Bukan Hanya Tiki-Taka

Bukan Hanya Tiki-Taka

  Senin, 27 June 2016 09:30

Berita Terkait

SAINT-DENIS – Gazzetta dello Sport dengan konfiden menuliskan “Italia A Tutto Gas” di dalam judul headline-nya, kemarin WIB (26/6). Sama konfidennya dengan publik Italia begitu melihat performa Gli Azzurri – julukan Italia – dari tiga pertandingan selama fase grup E. Artinya, Italia sudah saatnya untuk tancap gas dalam fase 16 Besar. 

Lupakan kekalahan 0-1 atas Republik Irlandia di dalam laga terakhir fase grup, Kamis dini hari lalu WIB (23/6) di Stade Pierre-Mauroy, Villeneuve-d'Ascq. Pasalnya selain hanya memainkan barisan pemain pelapisnya, performa Gianluigi Buffon dkk dalam dua laga fase grup pertamanya dinilai sudah memenuhi ekspektasi. 

Dengan formasi 3-5-2 yang diusungnya, Antonio Conte membawa Italia mengalahkan Belgia 3-0 (14/6) dan Swedia 1-0 (17/6). Strategi serangan balik yang kemudian membuat Italia memiliki naluri membunuh. Dan malam nanti WIB konfidensi itulah yang berpotensi merusak mimpi Spanyol menjadi pemilik trofi Henry Delaunay untuk ketiga kalinya secara beruntun. 

Final kepagian tersebut akan terjadi di Stade de France, Saint-Denis. Bisakah Spanyol meredam serangan balik Italia itu? ''Ya, saya yakin. Kami pasti mampu melakukannya. Kekalahan kemarin hanya karena kami over konfiden saja (saat dikalahkan Kroasia, Red). Lawan Italia, jangan ada lagi kesalahan itu,'' ucap bek kanan Spanyol, Juanfran, dikutip dari Football Espana. 

Ya, La Furia Roja – julukan Spanyol – menatap Italia dengan bayang-bayang petaka di Nouveau Stade de Bordeaux, Bordeaux, 22 Juni lalu, ketika ditumbangkan Kroasia dalam laga pemungkasnya di fase grup D.Xavi Hernandez dalam analisisnya di Football Italia menyebut formasi 3-5-2 Italia lebih kompleks. Saat menyerang, dua sayapnya ikut naik membantu serangan. Dan, begitu bertahan maka bakal ada tembok kokoh berisi lima pemain di belakang Italia. 

Tiga pemain belakang dari trio BBC Andtea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini, plus dua sisi sayap yang kemungkinan diisi Alessio Florenzi dan Matteo Darmian. Florenzi dimasukkan untuk mengisi posisi Antonio Candreva yang absen karena cedera hamstring. ''Spanyol bakal kesulitan jika melakukan pressing seperti yang biasa mereka lakukan,'' ungkap mantan pemain Barcelona itu. 

Whoscored mencatat, trio BBC dan kedua sisi sayap Italia mempunyai kemampuan jempolan di dalam melakukan serangan balik. Trio BBC melakukan lebih dari lima kali intersep selama Euro 2016 ini. Angka itu sudah menjadi catatan terbaik di Italia. Jumlah passing-nya pun melebihi pemain-pemain di posisi lainnya. Minimal 107 kali passing per laga. 

''Italia pasti langsung menekan pertahanan kami sejak menit pertama,'' ucap gelandang Spanyol Cesc Fabregas dalam sebuah wawancara eksklusifnya dengan Marca. Karena itu, Spanyol butuh lebih dari permainan tiki taka. Dilaporkan, pelatih Vicente Del Bosque sudah punya game plan membongkar trio BBC. 

Skenarionya, jika pressing Italia naik maka Spanyol bisa bertahan dengan lima pemain. Lalu, di posisi Busquets bisa ditutup Koke. Sebaliknya ketika menyerang balik maka Koke dengan set piece-set piece-nya bisa berfungsi. Karena itulah  beberapa waktu lalu Del Bosque berujar akan menjajal pemain Atletico Madrid itu dalam laga lawan Italia. 

''Ayo kita kembali ke performa terbaik. Karena Italia tidak akan berhenti berlari dan mereka pun tidak akan lelah berduel memperebutkan bola,'' kata pemain Chelsea itu. Sementara, secara terpisah Del Bosque dalam wawancara kepada AS menolak jika Italia dikatakan sebagai tim yang hanya bagus saat bertahan. 

Del Bosque sepakat dengan kata-kata Xavi, Italia memang separo Barcelona dan separo Atletico Madrid. ''Sekarang permainan mereka lebih direct ketimbang 2012 lalu (ketika bersua dalam final Euro 2012). Bermain bertahan hanya labelnya saja,'' ungkap pelatih yang meninggalkan kursi entrenador di timnas Spanyol pasca Euro ini. 

Spanyol tidak layak waswas seperti ini. Karena yang semestinya harus waswas itu Italia. Dalam 16 tahun terakhir Spanyol-lah batu ganjalan terberat dalam beberapa major tournament terakhit. Sejak perempat final Piala Dunia 1994, Italia selalu terhenti langkahnya saat dihadapkan dengan Spanyol di tiga major tournament. 

Terkait dengan kutukan bernama Spanyol itu, Conte mengaku tidak gentar. ''Kenapa kami mesti takut?,'' sebut mantan pelatih Juventus tersebut sebagaimana dikutip dari ESPN. ''Kalian bilang Spanyol itu tim favorit? Jangan lupa dari mana kami berasal, kami Italia dan kami akan melakukan cara apa pun untuk mengalahkan mereka,'' tegasnya. (ren)

Liputan Khusus: 

Berita Terkait