Buku dan Game

Buku dan Game

  Kamis, 25 February 2016 09:28   1

Atiqa Nur Latifa H*

            TAK banyak orang yang menyadari bahwa buku adalah salah satu investasi masa depan. Bagi kebanyakan anak-anak dan remaja, buku hanyalah penunjang mereka mengerjakan tugas dari sekolah. Buku dinilai mahal dan tidak mengasyikan. Mereka lebih rela menghabiskan sekian ribu bahkan jutaan rupiah hanya untuk menyewa bahkan membeli alat permainan seperti playstation, psp atau aplikasi game berbayar melalui gadget. Lebih serunya lagi, game menciptakan ketagihan yang luar biasa.

Persamaan yang diciptakan oleh game dan buku adalah para penggila keduanya jika sudah kecanduan akan sulit diganggu oleh orang lain karena fokus pada kegiatannya dan juga menimbulkan kesenangan. Perbedaannya, jika penggila game semakin lama akan semakin mengikis keuangan orang tuanya untuk membayar kesenangan sementara, selain itu juga akan menurunkan fungsi memori, serta kurang tidur (Rahadi, 2013). Sedangkan penggila buku sebaliknya, semakin menggilai buku maka meningkatkan daya ingat, mengurangi resiko kepikunan, dan mengurangi resiko insomnia. Sebuah penelitian menujukkan pula bahwa anak-anak yang suka membaca karena kesenangan cenderung lebih baik dalam menguasai matematika dan bahasa Inggris ketimbang mereka yang jarang membaca (Sullivan, 2013).Di sini jelas terlihat manfaat diantara keduanya. Buku dapat menjadi investasi masa depan dan baik untuk kesehatan.

            Meski tahu manfaatnya, ada saja alasan demi alasan yang mereka lontarkan untuk menghindari mengenal dan mencintai buku. Membaca buku masih didasari oleh keterpaksaan karena ini dan itu. Tak jarang mereka berpikir lebih baik membeli makanan dari pada membeli buku karena makanan itu enak dan bisa dinikmati saat itu juga. Tetapi buku bisa menghasilkan apa? Memang jika kita membaca buku saat ini, hasilnya baru bisa dinikmati beberapa tahun kemudian. Itu sebabnya buku dikatakan sebagai investasi masa depan karena hasilnya tak dapat dirasakan saat itu juga layaknya makanan dan main game.

            Hitung-hitungan jumlah, lebih banyak yang membuka tempat usaha game ketimbang taman bacaan. Alasannya sederhana, karena memancing anak-anak untuk datang ke arena bermain lebih mudah dibandingkan mengajak mereka ke tempat bacaan. Tentu saja ini alasan utama pebisnis, menciptakan kebutuhan untuk menghasilkan. Dan hal tersebut diperparah oleh peran orang tua yang meng-iya-kan anak-anaknya untuk pergi bermain ke tempat game dan memodali mereka dengan uang jajan. Meskipun orang tua mampu memberikan hal tersebut (memberikan kesenangan) namun hal tersebut justru kurang mendidik dan memikirkan masa depan si anak kelak.

            Mengajak dan mengajari anak membaca buku bukan hal yang kejam atau tidak menyenangkan. Terkadang yang membuat anak merasa tidak tertarik adalah karena cara orang tua yang salah dan kurang menarik. Mengapa harus ‘memaksa” mereka untuk membaca jika bukan passion-nya (kegemaran) ? Tahan, jika pebisnis bisa menciptakan kebutuhan, mengapa orang tua tidak dapat menciptakan ketertarikan ? Pebisnis membutuhkan pengemasan yang rapi dan indah untuk menarik konsumennya, tak hanya itu untuk mendukung larisnya dagangan mereka, perlu tambahan pemasaran dan pengiklanan dengan orang-orang pilihan yang dinilai dapat mempengaruhi konsumen. Jika saja orang tua paham konsep tersebut, maka akan sangat mudah menciptakan ketertarikan membaca pada anak tentunya dengan konsep yang sama namun cara yang berbeda. Untuk yang menimbulkan minat baca dan bagaimana cara membaca yang baik terletak pada rasa ingin tahu yang tinggi. Untuk meningkatkan rasa ingin tahu maka harus dihadapkan kepada persoalan yang membuat penasaran dan segera ingin mengetahuinya. Bahkan yang tadinya terpaksa, akan menjadi terbiasa hingga passionterhadap membaca tercipta. Jika terlewatkan justru merasa ada yang kurang. Maxwell (2011) mengungkapkan empat hal mengenai passionyakni pertama, passion adalah langkah pertama menuju keberhasilan; kedua,passion meningkatkan daya kemampuan; ketiga, passion dapat mengubah kita dan; keempat,passion membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.

            Melekatnya kesan penggila buku sebagai kaum yang intelektual memiliki nilai tersendiri di tengah masyarakat. Tak jarang pula biasanya orang yang membaca buku lebih terkesan kaku dan serius. Pandangan tersebut tentu saja tidak sepenuhnya salah. Karena kebanyakan memang demikian, namun semua tergantung jenis bacaannya. Semakin luas ilmunya justru semakin bijaksana seseorang dalam berpikir dan merasa dirinya kecil. Lantas bagaimana dengan para penggila game ? Jika berpikir positif, mungkin saja kelak mereka menjadi game maker (pembuat permainan). Sebelum berhasil menciptakan permainan, tentunya harus memahami hal-hal apa saja yang diperlukan dan dikuasai agar mampu menciptakan sesuatu yang menghasilkan atau berguna. Bagaimana caranya ? Jawabnya tentu saja harus belajar dan membaca. Nah lagi-lagi membaca, mau jadi apapun di masa mendatang maka perlu membaca dan belajar bukan sekedar bermain kemudian bisa menjadi game maker.

Bicara gengsi, tak hanya kesan intelektual saja yang mampu diciptakan oleh mereka yang menggemari buku tetapi dapat terkesan elegan dan gaul ketika memasuki café dengan nuansa yang kekinian yakni dengan memadukan antara café danmini libraryyang dilengkapi fasilitas internet (wifi)dan alunan musik jazz. Tak jarang saat ini kita jumpai beberapa café yang menawarkan konsep tersebut. Pada umumnya, kebanyakan orang melakukan aktifitas membaca sembari menikmati secangkir kopi atau teh sebagai teman setia saat membaca. Dan saat membaca tentunya orang tak bisa “nyambi” ngobrol tetapi membutuhkan tempat yang cozy (menyenangkan) untuk sekedar menikmati bacaan maka alternatifnya selain di rumah adalah perpustakaan atau café. Inspirasi muncul di tempat yang membuat diri kita merasa nyaman dan tenang.

            Penjelasan di atas hanya sedikit gambaran untuk mengenali antara buku dan game yang menjadi kesukaan dan ketidaksukaan banyak orang. Mengenali dan memahami karakteristik keduanya dapat menjadi pertimbangan dan membuka pikiran kita untuk cenderung memilih yang lebih positif dan berguna sebagai modal kita untuk hidup lebih baik di masa mendatang. Sukses dan bahagia itu pilihan. Jika kita hanya berpikir tentang hari ini maka hari esok akan kita lewati dengan ketidakpastian. Berpikirlah hari esok maka hari ini kita akan berjuang menciptakan kepastian.

                                               

                                                                                                                        *Pegiat Literasi