Bullying di Sekolah

Bullying di Sekolah

Sabtu, 11 November 2017 07:12   35
Ilustrasi foto https://www2.k12albemarle.org

MINGGU lalu, media massa dan media sosial diramaikan viral video kekerasan di suatu kelas sekolah (Pontianak Post 7 Nov 2017, hal 1). Diturunkan juga bantahan Wali Kota Sutarmiji, bahwa peristiwa tidak terjadi di Pontianak. Banyak resonps yang diterima lewat media massa. Dari  mereka sangat menyayangkan atas kejadian itu hingga yang mengutuknya. Dalam sajian ini dibahas melalui berbagai penelitian.  

===========

Penyebab tindak bullying

Teodoro Hernandez de Frutos dari Departemen Sosiologi, Universitas Navarra, Spanyol, 2013, menyatakan kekerasan baik fisik maupun non-fisik yang disertai gertakan dan ancaman (bullying) di sekolah merupakan fenomena psikologis yang banyak menarik perhatian para pakar dalam dua dasa warsa terakhir ini. Fenomena ini menimpa sekitar 25% remaja (12-18 th) di seluruh dunia. Mereka yang menjadi korban ’bullying’ menjadi: rendah diri, dipresi, menutup diri, psikosomatis, gagal di sekolah, dan berujung pada tindakan bunuh diri. Selain itu, pengalaman mereka sebagai korban masa remaja ternyata akan berlanjut menjadi pendorong untuk berbuat kekerasan baik di tempat kerja maupun di rumah/keluarga. Ia menemukan lima (5) sumber variabel bebas yang menimbulkan  tindak bullying di kalangan remaja, yaitu: tetangga, keluarga, sekolah, jender, dan media massa/media sosial.  

Jodie Lodge, dari ‘Australian Institute Family Studies’,2014, merinci tindakan bullying di sekolah. Tindak bullying yang dilakukan  di sekolah ternyata lintas: jender, suku, budaya dan status sosial-ekonomi. Juga, terjadi lintas kelas bahkan lintas sekolah. Bullying dapat berupa; tindak agresif, sengaja menyakiti orang lain, kekerasan yang disengaja untuk menyakiti orang lain, dan ancaman berulang-ulang.  Tindak konkritnya seperti: penyerangan secara fisik, meneriki namanya, mengucilkan, melecehkan, mempermalukan, serta menyebar gosif dan rumor.

Susan M. Swearer, dari Universitas Nebraska, Lincoln, AS, 2011, meneliti 25 faktor resiko tindak bullying. Faktor-faktor itu berasal dari: diri sendiri (11), teman sejawat (4), sekolah (5), keluarga (2), komunitas (1), dan lingkungan sosial (2).  Faktor resiko yang berasal dari diri pelaku/korban bullying sendiri adalah: jender, tingkat kelas di sekolah, etnisitas, orientasi relegius,status sosial ekonomi, tingkat ketrampilan yang rendah, tingkat sosial tinggi, orientasi seksual, status disabel, serta internalisasi norma.

Program menurunkan tindak bullying

Suhee lee, Chun-Ja Kim, 2013, memeta-analisis 13 penelitian efek lingkungan sekolah yang anti tindak bullying. Hasil uji-Q menunjukkan signifikasi heteroginitas korban-korban tindak bullying  Q = 39.625; I2 = 69.7%; p < 0.001).  Pelatihan untuk mengendalikan emosi (p <0.01), konsultasi teman sejawat (p < 0.05), kebijakan sekolah anti bullying (p < 0.05) mempunyai pengaruh yang paling kuat di antara variabel-variabel lainnya.

Christopher J. Ferguson, Claudia San Miguel, John C. Kilburn, Jr., dan Patricia Sanchez, dari ‘Texas A&M International University’, Laredo, 2007, memeta-analisis 42 penelitian program sekolah anti bullying. Meta analysis menunjukkan cakupan sampel yang berpartisipasi dalam program anti bullying sebajak 34.713 remaja yang menjadi korban. Hasil meta analisis menunjukkan hubungan yang signifikan antara program anti bullying di sekolah dengan penurunan tindan bullying (r=0.12).   Mereka juga menunjukkan hasil sejumlah pnelitian yang memuat detail program siap pakai  bias terhadap sifat-sifat peneliti.

Maria M. Ttofi & David P. Farrington, 2010, meta analisis 622 penelitian (antara 1983-2009) percobaan program untuk menurunkan tindak bullying di sekolah dari 35 jurnal ilmiah. Ada empat rancangan penelitian percobaan yang terangkum, yaitu: a) ‘randomized experiments’, b) ‘intervention-control comparisons with before-and-after measures of bullying’, c) ‘other interventioncontrol comparisons, serta’,  d) ‘age-cohort designs’. Hasilnya menunjukkan program-program itu dapat menurunkan frekuensi tindak bullying sekitar 20-23% dan jumlah kurna sekitar 17-20%. Program-profram ini juga lebih efektif jika didasarkan pada hasil-hasil penelitian sebelumnya (40 dari 44 penelitian). Keterlibatan orang tua siswa, penegakan disiplin yang teguh, serta peningkatan supervisi.

Kiranya, memang tidak cukup hanya menyatakan keprihatinan terhadap tindak bullying di sekolah. Aksi mesti dilakukan. Program mesti dibuat dan dilaksanakan dengan tujuan menurukan tindak bullying. Sajian ini juga mengingatkan betapa pun baiknya, program tidak akan menghapus total tindak bullying. Dengan kata lain, bullying tidak dapat dihapus seluruhnya, hanya dapat diturunkan frekuensinya dan jumlah pelaku serta korbannya. Mengapa? Karena ada 25 faktor yang dapat berpotensi melakukan tindak bullying. Tetapi, kita mesti berbuat. Semoga!**

Leo Sutrisno