Bukan Psikopat, tapi Antisosial

Bukan Psikopat, tapi Antisosial

  Jumat, 5 February 2016 08:22
Gambar dari Internet

Akhir-akhir ini orang kembali dihebohkan dengan kasus kematian Mirna. Diduga kematiannya itu dibunuh oleh sahabatnya sendiri, meskipun kasus ini masih belum pasti siapa pelakunya. Selain sianida, orang juga ramai membicarakan tentang psikopat. Sebenarnya apa psikopat itu? Oleh : Marsita Riandini

Psikopat sering digunakan oleh masyarakat awam terhadap pelaku pembunuhan yang ekspresi wajahnya tenang-tenang saja, padahal dia telah menghilangkan nyawa seseorang dan mampu memanipulasi keadaan sebenarnya. Entah apakah masyarakat paham dengan istilah tersebut, atau sekadar ikut-ikutan saja.

Namun, hal penting yang harus dipahami bahwa saat ini istilah psikopat sudah tidak lagi digunakan dalam dunia psikiater maupun psikologi. Demikian yang disampaikan oleh Jojor Putrini, Sp. KJ kepada For Her. “Psikopatologi itu istilah zaman dahulu. Tetapi seiring perkembangan ilmu pengetahuan, sudah lama istilah psikopat tidak lagi dipakai,” kata dokter di Rumah Sakit Mitra Medika Pontianak ini.

Kenapa? Sebab lanjut Jojor, psikopatologi diartikan sebagai seseorang yang psikologisnya memiliki patologi (kelainan yang kuat). Jadi semua gangguan jiwa dapat diartikan sebagai psikopatologi. “Psikopat itu istilah umum untuk semua gangguan kejiwaan. Zaman dulu memang, orang yang mengalami gangguan kepribadian dikatakan psikopat, sekarang penggunaan istilah itu tidak lagi tepat,” ucap dia.

Gangguan jiwa juga bermacam-macam, salah satunya adalah antisosial yang cocok untuk digunakan pada kasus tersebut dan menggantikan istilah psikopat yang umum digunakan oleh masyarakat awam. “Gangguan antisosial ini termasuk salah satu dari gangguan  kepribadian,” tambahnya. Orang yang antisosial, bisa dengan mudah menyakiti orang lain, bahkan menghilangkan nyawa seseorang. “Biasanya sejak kecil sudah ketahuan. Dia suka menyakiti dan membunuh binatang, suka bermain api atau hal-hal yang sangat berbahaya,” tambahnya.

Ketika seseorang tersebut sudah dewasa, perilaku tersebut semakin kuat. Ketika ada masalah, dia pun tak segan membunuh orang lain. “Dia merasa tidak bersalah, tidak ada penyesalan setelah membunuh, merasa tenang-tenang saja,” paparnya. Penyebab orang bisa menjadi antisosial, bisa karena pengaruh faktor keturunan, bisa pula karena memang mengalami gangguan jiwa masa kecil yang tidak segera terobati. “Contohnya anak yang mengalami hiperaktif sangat berat, punya sifat bandel, bolak balik dimarah dan dihukum. Jika penanganan dari lingkungannya salah, dia akan tumbuh menjadi anak yang antisosial,” kata dia.

Orang yang antisosial biasanya juga termasuk anak yang cerdas. Mereka suka hal-hal yang berbahaya. “Walaupun dia sudah cacat sekalipun, dia tidak jera melakukan perbuatan tersebut,” papar dia.  Menariknya, orang yang antisosial ini mampu menyembunyikan hal itu dari lingkungan. Dia bisa bersikap layaknya orang biasa. “Tetapi, kalau ahli kejiwaan, ataupun psikologi dia bisa tahu ketika melihat gelagat seseorang tersebut,” ungkapnya.

Ketika dia punya masalah, biasanya lebih suka menyimpannya sendiri. Tetapi ketika sudah bertindak, dia bisa melakukan hal yang sangat berbahaya. “Jika sudah melibatkan hukum, orang yang antisosial bisa keluar masuk kantor polisi. Bahkan jika sudah sampai divonis hukuman penjara, dia bisa menjadi orang yang residivis,” ulas Jojor.

Orang yang antisosial ini juga tak segan mengucapkan kata-kata yang tidak senonoh. Ini yang membuat lingkungannya menjadi tidak suka. Dia juga suka terlibat kekerasan fisik maupun verbal yang membuat orang tersinggung. “Dia tidak segan memukul, baik menggunakan benda tumpul maupun benda tajam,” pungkasnya. **