Bullying Anak Mengintai

Bullying Anak Mengintai

  Senin, 18 April 2016 09:01

Berita Terkait

PONTIANAK – Kasus Bullying dapat terjadi kepada anak di mana saja, di lingkungan keluarga atau rumah, sekolah, hingga sosial media yang cakupannya lebih luas. Di Kalimantan Barat, kasus terakhir menimpa seorang korban kasus pencabulan yang di-bully oleh anggota keluarga pelaku melalui media sosial facebook. 

Ketua Pokja Data dan Informasi KPAID Kalbar, Alik Rosyad mengatakan, peristiwa bullying itu terjadi setelah siswi salah satu sekolah swasta di Kalbar itu melaporkan kasus tersebut ke polisi. Usut punya usut, pihak keluarga pelaku tidak terima dengan pelaporan tersebut.

Berdasarkan penyelidikan KPAID, ditemukan pemilik akun facebook yang menyebut siswi tersebut dengan kata-kata menjelek-jelekkan. Bahkan ada komentar di facebook yang menyebut siswi tersebut bukan perempuan baik-baik. “Setelah kami temukan pemilik akunnya, langsung kami tegur. Kami minta untuk menghapus postingan tersebut,” ungkap Alik.

Media sosial yang tanpa batas membuat seseorang bisa memposting apa saja ke dunia maya tanpa adanya saringan. Termasuk dilakukan anak-anak di bawah umur. Tak jarang mereka melakukan ‘kekerasan’ melalui postingannya. 

Kasus bullying di media sosial, terutama yang dilakukan oleh anak-anak di bawah umur seharusnya menjadi perhatian orang tua sebagai penyaring bagi anak-anak yang sudah memiliki akun di media sosial. Hal itu dikarenakan, bullying di media sosial juga bisa menimpa anak yang tidak bersalah. 

Kasus serupa pernah terjadi September 2015 lalu. Kali ini, bullying menimpa seorang anak di bawah umur dikarenakan postingannya di facebook. Warga Kalbar dikejutkan oleh Sarry Ananda yang menyampaikan keluhannya melalui status di facebook setelah penerbangan ke Pontianak saat itu mengalami penundaan karena kabut asap yang menimpa Kalbar. Saat itu menulis kata-kata makian di facebook yang membuat sebagian warga Kalbar marah. 

Status facebooknya hari itu lantas dengan cepat tersebar luas di media sosial dan mendapatkan berbagai respon dari netizen, mulai dari nasihat, cacian, hingga ancaman dilemparkan langsung netizen dari berbagai akun melalui sosial media facebook. 

Sarry Ananda akhirnya mendatangi langsung Mapolresta Kota Pontianak untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada Warga Kalimantan Barat. Kedatangannya itu untuk meminta perlindungan atas ancaman yang didapatnya dari media sosial.

Menurut Alik, ia mendampingi Sarry karena saat itu, kondisi psikologi Sarry terganggu karena mendapatkan ancaman dari berbagai akun. “Waktu itu bersama dengan polresta kita cari solusinya. Bagaimana memberi ruang kepada Sarry utk meminta maaf dan mengurangi bebannya,” ungkap Alik.

Setelah itupun kondisi psikologi Sarry tidak langsung membaik. Terlebih respon masyarakat yang masih tingi. Butuh waktu dua sampai tiga minggu hingga akhirnya KPAID memulangkan Sarry ke daerah asalnya.

Media sosial memang membutuhkan kecerdasan penggunanya. Jika dikelola dengan baik, bisa menimbulkan dampak yang baik, begitu juga sebaliknya. Seorang anak yang mmpunyai sosial media, harus lebih berhati-hati dalam memposting konten apapun. “Akan bisa berdampak negatif kalau itu salah,” tegasnya.

Lain lagi beberapa kasus yang terjadi saat anak sekolah yang mengeluhkan pendidikan di sekolahnya atau ketika seorang pelajar memaki gurunya. Hal seperti itu yang menurut Alik dapat dihindarkan. Terlebih jika anak-anak beramai-ramai menuangkan kekesalannya dalam media sosial. 

Dan kasus terbaru, masih ingatkah Anda dengan Sonya Ekarina, seorang remaja baru lulus SMA asal medan yang membentak Polwan saaat diberhentikan polisi ketika dia sedang asyik berkonvoi dengan temannya. Tak hanya sampai di situ, dia pun menyebut nama seorang jenderal polisi Arman Depari sebagai ayahnya.

Kejadian hari itu lalu tersebar dengan cepat ke pelosok negeri melalui stasiun televisi yang berlomba-lomba menyiarkannya hingga akun-akun sosial media instagram yang menjadikan Sonya sebagai bahan bully brutal dari sosial media. Akhirnya Sonya depresi.

Ketiga anak di bawah umur tersebut mendapatkan respon tak terduga dari masyarakat akibat postingan atau omongannya di dunia maya. Sedikit berbeda memang, yang menimpa Sonya terjadi langsung di dunia nyata dan kemudian tersebar di media sosial.

Alik melanjutkan, anak-anak sudah harus berhati-hati kalau tidak mau terjerat Undang Undang ITE. Dia menyarankan orang tua sebisa mungkin tidak gagap teknologi (gaptek), agar lebih selektif dan bisa memantau akun media sosial milik anak. “Orang tua juga bisa mempunyai password akun media sosial anaknya atau menjadi teman di medsos itu,” ucap Alik.

Sosiolog Universitas Gajah Mada (UGM) Suyoto Usman menilai fenomena bullying yang menimpa Sonya dan Sarry sebagai luapan kekesalan masyarakat atas perilaku arogansi. Menurut dia, masyarakat sedang mendambakan kondisi tertib lagi setelah puluhan tahun merasakan “mau seenaknya sendiri”. Karena itu masyarakat lebih peka terhadap perilaku serupa.

Meski demikian, Sunyoto tidak membenarkan cara penyampaian yang mereka lakukan. Sebab, hal tersebut disampaikan dengan cara kurang santun sehingga sering menimbulkan efek luar biasa pada penerimanya. Apalagi bullying yang dilakukan melalui medsos. Sebab, di medsos seseorang bisa berperilaku lebih bebas dari pada di dunia nyata lantaran identitas tidak diketahui. ”Padahal, kalau di dunia nyata, sopan santun dan agama masih sangat dijaga. Perkembangan media sosial ini memang perlu ditata kembali.” jelasnya. (mif)

Berita Terkait