Budidaya Lele Terbuka

Budidaya Lele Terbuka

  Sabtu, 25 June 2016 09:48
LOLOS: Ikan lele yang lolos ke jalan saat musim banjir beberapa waktu lalu. Ikan, beraneka jenis masuk dalam golongan catfish ini cukup familiar dengan masyarakat serta mudah dibudidayakan. ISTIMEWA

Berita Terkait

PUTUSSIBAU — Budidaya ikan lele di bumi uncak kapuas masih sangat minim, merupakan peluang usaha baru bagi masyarakat.Mengingat pertumbuhan pemukiman dan penduduk di daerah ini cukup pesat yang disertai banyaknya warung pecal lele disejumlah tempat. Karenanya dinas perikanan Kapuas Hulu akan terapkan hasil studi banding di Karang Anyer Jateng tentang usaha budidaya ikan.

“Beberapa waktu lalu staf saya ada studi banding ke Karang Anyer Jateng, terkait budi daya ikan. Dan saya minta mereka presentasikan hasil study banding itu kepada staf lainnya yang tidak berangkat,” terang Rismawati, Kadis Perikanan Kapuas Hulu, Kamis (23/6) siang. Dia mengatakan staf yang study banding  tersebut ada enam orang dan mereka diminta untuk membagi ilmunya pada staf yang lain.

Dari hasil yang dipaparkan, kata Risma, berbagai jenis usaha budi daya yang cocok dikembangkan di kapuas hulu, sepertinya hanya budi daya lele. Karena sesuai dengan karakteristik daerah kapuas hulu dan perluang terbut masih terbuka lebar. Selain membagi ilmu dari hasil study banding. Juga untuk mengajarkan pegawai berani tampil. Sebab, semua bidang, menganggarkan program masing-masing.

Dikatakannya, budidaya lele dengan sistem air tertutup dan adopsi sistem bioflok sederhana tak hanya mampu menekan biaya pakan. Tetapi juga meningkatkan kepadatan tebar dan menurunkan biaya produksi benih. Masing-masing biflok (gorong-gorong) bisa menampung 200-500 ekor lele.

“Sistem bioflok biayanya tak mahal dan tak memerlukan tempat yang luas, sangat efektif,” jelasnya.

Dia mengatakan, di kapuas hulu masyarakay yang membudidaya lele masih sangat minim, sementara peluangnya sangat besar. “Untuk peluang budidaya lele sangat bagus, cuma belum sebesar di pulau jawa. Disini masyarakat masih identik dengan mitos,” paparnya. Dia mengatakan, banyak masyarakat enggan konsumsi lele karena mitos, padahal kandungan gizi lele itu sangat tinggi.

Risma menjelaskan, gorong-gorong yang bisa digunakan berdiameter 40–50 cm dengan panjang melebihi tinggi air kolam. Tabung diletakkan vertikal dan ujung lubang bagian atas yang berada di atas permukaan air ditutup. Dengan sistem ini, akan sangat efektif. Apalagi dengan sistem biflok ini bahan yang pakai tahan lama. “Sistem bioflok budidaya lele cocok di Kapuas Hulu ini,” ucapnya.(aan)

Berita Terkait