Bukan Perang Benar Salah

Bukan Perang Benar Salah

  Minggu, 24 April 2016 10:05

Berita Terkait

​Choose wisely, pilihlah dengan bijak. Pesan yang gencar dipromosikan Marvel itu menggambarkan perpecahan dalam film terbaru mereka, Captain America: Civil War. Tim Avengers terbelah. Pertarungan epik terjadi antara Team Cap melawan Team Iron. Menghadirkan hampir semua skuad superheronya, namun dengan tegas mereka menyebut ini bukan film Avengers 2.5.

---

Civil War membawa banyak misi. Begitu hal yang ingin disampaikan kakak beradik sutradara Joe dan Anthony Russo dalam karya terbaru mereka itu. Selain perselisihan dua kubu, mereka mengenalkan tiga anggota baru The Avengers. Yakni, Spider-Man (Tom Holland), Black Panther (Chadwick Boseman), dan Ant-Man (Paul Rudd). Villain baru juga dimunculkan, yakni Baron Zemo (Daniel Bruhl).

Civil War melanjutkan ending film kedua Avengers: Age of Ultron (2015). Pascainsiden penyelamatan di luar Amerika Serikat yang memakan banyak korban, geng pahlawan super tersebut mendapat kritik berat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Banyaknya korban sipil yang tewas dianggap tidak sepadan dengan kasus yang tengah diselesaikan Avengers.

Pemerintah lalu menyiapkan lembaga yang mengatur perlu atau tidaknya Avengers turun tangan dalam sebuah tragedi kekerasan. Ide tersebut membuat Avengers terbelah. Iron-Man pro, sedangkan Captain America memilih Avengers tetap bebas, tanpa interupsi.

’’Saya dan Anthony terinspirasi kondisi politik dan situasi sekarang. Kami menceritakan hal tersebut dalam bentuk film,’’ ucap Joe Russo dalam media junket Captain America: Civil War di Marina Bay Sands Convention Centre, Singapura, Kamis (21/4). 

Menurut Joe, dengan memasukkan elemen tersebut, cerita Civil War akan terasa nyambung dengan penonton. Terkait dengan empat karakter baru, Joe beranggapan perkenalan rombongan dalam satu film itu sebagai hal yang efektif. ’’Daripada mengenalkan mereka dalam film terpisah, ini lebih efisien. Fans bisa melihat perkembangan tokoh, karena ini universe, jagat raya yang saling terkait,’’ ucap sutradara berumur 45 tahun tersebut.

Menambahkan tokoh baru, namun Marvel juga menghilangkan dua member Avengers, yakni Thor dan Hulk. ’’Saya tidak akan memberi bocoran. Tapi, kalau melihat Age of Ultron dengan teliti, penonton bakal tahu. Mereka punya misi masing-masing,’’ lanjut pria yang mengawali karir sebagai sutradara serial komedi tersebut. 

Russo bersaudara juga memasukkan villain baru, yakni Baron Zemo. Namun, sosoknya tidak digambarkan secara utuh. Setelah proses syuting, Russo memilih menghilangkan sebagian cerita Zumo, termasuk menghilangkan karakter lain yang berkaitan dengan sosok bertopeng ungu tersebut. Karakter itu adalah Auctioneer yang diperankan aktor Indonesia Ray Sahetapy. ’’Kami memotong bagiannya. Sebab, setelah screening post production, menurut kami dan audiens, perkenalan Zemo terlalu kompleks,’’ ucap Joe. 

Namun, Joe memuji Ray sebagai aktor hebat yang punya potensi bakal kembali di serial Marvel Cinematic Universe (MCU) lainnya. ’’He’s such a great talent. Menyenangkan bekerja sama dengannya,’’ lanjutnya.

Menurunkan hampir semua superhero Avengers, Joe menegaskan bahwa Civil War tetap sebagai film solo ketiga Captain America. Bukan kelanjutan The Avengers. ’’Cerita tetap berpusat pada Captain America,’’ ujarnya.  

Joe menambahkan, film yang di Indonesia tayang mulai Rabu mendatang (27/4) itu merupakan pembuka perang yang lebih hebat. ’’Dampak dari Civil War bakal dibawa kembali di Infinity War,’’ imbuh Joe yang bersama Anthony juga akan menyutradarai Avengers: Infinity War Part 1 (2018) dan Part II (2019).

Meski berarti perang, tapi Captain America: Civil War tidak bisa diterjemahkan sebagai pertarungan melawan musuh jahat. Para pemain Civil War menyebut pertikaian itu sebagai konflik yang kompleks. Masa lalu dan emosi karakter mereka dieksplorasi dalam. Tidak heran, Robert Downey Jr –pemeran Iron-Man– menyatakan, Civil War adalah film superhero yang sangat manusiawi. ’’Pertarungan ini bukan soal benar atau salah,’’ ujar Chris Evans, pemeran Captain America. ’’Ini pertarungan tentang sudut pandang antarteman,’’ imbuhnya. 

Russo berharap filmnya tidak hanya memukau penonton untuk sesaat. ’’Saya ingin penonton pulang membawa sesuatu. Mereka berdebat, berdiskusi tentang siapa sebetulnya yang protagonis dan yang antagonis. Semua tergantung masing-masing orang,’’ ucapnya. (*)

Berita Terkait