Ci –sapaan Ciputra– menyemangati dan memberikan saran kepada beberapa anggota BMC yang sudah mempraktikkan ilmu entrepreneurship dengan memulai bisnis masing-masing. Dibedah tantangan apa saja yang dihadapi dan bagaimana perkembangan saat ini. Ada yang berbinis sambal dalam kemasan, budi daya jamur kuping, merintis usaha bakery, membuat keripik, hingga membikin peternakan.

”Luar biasa. Ini yang kita harapkan, perubahan mindset untuk berwirausaha. Semangat ini harus disebarkan kepada yang lain, pulang ke tanah air, membuka lapangan kerja baru,” ujar Pak Ci.

Meski hanya berdialog melalui telekonferensi, hal itu menjadi pengalaman berkesan bagi anggota BMC. ”Saya sangat berterima kasih atas perhatian Pak Ci dan belajar sangat banyak dari beliau. Pemikiran-pemikiran bisnis yang beliau tuangkan dalam buku menjadi panduan saya untuk melatih teman-teman,” tutur Winarsih Saputan, penggerak kelompok belajar entrepreneurship BMC bersama seorang rekannya, Tri Sumiyatik.

Begitu pula yang diutarakan Kitin Kurniati. Sebelum mengenal pelatihan entrepreneurship, dia tidak punya bayangan sama sekali akan bekerja apa jika kelak pulang ke tanah air. Tetapi, setelah belajar ilmu wirausaha bersama kelompok BMC, pola pikirnya benar-benar berubah.

Perempuan dari Kalimantan Barat yang sudah lima tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga di Hongkong itu bertekad pulang setahun lagi. Dia bakal berfokus menggarap usaha keripik tempe yang kini mulai dirintisnya. ”Saya jadi tahu mengatur cash flow, tidak boros, dan mendapat ilmu bisnis,” papar dia. Kini setiap bulan dia bisa menyisihkan HKD 3.000–3.500 (sekitar Rp 5,5 juta) dari gaji sebesar HKD 4.300. Simpanan itu dia gunakan untuk memperbesar modal usaha.

Harun, yang hadir bersama sang istri, Junita, untuk mewakili Pak Ci, menyatakan terharu dan bangga dengan perkembangan yang ditunjukkan para anggota BMC. Langkah paling sulit untuk menjadi pengusaha adalah memulai dan mengambil risiko. ”Tapi, setelah melakukan yang pertama, biasanya jadi ketagihan. Teman-teman BMC sudah menunjukkan hal itu. Berani mengambil risiko. Semangat ini layak diapresiasi,” ucapnya.

Pada kesempatan kemarin, Harun dan Junita menyampaikan dorongan semangat belajar kewirausahaan dari Pak Ci dalam bentuk dana pembinaan sebesar HKD 50.000 untuk kelompok BMC. Dana itu dapat digunakan untuk menyewa gedung pelatihan sehingga bisa menampung lebih banyak anggota.

Ada pula hadiah sebesar HKD 50.000 untuk kompetisi business plan 2016 bagi lima pemenang. Juga apresiasi bagi pelopor komunitas belajar entrepreneurship Winarsih dan Tri, masing-masing sebesar HKD 10.000.

Ciputra Group dalam sepuluh tahun terakhir terus menyebarluaskan semangat dan skill wirausaha ke seluruh lapisan masyarakat. Sudah lebih dari 10.000 orang yang mendapatkan pemberdayaan entrepreneurship. Mulai siswa SMA, guru, dosen, pelaku usaha mikro-kecil, hingga buruh migran dan anak jalanan.

”Yang dilakukan BMC sangat menginspirasi. Mereka mampu menolong diri sendiri dan orang lain lewat entrepreneurship,” papar Antonius Tanan, presiden UCEC yang kerap menjadi mentor BMC. Turut hadir dalam kesempatan sharing kemarin, perwakilan dari Bank Mandiri branch Hongkong yang juga aktif memberikan pembinaan kepada BMC bersama-sama dengan UCEC.

Ke depan, kualitas pembelajaran BMC ditingkatkan dengan memadukan kurikulum saat ini, yakni teori serta praktik simulasi bisnis dengan pembelajaran online dari Universitas Ciputra Entrepreneurship Online. (*/c11/sof)

Berita Terkait